GAGASAN : Religiositas Nusantara
Salah satu panel relief di Candi Borobudur (borobudurculturalfeast.com).

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (21/12/2017). Esai ini karya Tjahjono Widarmanto, sastrawan dan dosen di STKIP PGRI, Ngawi, Jawa Timur. Penulis menjadi peserta Borobudur Writers & Cultural 2017. Alamat e-mail penulis adalah cahyont@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO--Nusantara sejak dulu kala memiliki akar yang kuat terkait keberagaman, termasuk di dalamnya keberagam religiositas atau keyakinan spiritualitas. Keberagaman dalam religiositas dan keyakinan ini sesuatu yang niscaya yang memunculkan karakter religiositas sebagai ciri karakter Indonesia.

Jauh sebelum Sutasoma menyebut bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa  pada era Majapahit, di candi Borobudur telah bergaung mitreka satata yang melukiskan toleransi antarumat beragama di Nusantara.

Religiositas dan keyakinan sipiritualitas yang lahir di bumi Nusantara ini muncul dalam bentuk agama-agama lokal. Agama-agama lokal tersebut merupakan ungkapan kerinduan kepada Sang Pencipta, Sang Awal, semesta, penyadaran akan kefanaan, sekaligus menjadi tuntunan dalam interaksi sosial, baik dengan sesama maupun dengan semesta, mikrokosmos dan makrokosmos.

Nusantara sebagai entitas budaya memiliki kekayaan yang beragam berkait dengan pandangan dan laku spiritual ini. Sungguhpun demikian keberagaman ini mengalir pada muara yang sama yaitu esensi pencarian dan penghayatan atas Tuhan.

Keberagaman ini pula sejak dulu kala sudah menjadi dasar sebagai dialog, perjumpaan agama-agama lokal dengan agama-agama global dari daratan Hindia, Eropa, dan Timur Tengah. Islam Nusaantra menjadi contoh paling nyata perjumpaan mesra itu yang tak hanya menggugah aspek spiritual namun juga menciptakan nuansa kultural yang berbasis religi.

Perjumpaan mesra ini juga muncul jauh hari sebelum itu, yaitu perjumpaan spiritual Buddha dengan agama-agama lokal, spiritual Hindu dengan religi lokal, agama Nasrani dan Katolik dengan sipritual lokal, bahkan kelak perjumpaan antaragama global itu, misalnya dialog mesra Hindu dengan Buddha, Buddha dengan Katolik (Nasrani), Islam dengan Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu.

Selanjutnya adalah: Perjumpaan mesra dan dialog


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho