GAGASAN : Warisan Pemikiran Sang Pezikir
Fadjar Sutardi fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com Bergiat di Seni Rebana Maskumambang Mujahadah Sumberlawang, Sragen

 

 

Fadjar Sutardi fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com Bergiat di Seni Rebana Maskumambang Mujahadah Sumberlawang, Sragen
Fadjar Sutardi
fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com
Bergiat di Seni Rebana
Maskumambang Mujahadah
Sumberlawang, Sragen

Pada Jumat (10/1) lalu genap tujuh hari meninggalnya Slamet Gundono. Selaku sedulur Gundono, dalam esai ini saya mencatat dan mengenang beberapa hal yang mungkin dapat dijadikan memori kebaikan bagi perkembangan kesenian di Solo dan sekitarnya pada masa-masa mendatang.

Satu hal yang belum kesampaian sebelum Slamet Gundono berpulang keharibaan-Nya adalah keinginannya untuk silaturahmi ke Sumberlawang, Sragen. Keinginan itu dikatakan sebulan yang lalu saat saya bermaksud meminta Slamet Gundono mengisi acara Milad Ke-104 Muhammadiyah di GOR Sragen.

Setelah berdialog panjang dia mengatakan belum bisa meluluskan permintaan panitia milad karena padatnya acara, salah satunya adalah acara penerimaan anugerah seni di Jakarta pada bulan itu. Dia “menghibur” saya dengan pernyataan dalam waktu dekat dia akan memberikan nasihat-nasihat dengan tetembangan kepada ibu-ibu pengajian malam Jumat yang dahulu pernah dia lakukan pada 2004, saat Sanggar Seni Rumah Langit Kebun Bumi menggelar acara dialog agama dan politik dalam perspektif kebudayaan.

Acara itu dihadiri Agus Fatchur Rahman yang saat itu masih menjadi Wakil bupati Sragen, Suprapto Suryodarmo dari Padepokan Lemah Putih, G.M. Sudarta kartunis Kompas, dan Waluyo S.Kar dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Dua pekan yang lalu, Slamet Gundono mengirim SMS  lagi kepada saya. Ia menyatakan benar-benar ingin silaturahmi ke Jatilawang, mungkin yang dia maksud adalah Sumberlawang. Sampai Slamet berpulang saya belum sempat membalas SMS-nya.

Pada Minggu (5/1) pukul 13.00 WIB, saya mendapat SMS yang mengabarkan Slamet Gundono meninggal dunia di RSI Yarsis. Slamet Gundono akhirnya pergi ke Jatilawang, kata yang sering diucapkan kepada saya. Tuhan menghendaki lain, bukan ke Sumberlawang, tetapi harus memenuhi janji Tuhan untuk pergi ke Jatilawang, yakni sebuah lawang kang sejati.

Mengapa ke Sumberlawang? Kata Slamet Gundono, ”Masyarakat kampung Mas Fadjar sedulurku, baik-baik dan responsif terhadap kesenian”. Saya tidak tahu maksud kalimat tersebut. Terlepas dari salah satu keinginannya, Slamet Gundono telah lulus dalam melaksanakan dan mempraktikkan laku panjangnya melalui dialog kritis dengan pendekatan kasih dan cinta kepada siapa pun yang dijumpainya.

Sebagai pejalan sejati ia berhasil memadukan nilai-nilai spiritual yang diyakininya dengan media seni kerakyatan yang cukup menyita perhatian masyarakat, utamanya masyarakat seni tingkat bawah dan  menengah. Slamet Gundono dengan keseniannya diuntungkan oleh lingkungan yang melahirkannya, yakni  masyarakat kawasan pantai utara Jawa (pantura) yang muslim dengan karakter blakblakan, berjiwa merdeka, dan apa adanya, yakni di kawasan Tegal.

Sementara lingkungan yang membesarkannya adalah sebuah kota seni kelas menengah yang menjadi titik pusat pergaulan kesenian tradisi yang diakui dunia, yakni Kota Solo. Di dua lingkungan inilah kreativitas dan estetika Slamet Gundono tumbuh dengan dasar pijakan nilai-nilai spiritual yang bersumber Islam, yang diyakininya dan diterima masyarakat. Dalam perjalanan menggeluti keseniaan, Slamet Gundono memiliki banyak wajah. Ia bisa disebut sebagai dalang, teaterawan, pendongeng, troubadour, penyampai nilai ajaran agama, juga penghibur bagi masyarakatnya yang dikatakannya sedang sakit.

Dari sanalah Slamet Gundono muda menanjak dengan cepat dan dapat disejajarkan dengan guru-guru sekaligus sahabatnya yang secara tidak langsung menggesek dan menggosoknya, misalnya Sardono W. Kusumo, Rahayu Supanggah, I Wayan Sadra, Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto, Suprapto Suryodarmo, K.H. Mustofa Bisri, Emha Ainun Nadjib, W.S. Rendra, Gunawan Mohamad, Waluyo S. Sukarno, dan masih banyak lagi.

Dengan dua modal lingkungan tersebut, Slamet Gundono akhirnya dikenal sebagai seniman yang kritis terhadap perubahan sosial politik yang dianggap berlawanan dengan nuraninya. Di sisi lain, dengan menggunakan sentuhan-sentuhan khas ala dialek Tegal, ia mengembangkan keseniannya sesuai dengan tuntutan nalurinya.

Dari waktu ke waktu lahir karya-karya yang menyentuh dan menggugah masyarakat di lingkungannya. Hasil kreasinya seperti Kelangan Lamun Kelingan, Wirid Wening, Kangen Barjanji, Tuhan Maha Dalang, Wayang Nglindur, Sukesi atau Rahwana Lahir, Limbuk Ingin Merdeka, Bibir Merah Banowati, Nyanyian Mistik: Mabuk Gusti, Urip Dhewekan, dan sebagainya.

Di samping berkarya sendirian, Slamet Gundono juga pernah terlibat lakon-lakon besar, semisal Opera Jawa (sebuah film garapan Garin Nugroho)  dan  Passage Through The Gong (sebuah tari kolosal karya  Sardono Wahyu Kusumo). Dari berbagai karya yang dilahirkan dan diikutinya, Slamet Gundono tetap bersandar pada prinsip berkesenian secara naluriah yang dilakoninya sebagai media berdialog dengan kemanusiaan yang menghormati ketuhanan dan penyeimbangan terhadap keindahan-keindahan alam.

Di berbagai kesempatan Slamet Gundono juga menyatakan sikap berkeseniannya tidak lepas dari panggilan nuraninya. Panggilan nurani menjadi sesuatu yang penting agar tidak jatuh pada kesenian kepentingan. Ketika kesenian telah dilibatkan untuk kepentingan-kepentingan, kualitas dan kemerdekaan seninya tidak lagi bernilai rahmatal lil’alamin.

Slamet Gundono pernah berujar seni budaya itu akan tetap lestari kalau tidak dipolitisasi. Tapi, kalau dipolitisasi terus-menerus, yang ada adalah konflik kepentingan, keinginan untuk berkuasa, kehendak menjadi yang paling kuat dan paling gigih. Jarang sekali orang punya konsep politik yang rahmatan lil `alamin.

Slamet Gundono mencontohkan perihal perlunya menyeimbangkan antara naluri dan nurani ini, yakni  kehebatan para Walisanga dalam usaha menjaga naluri dan nurani mereka dan masyarakatnya. Dalam sejarah, Islam bisa masuk ke Jawa karena punya nilai toleransi naluri dan nurani ini. Kalau tidak, yang terjadi adalah perang.

Misalnya melalui sentuhan naluri dan nurani Sunan Kalijaga tentang konsep Sekaten yang diajukan kepada para raja di Jawa yang berhasil menyeimbangkan pentingnya kedua hal tersebut. Lewat Sekaten, misalnya, nilai-nilai keagamaan (Islam) dapat dikembangkan secara akomodatif dengan tetap menjunjung toleransi sehingga kedamaian dan ketenteraman terwujud.

