Cek Dam Tukuman, Kecamatan Cawas, Klaten menjadi pintu air di Kali Dengkeng yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo. Tinggi muka air Kali Dengkeng dinilai masih berada pada ambang normal. Foto diambil Kamis (24/1/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sangat berharap proaktif dari pengusaha agar membantu memperbaiki kerusakan tebing di Sungai Dengkeng, Klaten, di waktu mendatang.

Peran serta para pengusaha dalam menangani kerusakan tebing di sungai sangat diharapkan menyusul cupetnya anggaran yang dimiliki BBWSBS.

Demikian penjelasan Kepala BBWSBS, Charisal A., Manu, saat ditemui wartawan di kawasan Rawa Jombor Klaten, Kamis (4/4/2019). Sejauh ini, BBWSBS mengakui jumlah tebing yang rusak di Sungai Dengkeng sangat banyak.

“Perbaikan infrastruktur, berupa konstruksi permanen memang membutuhkan dana yang besar. Saya tak hanya bicara Sungai Dengkeng, tapi semua sungai yang kami tangani. Seperti yang sudah dilakukan di Sungai Bengawan Solo, perbaikan permanen sepanjang 5,8 kilometer membutuhkan Rp120 miliar,” katanya.

Charisal A., Manu mengatakan persoalan kerusakan tebing di sungai disebabkan beberapa hal. Di antaranya faktor alam berupa curah hujan tinggi sehingga tebing sungai gampang longsor lantaran tak mampu menahan derasnya arus air. Di samping itu, kerusakan tebing di sungai juga disebabkan perilaku manusia, seperti membuang sampah sembarangan di sungai dan mendirikan bangunan di dekat sungai.

“Permasalahannya memang rumit dan kompleks. Kami butuh peran serta bersama. Saya terima kasih sekali adanya komunitas atau sukarelawan di Klaten yang begitu peduli dengan sungai. Dengan adanya komunitas itu, kami bisa memperbaiki kerusakan di luar target. Ketika kami mematok perbaikan sepanjang 100 meter. Berawal dari dukungan komunitas itu, dapat memperbaiki hingga 200 meter. Semangat seperti ini harus terus dikembangkan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Charisal A., Manu, meminta peran pengusaha agar mengulurkan tangannya guna mengatasi persoalan di sungai. Melalui program corporate social responsibility (CSR) yang dimiliki di setiap perusahaan, diharapkan pengusaha dapat memberi andil untuk pelestarian sungai.

“Sungai yang saya tangani 700 kilometer [Sungai Bengawan Solo] bermula dari Wonogiri-Gresik. Sungai itu melintasi 23 kabupaten/kota. Dari panjang itu, yang tertangani dengan konstruksi tebing secara permanen, baik jangka panjang, menengah, dan pendek, baru separuhnya. Potensi masyarakat sudah bagus. Ke depan, kami mendorong pengusaha dapat berkontribusi. Misal tiap tahun bisa 100 meter per pengusaha, bayangkan sudah berapa meter yang tertangani setiap tahunnya. Sehingga, penanganan tebing sungai yang rusak cepat tertangani,” katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Yuwana Haris, mengatakan tebing dalam kondisi kritis di Sungai Dengkeng terjadi di 40-an lokasi. Jumlah itu tersebar di 32 desa di delapan kecamatan. Masing-masing kecamatan, seperti Prambanan, Gantiwarno, Wedi, Bayat, Trucuk, Cawas, Juwiring, dan Wonosari.

“Kewenangan Sungai Dengkeng yang menjadi anak Sungai Bengawan Solo berada di BBWSBS. Kami sudah mengirimkan data kerusakan tebing di Sungai Dengkeng itu ke BBWSBS. Pendataan itu melibatkan sukarelawan, pemerintah desa (pemdes), dan pemerintah kecamatan di sepanjang aliran Sungai Dengkeng,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten