GAGASAN : Perebutan Kuasa Hak Guna Jalan
Titis Efrindu Bawono (Istimewa)

Gagasan Solopos, Kamis (19/5/2016), ditulis pengamat transportasi yang tinggal di Kota Solo, Titis Efrindu Bawono.

Solopos.com, SOLO — Daffa Farros Oktoviarto menyilangkan sepedanya tegak lurus demi mengadang pengendara sepeda motor yang melaju di jalur pejalan kaki. Daffa, bocah di Kota Semarang itu, dengan berani menendang pengendara sepeda motor agar kembali ke jalurnya.

Upaya serupa juga dilakukan Alfini Lestari di Jakarta (The Jakarta Post, 4 Mei 2016). Alfini tiap hari berani beradu mulut sembari mengadang pengendara sepeda motor yang melintas di jalur pejalan kaki.

Upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menggunakan jalan sesuai kegunaannya sudah sejak lama dilakukan melalui pelbagai kampanye. Apalah daya, jumlah kendaraan yang terus meningkat dan keegoisan pengendara kendaraan pribadi (baca: motor dan mobil) menyebabkan masyarakat abai terhadap pesan-pesan kampanye tersebut.

Keinginan untuk menguasai semua lini fasilitas jalan menjadi kebutuhan utama sedangkan keselamatan dan hak pengguna jalan lain menjadi hal sekunder setelahnya. Besarnya keinginan untuk menjadi penguasa fasilitas jalan membuat pengendara kendaraan pribadi menjadi arogan.

Kalimat umpatan “Emange ini jalane mbahmu?” kerap digunakan para ”penguasa jalanan” tersebut. Alfi ni mendapat umpatan khas tersebut ketika berupaya mempertahankan haknya berjalan di fasilitas untuk pejalan kaki.

Penguasaan atas jalan tidak hanya terjadi dalam rivalitas pejalan kaki dan pengendara sepeda onthel dengan pengendara kendaraan pribadi, tetapi juga terjadi saling bersaing di antara pengendara kendaraan pribadi untuk memperebutkan hak kuasa atas jalan.

Konvoi kendaraan bermotor yang berjalan secara eksklusif dan melanggar aturan lalu lintas, pengawalan voorrijder untuk kalangan ”atas”, angkutan barang yang membawa muatan berlebih, angkutan umum yang mengebut dan mendominasi jalur lalu lintas, serta penggunaan kendaraan oleh anak di bawah umur merupakan sebagian dari ratusan contoh upaya saling berebut kekuasaan atas jalan.

Sejatinya jalan merupakan barang publik. Sayangnya, logika kepemilikan barang publik ini hilang ketika pengen dara kendaraan pribadi berada di belakang kemudi. Saat berada di balik kemudi (ruang privat), pengendara kendaraan bermotor pribadi hanya memandang jalan sebagai objek mati belaka tanpa mengingat bahwa jalan merupakan fasilitas publik yang tidak dapat digunakan semena-mena. [Baca selanjutnya: Pengembalian Hierarki]


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho