Tito Setyo Budi (foto: istimewa)

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi goreng. Apa beda nasi goreng zaman old dan zaman now? Alkisah, pada zaman saya kanak-kanak, era 1960-an, setidaknya hingga awal 1970-an, jika anak-anak diberi sarapan nasi goreng itu berarti nasi yang sudah basi kemudian digoreng.

Zaman sekarang nasi yang sudah basi jamak dibuang atau diberikan kepada ayam (itu pun jika ayamnya masih doyan). Nasi goreng zaman sekarang adalah nasi yang masih segar, sehat, kemudian digoreng dengan aneka bumbu.

Pada waktu sarapan, saat ini, dan ternyata nasi belum tersedia maka tak perlu repot-repot. Ambil saja mi instan, direbus kemudian disantap, habis perkara. Tak peduli apakah itu orang kaya atau miskin, orang gedongan atau penghuni gubug reyot. Mi instan telah menjadi makanan nasional bahkan internasional.

Penyeragaman rasa telah terjadi di hampir seluruh belahan dunia. Dengan mi instan maka jutaan lidah tanpa tersadari telah mengalami penyeragaman rasa (generallized). Begitulah globalisasi menjadi aktor utama penyeragaman.

Tak hanya soal rasa di lidah, namun juga merembet ke dimensi kehidupan lain. Martin Wolf (2004) dalam Why Globalization Work menjelaskan perubahan teknologi dan ekonomi memiliki dampak kultural, sosial, dan politik yang kompleks. Mi instan sebagai produk teknologi pangan bisalah disebut sebagai contoh.

Lalu bagaimana masalah berkesenian kita, terutama seni tradisional? Bagaimana agar seni tradisi tetap lestari di tengah gempuran dahsyat globalisasi? Topik itulah yang membuat sekitar seratusan budayawan dan seniman tradisional di Kabupaten Sragen pada Rabu (7/2) berkumpul, berembuk, dan mencari jalan keluar dalam diskusi bertajuk Dialog Kebudayaan Daerah dan Sragenisme.

Ini acara yang menantang namun tetap luput dari pengamatan pers yang ternyata memang lebih tertarik pada masalah harga gabah dan perekrutan pegawai rumah sakit (Solopos, 8 Februari 2018).  Sebuah sudut pandang yang tentunya tidak keliru dilihat dari sisi jurnalistik.

Sejak kapan seni tradisi menjadi primadona dalam kehidupan kita? Barangkali hanya pada masa sebelum hingga awal-awal Indonesia merdeka seni tradisi masih punya tempat di hati masyarakat. Yang jelas pada 1970-an kegelisahan soal kehidupan seni tradisi sudah muncul.

Pakar dan seniman tari Edi Sedyawati paling banyak membahas. Sejumlah artikel yang dia paparkan dalam berbagai seminar akhirnya dibukukan dengan judul Pertumbuhan Seni Pertunjukan (1981). Salah satu tulisan dia yang menarik disimak dari buku tersebut berjudul Tentang Pengembangan Seni Pertunjukan Tradisional

Tulisan tersebut merupakan kertas kerja untuk seminar seni rupa dan seni pertunjukan dalam rangka Study on Malay Culture. Sedyawati memberikan sejumlah pandangan, arahan, agar seni tradisi tetap tumbuh dan memiliki daya lestari di tengah konstelasi kehidupan berkesenian pada waktu itu, namun jika itu dilaksanakan dalam situasi kekinian akan menjadi resep yang kedaluwarsa.

Seni pertunjukan

Menurut Sedyawati, usahakan pengembangan seni pertunjukan tradisional di lingkungan etniknya sendiri, buatlah seni pertunjukan tetap merupakan kebutuhan masyarakat. Kesenian tradisional harus dijadikan suatu perlengkapan wajib dalam pendidikan tiap pribadi sehingga pemilikannya menjadi suatu yang wajar dan pencapaian yang istimewa dalam bidang itu menjadi sesuatu yang dibanggakan (hal. 65-66).

Nah, kebanggaan itulah masalahnya. Bagaimana generasi now mau berbangga dengan ketoprak, wayang kulit, wayang orang, ludrug, reog, macapatan, klenengan, dalam lingkungan etniknya sekalipun? Bagaimana ketika soal rasa, selera, sudah mengalami generallized? Bagaimana jika budaya tradisional sudah terpinggirkan secara natural oleh budaya pop sebagai anak kandung industri kapitalis yang kental dengan modernitas Barat?

Davey dan Seal dalam The Oxford Companion to Australian Folklore (1993) menjelaskan pada umumnya budaya pop dipahami untuk menyebut segala produk dan pengaruh industri massa. Budaya tradisional diartikan sebaliknya.

Seni tradisi relatif jauh dari dunia industri massa. Jika pun ada sentuhan industri hanya dalam batas ala kadarnya. Peneliti musik Martin Hatch (1989) dalam tulisannya bertajuk Popular Music in Indonesia menyimpulkan bahwa hampir semua lagu pop Indonesia terdengar kebarat-baratan dalam pengertian berbeda dengan dangdut dan keroncong.

Ini pendapat yang tak jauh berbeda dengan yang dinyatakan peneliti musik Indonesia yang lain. Dalam tulisan di Jurnal Indonesia (2001) berjudul Can the Tradisional Arts Survive, and Should They?, Phillip Yampolsky menyatakan musik tradisional dan jenisnya yang beragam di Indonesia sebaiknya didefinisikan berdasarkan derajat ketidakhadiran pengaruh asing.

Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang makna budaya populer ada baiknya kita menengok analisis yang dikemukakan Dominic Strinati (lihat: Popular Culture: An Introduction to Theories of Popular Culture,1995). Secara garis besar Strinati memberikan pengertian bahwa budaya populer yang dipahami manusia modern adalah budaya konsumsi yang didukung teknologi informasi baru.

Dari situ tampak perbedaan yang jelas. Seni rakyat lahir dan bertahan karena kehendak rakyat itu sendiri dan lingkup tradisinya. Sedang seni populer lahir dan bertahan atas sponsor media dan ideologi kapitalisme konsumtif.

Jean Baudrillard (1970) melihat bahwa dalam masyarakat konsumen orang mengafirmasi identitas sekaligus perbedaan dan mereka juga menikmati saat membeli dan mengonsumsi sistem tanda-tanda yang dimiliki bersama (a shared sytem of signs). Ada kecenderungan masyarakat kita merasa jadi modern dan naik derajat sosial mereka jika mampu membeli produk industri kapitalis.

Kita lestarikan

Dalam kondisi seperti itulah kini seni tradisi yang hendak kita lestarikan, syukur-syukur dikembangkan. Apakah tidak lebih bijak jika kita telaah apa yang dikemukakan pemikir kebudayaan seperti Richard Rorty (lihat: Contingency, Irony, Solidarity, 1989)?

Ini agar kita menggunakan langkah pragmatis saja dalam menghadapi perubahan sosial budaya. Saatnya menimbang apa yang cocok (what work) daripada bertele-tele memperdebatkan prinsip abstrak untuk mengelola kesenian kita.

Kita sudah berada dalam global village sebagaimana disebutkan oleh Marshall McLuhan, tempat kohesi sosial dan ideologi ketradisionalan sudah larut. Kita sudah berada dalam kondisi ”monoloyalitas global” sebagaimana disebut-sebut oleh futurolog John Neisbitt dalam Global Paradox (1994) yang sejak penerbitan awalnya sudah menggegerkan dunia.

Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan setiap individu atau masyarakat dunia saling berhubungan secara cepat dan langsung, nyaris tanpa hambatan. Juga dalam industri seni. Tanpa kondisi itu, sulit rasanya penyanyi dangdut Inul Daratista yang dulu hanya pentas di sawah-sawah, gunung-gunung, desa-desa, bisa jadi Ratu Dangdut Indonesia seperti sekarang.

Inul diikuti oleh generasi kini, yaitu Via Vallen, Nella Kharisma, dan yang lain. Itu tak lain berkat  video compact disc yang tersebar luas di seluruh pelosok negeri. Dangdut dan campursari sekarang ngetren, tapi masihkah bisa disebut seni tradisi?

Menurut pandangan saya keduanya sudah memasuki wilayah budaya populer. Keroncong asli barangkali masih bisa disebut bentuk seni tradisi, tapi sudah semakin langka di daerah-daerah di luar Kota Solo dan sudah jarang ada yang mau nanggap.

Arus globalisasi

Jadi, bagaimana menempatkan budaya tradisional di tengah arus globalisasi dan cengkeraman hegemoni kapitalistis? Itulah tema sentral diskusi yang bakal awet sepanjang tahun hingga hari ini. Sepanjang ada yang kukuh mempertahankan apa yang disebut tradisional, asli, dan menafikan proses tranformasi.

Bisa saja kita merasa kecewa, sedih, galau, tatkala langgam Jawa Pamitan karya Gesang yang begitu lembut, sentimental, menyentuh kalbu, dipermak habis ala dangdut koplo oleh Orkes Melayu Sagita. Apa daya kita? Itulah budaya massa, budaya pop yang sedang digandrungi pada zaman now oleh generasi muda pewaris masa depan.

Yang pasti, saya sependapat dengan penuturan sejumlah pemikir kebudayaan Indonesia yang mengatakan bahwa hanya satu-satunya kebudayaan (termasuk seni tradisi) milik kita yang dapat kita banggakan dalam kehidupan sebagai warga dunia.

selebihnya kita telah luluh lantak diterjang gelombang globalisasi dan eksploitasi alam serta lingkungan. Berbahagialah kita masih memiliki nilai-nilai tradisi, entitas-entitas kebudayaan yang khas yang berada pada ”serat-serat budaya” sebagaimana diungkapkan budayawan Umar Kayam. Salah satunya adalah bahasa ibu, bahasa Jawa.

Saat ini sudah semakin nyata modernitas Barat seiring perjalanan waktu juga dilanda kebosanan dan sumuk oleh impitan liberalisme yang memacu tumbuhnya kriminalitas dan dekadensi moral.

Modernitas Barat kemudian mulai melirik dunia lain yang lebih plural dan berasumsi bahwa sejatinya setiap bangsa memiliki model dan sistem nilai masing-masing dalam mempertahankan dan mengembangkan kehidupan.

Seni tradisi harus diuri-uri. Itu pasti. Hanya diperlukan strategi kebudayaan dan format-format baru yang dimaui oleh zaman now.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten