Gandeng LVMH, Rihanna Luncurkan Label Fesyen Fenty

 Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, JAKARTA – Penyanyi Rihanna meluncurkan label fesyen menggadeng LVMH. Perusahaan mode raksasa asal Prancis itu menaungi Louis Vuitton, Dior, Fendy, Givenchy, Kenzo, Marc Jacobs, Celeny, Bvlgari, Hublot, Tag Heur, dan lainya.

Rihana akan mengusung label Fenty, yang diambil dari namanya, Robyn Rihanna Fenty. Lewat merek itu, Rihanna menghadirkan beragam busana ready to wear, sepatu, dan beragam aksesori. “Fesyen yang kuangkat berbeda dan non-tradisional,” ungkapnya dikutip dari Reuters.

Lewat Fenty, Rihanna berharap membawa visi mode baru. Fenty pun menjadi label fashion pertama yang dibangun dari nol sejak LVMH berdiri. Group brand ternama dari Prancis ini telah semakin mengeksploitasi kolaborasi dengan selebriti serta desainer pakaian, khususnya untuk menarik pelanggan muda barang-barang mewah.

Berbeda dengan merek LVMH lainnya, produk Fenty akan dijual dengan harga lebih rendah, berkisar antara 600 euro (US$669,18) hingga 800 euro untuk satu gaun, 500 euro untuk sandal, dan 300 euro untuk perhiasan kostum.


Berita Terkait

Berita Terkini

Mahasiswa UIN R.M. Said Belajar Konvergensi Media di Solopos

Sebanyak 125 mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN R.M. Said Surakarta mengadakan wisata literasi tentang konvergesi media di Harian Umum Solopos

Mustakim Pesilat Klaten 11 Jam Lari Tuntaskan Nazar, Ini Foto-Fotonya

Mustakim merupakan atlet pencak silat yang berhasil menyumbangkan medali emas untuk Jawa Tengah pada PON XX Papua

Jebakan Pinjaman Online Meresahkan Pelaku UMKM

Praktik pinjaman yang menjebak bukan hanya dilakukan pinjaman online ilegal, tapi juga oleh sebagian fintech peer-to-peer (P2P) lending resmi di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan.

10 Berita Terpopuler: Mustakim Lari Salatiga-Klaten, Klaster PTM Solo

Kabar tentang Khoirudin Mustakim, yang berlari sekitar 58 kilometer (km) dari Salatiga hingga rumahnya di Klaten menjadi berita terpopuler di Solopos.com.

Waduk Pidekso Wonogiri Diklaim Tahan Gempa Megathrust

Waduk Pidekso di Giriwoyo, Wonogiri, diklaim tahan gempa megathrust karena fondasinya tidak dibangun dengan beton.

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang Dua Pekan, 9 Daerah Level 1

Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis level di Jawa-Bali hingga dua pekan ke depan.

Sst.. Ada Jembatan 'Siluman' di Cianjur, Ini Penampakannya

Jembatan Leuwi Dahu di Kampung Cibitung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dijuluki sebagai jembatan 'siluman'.

Aturan Baru PPKM Cek, Berlaku Mulai Hari Ini!

Pemerintah menyesuaikan beberapa aturan terkait PPKM brlevel yang diterapkan di Jawa-Bali untuk menekan laju persebaran Covid-19.

Sedih! SKTM Ditolak, Pasutri di Brebes Tak Bisa Ambil Bayi di RS

Kisah sedih dialami keluarga di Brebes yang tidak bisa membawa pulang bayinya dari rumah sakit setelah pengajuan SKTM ditolak.

Permintaan Pengepul Anjlok, Ikan Nila Boyolali Dijual Siap Santap

Para pembudidaya ikan nila di Boyolali berinovasi dengan menjual nila hasil olahan yang siap santap demi mempertahankan bisnis.

Prediksi PSG Pati Vs PSIM : Laskar Mataram Waspadai Debut Joko Susilo

PSIM Yogyakarta bakal menjamu PSG Pati dalam lanjutan pekan keempat Liga 2 di Stadion Manahan pada Selasa (19/10/2021) pukul 15.15 WIB.

Pesona Waduk Pidekso Wonogiri: Sarana Irigasi hingga Wisata Air

Waduk Pidekso di wilayah Giriwoyo, Wonogiri, menjadi solusi air bersih di bagian selatan dan berpotensi menjadi objek wisata.

11 Jam Tuntaskan Nazar Lari Salatiga-Klaten, Mustakim Sujud Syukur

Khoirudin Mustakim, pesilat peraih medali emas PON XX Papua asal Klaten, Jawa Tengah (Jateng) menuntaskan nazar berlari dari Salatiga-Klaten.

Museum Purba Klaster Dayu Karanganyar Sudah Dibuka Lur

Objek wisata Museum Purba Dayu di Karanganyar kembali dibuka untuk pengunjung mulai 16 Oktober 2021.

Rugi Bandar! Sawah di Sragen, Grobogan & Rembang Menyusut Jadi Industri

Sawah lahan pertanian produktif di wilayah Sragen, Grobogan, serta Rembang terus menyusut beralih menjadi kawasan industri.