Penghormatan terhadap nilai-nilai yang dipraktikkan para Walisanga, untuk menjaga kedamaian di tengah masyarakat majemuk juga ditunjukkan Slamet Gundono dalam peringatan 500 tahun Kangjeng Sunan Kalijaga di Sanggar Wayang Suket beberapa bulan yang lalu. Acara itu mengundang para seniman tradisi untuk bersama-sama merenungkan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga.

 

Tujuan Utama

Lintasan-lintasan pemikiran Slamet Gundono tentang kedamaian, keilahian, dan keselamatan mencair dan mengalir bersama ingatan-ingatannya tentang kemahabesaran Tuhan yang dikemas melalui keseniannya cukup penting untuk dicatat dan direnungkan kita semua.

Slamet Gundono adalah seorang pemikir dan pezikir yang mengajak kita untuk tidak lupa kepada tujuan utama dalam melaksanakan amanah hidup dan kehidupan ini, yakni pengabdian kepada Tuhan dengan sebaik-baiknya. Bila pemikiran Slamet Gundono diurai, setidaknya ada empat hal yang penting.

Pertama, menjadi seniman harus kritis. Seniman yang tidak  mau mengkritik berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, kesenian, dan bahkan agama dipastikan akan mengalami stagnasi batin yang menyakitkan. Kesenian (seniman) bagi Slamet Gundono memiliki tugas mengkritik, tidak mencari data.

Kalau seniman mengejar data, tentu sangat sulit untuk berkarya. Mengkritik dengan cinta kasih melalui kesenian dapat berfungsi untuk melurusakan kepentingan, tanpa harus menyakiti. Kedua, menjadi seniman harus terlibat dalam sosial kemasyarakatan. Sikap cair ajur-ajer dapat membantu seniman untuk berdialog dengan lingkungan masyarakat yang melingkupinya.

Salah satu hal yang pernah dilakukan Slamet Gundono adalah mendorong masyarakat pegunungan Kendeng Utara dalam melindungi kelestarian alam dari kepentingan politik ekonomi penguasa. Tidak perlu dilawan, tetapi melalui jalan kebudayaan dengan  menyemai bibit kesadaran dan penyadaran yang akan  tumbuh untuk menyuarakan ketidakadilan.

Ketiga, menghidupkan hati nurani. Hati nurani yang terasah akan melahirkan akal sehat. Dengan akal sehat manusia dapat mewujudakan cita-citanya untuk mamayu hayuning bawana dengan jiwa legawa, sabar,  dan narima ing pandum. Bagi Slamet, menuruti kata hati itu harus dilakukan dengan mengalir  seperti air.

Proses menghidupkan hati nurani itu seperti sesuatu yang naluriah atau nuraniah; berangkat dari pengalaman dalam pengembaraan secara terus-menerus. Dari proses inilah kemudian manusia akan mencapai makam-makam kemuliaan. Keempat, berkarya seni merupakan media pencarian terhadap kebenaran. Tentang pencarian kebenaran, Slamet gundono mencontohkan dalam lakon Cebolang Minggat.

Lakon ini mencerminkan pematangan spiritual lewat perjalanan panjang, bukan melalui pemutlakan doktrin. Pencarian terus-menerus akan membuka kemungkinan untuk mempertanyakan dan merumuskan kembali makna baru yang lebih relevan sesuai dengan kenyataan hidup.

Bentuk pencarian kebenaran pernah diteladankan Sidharta Gautama yang keluar dari Istana Kapilavatthu demi menyerap pencerahan. Juga pencarian Nabi Muhammad saat berkhalwat di Gua Hira’ dan beliau menemukan nilai-niai kebenaran yang hak yang nantinya ditebar dan ditabur kepada umatnya.

Keempat hal di atas kemungkinan telah dijalani Slamet Gundono berasama warga negeri Wayang Suket yang didirikannya. Negeri Wayang Suket mengajarkan filosofi cinta yang begitu sederhana. Tanpa membuat adanya keruwetan yang menjadikan dahi mengkerut. Bergulir saja apa adanya dengan kesederhanaan dan kejujuran. Di negeri Wayang Suket, siapa pun dapat berlatih melewati tahap-tahap pembelajaran  hidup yang rumit dengan cinta dan kasih.

 

 

 

 

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom