Gapura Papahan Bukti Eksistensi Jepang di Karanganyar
Situasi Jl. Solo - Tawangmangu tempat beradanya Gapura Papahan, Sabtu (27/2/2021). (Solopos.com-Candra Putra Mantovani)

Solopos.com, KARANGANYAR — Gapura Papahan merupakan salah satu bangunan yang diusulkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar menjadi benda cagar budaya (BCB) tingkat kabupaten. Tak banyak yang tahu, gapura di pinggir Jl. Solo-Tawangamangu tersebut menyimpan sejarah dari era penjajahan Jepang.

Gapura Papahan diketahui secara spesifik berada di perempatan Desa Papahan, Tasikmadu, Karangnayar dengan ketinggian elevasi 149 mdpl. Pada struktur bangunan tersebut, berdasarkan pengkajian dari tim ahli cagar budaya (TACB) Sragen diketahui menyimpan makna dalam.

Baca Juga: Peluang Bisnis Tanaman Hias di Mal Terbuka

Kabid Budaya Disdikbud Karanganyar, Sawaldi, mengatakan melalui laporan hasil kajian belum diketahui secara pasti latar belakang pemberian nama Papahan tersebut. Namun, menurutnya sebagian warga setempat meyakini Papahan erat namanya dengan kata papah yang berarti batang pohon.

Saat kerajaan Islam berkembang, diyakini para raja dan abdi dalem Keraton Surakarta sering beristirahat di sebelah selatan Papahan saat mengunjungi Karanganyar.“Gapura ini awalnya merupakan pintu gerbang depan masuk ke wilayah kawasan pabrik. Lokasinya berada di lingkungan perkotaan atau batas kota,” jelas Sawaldi kepada Solopos.com belum lama ini.

Dibangun Sekitar 1942

Sawaldi mengatakan Gapura Papahan merupakan bangunan peninggalan masa pendudukan Jepang saat pemerintahan Mangkunegara VII di Karanganyar. Menurut keterangan warga setempat dan saksi hidup, Gapura Papahan diperkirakan dibangun ketika Jepang memasuki Jawa sekitar tahun 1942.

Gapura Papahan dibangun menyerupai bentuk pagoda di Jepang dengan ciri khas elemen atap yang melengkung pada setiap tingkat dan terdapat sorin (bagian puncak pagoda Jepang). “Adanya unsur tersebut menunjukan kalau Jepang ingin menunjukan eksistensinya di kawasan tersebut. Utamanya karena kawasan tersebut merupakan akses masuk menuju pabrik gula Tasikmadu yang merupakan pusat kegiatan ekonomi pada masa kolonial,” ungkap dia.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom