Gara-Gara Pesta Pernikahan, Gelombang Kedua Covid-19 Iran Lebih Parah
Ilustrasi Covid-19 (freepik)

Solopos.com, TEHERAN – Iran menjadi negara pertama yang menghadapi gelombang kedua wabah virus corona Covid-19. Iran bahkan menghadapi kasus harian tertinggi, bahkan lebih tinggi dari kasus harian pada wabah gelombang pertama.

Gejala Pasien Covid-19 di Iran Tak Sama dengan Wuhan

Pemerintah Iran melaporkan terjadinya gelombang kedua wabah Covid-19 setelah melonggarkan aturan lockdown pada pertengahan April saat kasus baru Covid-19 berkurang.

Dilansir Dailymail, Minggu (7/6/2020), jumlah kasus baru infeksi Covid-19 pada Rabu ini meningkat dari jumlah kasus terbanyak sebelumnya yaitu 3.186 kasus pada 30 Maret 2020. Parahnya, kasus baru Covid-19 mulai bertambah lagi sejak awal Mei dan tercatat sebanyak 3.000-an kasus baru per hari berturut-turut pada pekan lalu.

Jumlah kasus baru Covid-19 ini terjadi seiring pembukaan kembali fasilitas publik seperti gym dan kantor bisnis. Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan salah satu penyebab dari puncak epidemi ini adalah sebuah perayaan pesta pernikahan.

Miris, Tingkat Kematian Covid-19 di Indonesia Lampaui China dan Iran

"Di satu lokasi, kami menyaksikan puncak epidemi ini, yang sumbernya adalah pernikahan yang menyebabkan masalah bagi orang-orang, pekerja kesehatan, dan kerugian bagi ekonomi dan sistem kesehatan negara itu," kata Rouhani.

Rouhani tak mengatakan kapan dan dimana pernikahan itu berlangsung. Jumlah kasus baru merosot ke 2.269 pada Sabtu, (6/6/2020), menjadikan total kasus Iran mencapai 169.425 dengan 8.209 kematian.

Gelombang Kedua Lebih Parah

Pejabat kesehatan telah memperingatkan tentang gelombang kedua wabah. Tetapi mengatakan alasan di balik lonjakan kasus baru mungkin butuh pengujian yang lebih luas.

Seorang pejabat mengatakan sekitar 70 persen dari kasus baru di Teheran termasuk di antara mereka yang telah bepergian ke luar Ibu Kota dalam beberapa hari terakhir.

2 Pedagang Positif Covid-19, Pasar Mangkang Semarang Ditutup

Iran telah berjuang untuk menekan penyebaran Covid-19. Tapi pihak berwenang khawatir bahwa langkah-langkah untuk membatasi kehidupan publik dapat merusak ekonomi yang sudah terguncang akibat sanksi internasional.

"Dalam keadaan ini, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus bekerja, pabrik kita harus aktif, toko kita harus terbuka, dan harus ada pergerakan di negara sejauh yang diperlukan," pungkas Rouhani.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom