Galang Tanda Tangan, Warga Kalimacan Minta Perlintasan KA Siboto Sragen Dibuka
Dua orang warga membopong pocong di antara dua nisan di depan Perlintasan Siboto, Kalimacan, Kalijambe, Sragen, Minggu (17/1/2021). (Istimewa/warga Siboto)

Solopos.com, SRAGEN — Seratusan warga dari enam dukuh di wilayah Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, menggelar aksi penggalangan tanda tangan di perlintasan kereta api (KA) Siboto yang masih diportal permanen, Minggu (17/1/2021).

Aksi itu dilakukan saat warga bekerja bakti di jalur alternatif yang menghubungkan Desa Trobayan, Keden, Wonorejo, hingga wilayah Kabupaten Boyolali.

Warga memasang spanduk berisi dukungan tanda tangan pembukaan portal perlintasan KA di JPL. No. 158 km 76+270 Siboto, Kalimacan, Kalijambe. Setidaknya ada enam spanduk yang dipasang warga, yakni empat sepanduk di pinggir Jl. Solo-Purwodadi, dan dua spanduk lainnya di depan akses masuk ke wilayah Dukuh Siboto.

Geger Ramalan Mbak You Soal Jokowi Lengser 2021, Ini Penjelasannya

Spanduk itu berukuran panjang 5 meter dan lebar 1 meter. Selain spanduk, mereka juga memasang baliho berukuran besar di sebelah timur perlintasan KA Siboto tersebut.

Mereka juga menggelar aksi teatrikal dengan membawa pocong dan dua buah nisan yang sudah ditaburi bunga. Pocong dan nisan itu merupakan simbol atas kematian hati nurani karena warga wilayah Siboto dan sekitarnya yang tidak bersalah terkena imbas penutupan jalur utama ke permukiman. Spanduk itu dibubuhi tanda tangan warga yang terdampak langsung pemasangan portal di perlintasan KA Siboto.

“Ada dua kebayanan yang terdampak langsung. Kebayanan II yang meliputi Dukuh Siboto, Kalimacan, Unggul. Kemudian wilayah Kebayanan III meliputi Dukuh Malangan dengan dua RT dan Dukuh Plosorejo ada tiga RT. Secara keseluruhan 14 RT di Desa Kalimacan terdampak semua. Yang paling mengkhawatirkan adanya lima sekolah yang ikut terdampak atas penutupan perlintasan KA itu,” ujar Koordinator Tim Pembukaan Portal Siboto, Kalimacan, Kalijambe, Sragen, Udin Fathurahman, saat dihubungi Solopos.com, Minggu siang.

Artis Farida Pasha Pemeran Mak Lampir Meninggal Kena Covid-19

Ditutup Sepihak

Udin menjelaskan penutupan perlintasan KA Siboto dengan portal besi secara sepihak oleh pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu merugikan warga. Sebab perlintasan itu menjadi akses utama bagi warga.

Udin menjelaskan warga sudah berkirim surat ke Bupati Sragen agar portal perlintasan KA tersebut dibuka.

“Informasinya surat kami sudah sampai ke Ditjen Perkeretaapian di Jakarta. Atas dasar itulah kami warga dari dua kebayanan melakukan aksi simpatik dengan menggalang tanda tangan dukungan untuk pembukaan portal tersebut. Ada seratusan warga yang ikut tanda tangan, baik bapak-bapak atau pun ibu-ibu,” ujarnya.

Tinggal di Hutan Tanpa Listrik, Rumah Keluarga di Sragen Ini Cuma Punya 1 Ruangan

Dia mengatakan para warga yang lewat di Jl, Solo-Purwodadi juga ikut bergabung membubuhkan tanda tangan. Dia mengatakan meskipun aksi bersama, warga tetap memberlakukan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19. Dia menyampaikan warga yang terdampak di Desa Kalimacan itu ada 2.000 kepala keluarga atau 3.150 jiwa.

“Selain itu ada lima sekolah yang terdampak juga, yakni MTsN 8 Sragen, SD Muhammadiyah Kalimacan, TK Aisyiyah 1 Siboto, PAUD Al Hikmah, TPQ Al Muballighiin, dan Ponpes Ainul Hidayah. Para siswa dan santri dari lembaga pendidikan itu bisa mencapai 1.000 orang. Kami siap berjaga swadaya 24 jam bila perlintasan ini dibuka,” ujarnya.

MTs N 8 Sragen

Terpisah, Kepala MTsN 8 Sragen, Muawanatul Badriyah, menambahkan sekolahnya terkena dampak atas penutupan perlintasan Siboto itu karena sebanyak 33 guru di sekolah itu harus memutar mencari jalur terdekat dengan jarak 4-5 km.

Dia mengatakan para guru mengajar daring dari madrasah selama pandemi. Namun, sejak ada penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sejak Senin (11/1/2021), para guru melakukan work from home (WFH) sebanyak 75% dan sisanya work from office (WFO).

Deretan Bencana di Awal 2021: Pesawat Jatuh hingga Gunung Meletus, #PrayforIndonesia

“Harapan kami supaya ada solusi yang terbaik bagi kami dan warga pengguna jalan. Paling tidak dibuka kembali akses jalan masuk tersebut. Kalau tidak dibuka maka diberi jalan alternatif untuk mempermudah bagi pengguna jalan. Perlintasan itu menjadi akses utama masuk ke madrasah. Siswa kami sebanyak 500-an orang kasihan bila tetap ditutup,” ujarnya.

Dia menerangka sejak 2018 perlintasan itu sebenarnya sudah dijaga warga secara swadaya. Dia mengatakan sudah ada paguyuban yang mengelola petugas penjagaan perlintasan itu dan MTsN menjadi salah satu anggota peguyuban itu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom