Ganti Rugi Lahan Terdampak Tol Solo-Jogja di Klaten Dibayar Awal 2021
Petugas pengukuran jalan tol Solo-Jogja merampungkan pekerjaannya di Kranggan, Polanharjo, Klaten, Kamis (6/8/2020). (Solopos.com-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN – Pembangunan jalan tol Solo-Jogja berlanjut ke tahapan pematokan pada lahan yang bakal dilintasi jalan tol, keluarnya penetapan lokasi (penlok), pendataan, penilaian, hingga pembayaran ganti kerugian kepada warga terdampak.

Sedangkan, tahapan sosialisasi dan konsultasi publik pengadaan tanah untuk tol Solo-Jogja di Klaten rampung pada Selasa (25/8/2020). Kali terakhir sosialisasi terkait tol itu dilakukan di wilayah Kecamatan Prambanan.

Daerah terdampak proyek pembangunan jalan tol Solo-Jogja di Prambanan yakni Desa Joho, Kebondalem Lor, dan Kokosan.

“Sosialisasi dan konsultasi publik berjalan lancar tidak ada kendala dan warga relatif mendukung untuk pembangunannya,” kata Staf Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Solo-Jogja, Hernendy Setiawan, saat ditemui di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Selasa.

Pembunuhan Sukoharjo : 2 Hari Sebelum Dibunuh, Handa Istri Suranto Rayakan Ultah di Janti

Seusai sosialisasi dan konsultasi publik rampung, PPK bakal melanjutkan pematokan daerah-daerah yang dilintasi jalan tol Solo-Jogja.

Pematokan sebelumnya sudah dilakukan di wilayah Kecamatan Delanggu serta Polanharjo dan bakal dilanjutkan hingga ke wilayah Kecamatan Prambanan. Selain pematokan, kelanjutan pengadaan tanah menunggu keluarnya izin penetapan lokasi (Penlok) dari Gubernur Jawa Tengah (Jateng).

“Setelah ini selesai kami laporan ke pemprov kalau sosialisasi dan konsultasi publik sudah dilaksanakan. Tinggal menunggu keluarnya penlok,” urai Nendy, panggilan akrabnya.

Tak Bisa Dilakukan Transaksi Jual Beli

Izin penlok ditargetkan keluar pada September mendatang. Setelah penlok turun, lahan yang bakal digunakan untuk pembangunan tol Solo-Jogja dikunci alias tak bisa dilakukan transaksi jual-beli.

“Intinya setelah penlok turun, pemilik tanah sudah tidak bisa lagi menjual tanah mereka. Ini untuk menghindari makelar atau broker tanah yang akan memanfaatkan situasi ini,” ungkap dia.

Bantuan Turun Jadi Rp300.000/bulan, Ini Tanggapan Penerima BST di Wonogiri

Setelah ada penlok, Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan pendataan dan pengukuran bidang tanah yang bakal dilintasi jalan tol.

“Setelah ada data nominatif yang dikeluarkan BPN meliputi bidang tanah, tanaman, bangunan, dan lain-lain, tim appraisal melakukan penilaian [penghitungan ganti kerugian],” kata Nendy.

Soal target pembayaran ganti kerugian kepada pemilik bidang terdampak proyek tol, Nendy memperkirakan pada awal 2021 mendatang.

“Estimasi kami pada awal 2021 antara Januari-Februari 2021 sudah ada pembayaran ganti kerugian ke rekening masing-masing. Kami pastikan tidak ada pemotongan dana yang dibayarkan,” jelas dia.

Melewati 50 Desa di 11 Kecamatan

Sebagai informasi, jalan tol Solo-Jogja di Klaten bakal melewati 50 desa di 11 kecamatan. Lahan paling luas di Klaten diperkirakan terdampak proyek tol yakni di Desa Joton, Kecamatan Jogonalan seluas 335.649 meter persegi.

Fakta Baru! Pelaku dalam Kondisi Sadar Saat Habisi Keluarga Suranto

Kemudian di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo seluas 328.791 meter persegi dan Desa Kahuman, Kecamatan Polanharjo seluas 315.821 meter persegi.

Di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, ada sekitar 79 bidang dengan total luas 104.238 meter persegi terdampak proyek pembangunan jalan tol. Bidang-bidang itu diantaranya sawah, permukiman, jalan, hingga saluran air.

Kepala Desa (Kades) Joho, Yulis Tanto, mengatakan pada permukiman ada dua wilayah RT yang dilewati jalan tol yakni di RT 007, Dukuh Potronalan dan RT 011, Dukuh Sidoroto. Pada permukiman itu, ada sekitar 50 rumah yang terancam dilewati jalan tol.

“Untuk warga relatif kondusif. Kalau boleh memilih sebenarnya warga tidak ingin rumah mereka kena. Tetapi karena ini sudah menjadi proyek strategis nasional, warga juga mau tidak mau merelakan tanah mereka,” kata Yulis Tanto.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom