Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan (foto: istimewa)
Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (8/2/2018). Esai ini karya Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, dosen Parasitologi dan Mikologi di Fakultas Kedokteran Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah wekagunawan@yahoo.co.uk. Solopos.com, SOLO--Kasus busung lapar (hongeroedeme) yang dialami warga Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, mengemuka di media massa. Kita semua merasa sedih sekaligus pilu menyaksikan foto terkait kasus kesehatan tersebut yang dimuat aneka media massa. Kejadian luar biasa itu tidak hanya masalah gizi buruk, tetapi juga merebaknya penyakit campak, cacingan, dan malaria di Agats yang merupakan ibu kota Kabupaten Asmat. Kita tak dapat hanya bereaksi dengan mengatasi masalah yang mengemuka sekarang, tapi yang paling penting adalah melakukan usaha-usaha yang terus-menerus secara berkesinambungan, sustainability, untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Untuk melakukan intervensi kita perlu memahami situasi dan salah satunya memahami budaya dan situasi di Kabupaten Asmat. Saya beserta rekan saya, Syafri Munardi, pada 1997 mengeksplorasi masalah-masalah kesehatan di Provinsi Irian Jaya. Nama Provinsi Irian Jaya pada zaman Presiden Abdurrahman Wahid diganti menjadi Provinsi Papua. Kami mendata semua masalah mulai dari HIV/AIDS, angka kematian ibu dan bayi, serta malaria. Kala itu juga terjadi kelaparan akut karena paceklik di Papua. Saya melakukan perjalanan ke seluruh Papua. Pendekatan secara  top down mulai ditinggalkan sejak era otonomi daerah berlangsung. Penanggulangan masalah lokal seyogianya dilakukan oleh orang-orang lokal. Sangat penting memahami budaya lokal saat para pengambil keputusan menformulasi sebuah intervensi kebijakan bagi daerah. Penduduk Kabupaten Asmat kurang lebih 90.000 orang. Mayoritas beragama Katolik. Suku Asmat telah mengenal agama sejak 1984 melalui para misionaris Katolik, namun keyakinan mereka terhadap dewa-dewa mereka tidak pupus begitu saja. Makanan Kehidupan orang-orang Asmat tidak terlepas dengan makanan mereka yakni sagu sebagai sumber karbohidrat dan hewan seperti babi, too (ulat sagu), toaut (burung kasuari), karaka (kepiting), ikan, dan makanan lain yang dapat mereka peroleh di hutan. Mereka juga menebang pohon gaharu (yang berbau harum seperti kayu cendana di Nusa Tenggara Barat) untuk dijual kepada para pedagang di pasar-pasar di Agats yang lebih banyak didominasi para pendatang. Para pendatang di Agast berasal dari dari daerah lain di Indonesia. Ada orang Bugis, Toraja,  Kei, Jawa, dan Batak. Para pendatang umumnya mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi sehingga merekalah yang umumnya dominan di parlemen daerah. Mayoritas penduduk Asmat bisa dikatakan tak peduli dengan politik, asalkan mendapatkan keperluan dasar mereka. Penting untuk mulai dari tingkat sekolah dasar mengajarkan kepada mereka tentang apa itu politik dan bagaimana politik memengaruhi kehidupan mereka. Kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan dan membiayai sekolah anak-anak mereka masih rendah. Persoalan kondisi orang tua yang kekurangan secara ekonomi  dan juga mudahnya mereka terinfeksi malaria dan sakit perut atau diare berkepanjangan menyebabkan mereka memilih putus sekolah. Pernikahan usia dini berdasarkan tradisi juga menyebabkan angka putus sekolah tinggi. Pemahaman mereka tentang keluarga berencana masih rendah. Angka kelahiran tinggi namun angka-angka kesakitan dan kematian ibu melahirkan dan kematian bayi dan anak-anak juga tinggi. Tenaga pendidik juga sering tidak tampak di sekolah, terutama di desa-desa yang jauh dari ibu kota kabupaten. Beasiswa Ada beberapa lembaga donor yang memberi beasiswa untuk anak-anak Asmat, namun jumlahnya tak banyak. Biasanya anak-anak alumnus beasiswa di luar Papua atau di luar negeri akan kembali dan menjadi pegawai negeri sipil. Ada juga laporan bahwa beasiswa yang pernah mereka terima dianggap lebih tinggi daripada gaji mereka sebagai PNS sehingga ada saja laporan bahwa sebagian dari mereka meninggalkan kampung halaman yang sesungguhnya amat memerlukan kepandaian mereka. Jadi ada baiknya para pengambil keputusan mempertimbangkan ini. Perlu diketahui bahwa orang-orang Asmat adalah orang-orang yang lugu pada awalnya dan merekalah penjaga hutan-hutan di lingkungan kehidupan mereka. Angka kematian bayi dan ibu di Papua memang turun secara regional, yakni dari angka 575 per 100.000 kelahiran hidup pada 2013 menjadi 380 per 100.000 kelahiran hidup pada 2017. Demikian pula data angka kematian bayi, dari 54 per 1.000 kelahiran hidup pada 2013 menjadi 13 per 1.000 kelahiran hidup pada 2017 (data Dinas Kesehatan Papua 2017). Angka-angka tersebut masih relatif tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain, tapi keberhasilan tersebut patut kita apresiasi. Khusus di Kabupaten Asmat, tradisi kawin muda, membebani ibu hamil untuk tetap mencari sagu di hutan, memberi kewajiban ibu yang akan bersalin untuk melahirkan sendiri di tengah hutan, jika beruntung, hanya ditemani paraji, menyebabkan angka kematian ibu di Asmat cukup tinggi. Tentu saja para pengambil kebijakan mesti memahami tradisi ini tanpa harus menyalahkan tradisi ini. Bagaimanapun penting membuat penelitian-penelitian eksploratif apa latar belakang pemahaman tersebut yang dianggap tidak koheren dengan praktik perilaku hidup sehat modern. Bukan tiba-tiba Busung lapar bukanlah kejadian yang tiba-tiba. Busung lapar adalah gejala akhir dari kekurangan gizi dan gizi yang teramat buruk lima tahun lalu atau bahkan 10 tahun silam. Sekadar menyalahkan pemerintah saat ini bukanlah solusi. Media massa sepatutnya mengambil tanggung jawab ini, yakni memberitakan hal-hal yang sifatnya membangun dan menjadi agen perdamaian di wilayah yang kerap dilanda konflik antarsuku tersebut. Akses ke Kabupaten Asmat memang tidak mudah. Itu sebabnya lazim, seperti yang saya dan Syafri Munardi alami, naik helikopter bersama orang-orang lokal yang membawa ubi jalar dan bahkan hewan ternak seperti babi. Perlu diapresiasi usaha-usaha pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan akses yang lebih mudah ke Kabupaten Asmat dan pelosok Papua lainnya. Air bersih amat penting di pedalaman Asmat. Mengapa? Untuk mengolah sagu (mengerok dari pohon sagu yang sudah ditebang) memerlukan air yang amat banyak. Air sungai sering terkontaminasi dengan berbagai macam limbah pada masa ini. Saat paceklik mereka susah sekali memperoleh air karena sungai-sungai mengering. Air yang tidak bersih yang digunakan saat pengolahan sagu menyebabkan sagu tidak higienis untuk dimakan. Kejadian diare dan cacingan menjadi tinggi. Mengatasi penyakit Bantuan makanan juga mesti disertai tujuan untuk mengatasi penyakit cacingan dan diare terlebih dahulu sehingga gizi-gizi makanan dapat terserap ke dalam tubuh para penerima bantuan dengan baik. Para pengambil kebijakan penting memahami kondisi di Asmat. Harus dipahami dan dimengerti siapa saja orang-orang yang mesti dirangkul/diikutsertakan dalam membuat program bagi masyarakat Asmat dan sekitarnya. Para tokoh masyarakat/para ketua suku, para tokoh agama (dalam hal ini agama Katolik dan Kristen Protestan), dan pemerintah daerah amatlah penting kita dengar pendapat mereka. Ketiga kekuatan sosial tersebut terbukti mampu menyelesaikan banyak konflik antarsuku atau antara suku dengan perusahaan tambang dan lainnya. Asmat dan Papua secara keseluruhan adalah anugerah bagi bangsa Indonesia dan dunia. Kita masih melihat kehidupan yang sederhana dengan fasilitas yang terbatas di Asmat. Di Asmat kita belajar membuat batu menjadi alat-alat yang bisa digunakan untuk mengolah kelapa. Saya belajar menggunakan kerang kosong sebagai alat untuk mengambil daging kelapa. Kita juga masih melihat tradisi memahat dengan batu dan bukan dengan alat pahat yang kita pakai sehari-hari. Ya, anugerah pengetahuan ini mungkin segera pupus karena modernisasi, namun tentu kita semua menginginkan yang terbaik bagi saudara-saudara kita di Asmat. Kita maju bersama dan sejahtera bersama. Semoga...

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten