Tutup Iklan -->
Ganjar: Banyak Sekolah Langgar Aturan 20% Siswa Miskin
ubernur Jateng Ganjar Pranowo memantau langsung perekaman data KTP elektronik (e-KTP) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). (Antara-Wisnu Adhi)

Solopos.com, SRAGEN — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melihat fakta banyak sekolah, khususnya SMA dan SMK yang melanggar ketentuan siswa miskin minimal 20% sesuai dengan aturan di Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Atas dasar itulah Ganjar memberlakukan beasiswa bagi siswa miskin minimal 20% pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019.

Penjelasan tersebut disampaikan Ganjar Pranowo saat ditemui Solopos.com seusai menghadiri Sragen University Expo 2019 di Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS) Sragen, Sabtu (27/1/2019). Ganjar menyampaikan peraturan PPDB direvisi dengan menghapus surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan memberi beasiswa kepada siswa miskin.

“Mereka [calon siswa baru] berkompetisi dan menyiapkan diri dengan baik. Silakan bersaing secara terbuka! Zonasi kami atur ulang. Setiap zona harus menerima 90% siswa dari sekolah di zona itu. Sisanya yang 5% diberikan kepada mereka yang mau pindah zona dan 5% lainnya dari siswa di luar zona. Kami masih membuka ruang bagi mereka yang mengikuti orang tuanya atau pindah atau alasan yang lain,” ujar Ganjar.

Ganjar menjelaskan bagi siswa miskin diberi beasiswa yang berasal dari APBD provinsi dan APBN. Dia menyampaikan UU mengamanatkan beasiswa itu diberikan kepada siswa miskin minimal 20% per sekolah. Artinya, Ganjar menekankan sekolah harus menerima siswa miskin minimal 20%.

“Justru karena minimal ini banyak sekolah yang melanggar. Faktanya, banyak sekolah yang jumlah siswa miskinnya kurang dari 20%. Itu kan melanggar [UU]. Makanya kami meminta izin ke Pak Menteri [Menteri Pendidikan dan Kebudayaan] supaya ketentuan minimal 20% itu harus terpenuhi. Kalau tidak tercapai karena kondisi dan situasi masyarakatnya mestinya tidak menjadi pelanggaran,” jelasnya.

Saat datang ke Gedung SMS Sragen, Ganjar sempat ditanya salah seorang siswa SMAN 1 Sragen, Bintang Nur Jannah. “Dulu katanya kalau masuk SMA ada zonasi. Zona I 50%, zona II 40%, dan zina III 10%. Temanku itu masuk di zona II tetapi tetap tidak diterima. Tujuan zonasi itu sebenarnya apa, Pak?” tanyanya.

Ganjar menjelaskan ketentuan zonasi pada PPDB 2019 sudah berubah, yakni 90% di zona tersebut dan SKTM dihapus. Dia menyampaikan pada 2018 lalu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencoret 78.000 SKTM bodong. “Dengan ketentuan 90% itu biar sekolah anak-anak dekat. Kita itu bangsa kreatif. Kalau pengen masuk di sekolah tertentu bisa pindah KK. Sudah pokoknya belajar dan berdoa,” pesannya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho