GAGASAN : Menggugat Hak Anak-Anak Jalanan

 Kalis Mardi Asih
kalis.mardiasih@gmail.com

Mahasiswa Jurusan 
Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan 
dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret

SOLOPOS.COM - Kalis Mardi Asih kalis.mardiasih@gmail.com Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Kalis Mardi Asih kalis.mardiasih@gmail.com Mahasiswa Jurusan  Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan  dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Kalis Mardi Asih
kalis.mardiasih@gmail.com
Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret

 

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Hari Anak Nasional, 23 Juli, ini kita peringati bersamaan dengan Ramadan. Saya menjadi tertarik untuk membaca dan memaknai fenomena yang muncul tiap Ramadan, tepatnya menjelang Idul Fitri. Fenomena itu berupa problem sosial munculnya para pengemis musiman yang kadang-kadang membuat kita mengalami dilema.

Di antara wajah-wajah pengemis musiman itu, selalu kita temukan banyak sekali anak-anak usia 5-15 tahun yang turut serta mengemis. Kadang mereka beserta ibu mereka. Tak jarang pula mereka tampak mengemis sendirian. Kita merasa iba, namun di sisi lain kita juga bertanya-tanya, apa yang terjadi pada negara ini sehingga problem kemiskinan tidak kunjung usai?

Di sisi lain kita membaca atau mendengar melalui media massa baru-baru ini Wali Kota Tangerang Selatan menyatakan segera mengesahkan peraturan daerah (perda) tentang penerapan sanksi pidana bagi pengemis dan anak jalanan (anjal) yakni berupa denda Rp30 juta atau kurungan tiga bulan bagi mereka yang tertangkap di area publik. Nilai denda dalam mata uang rupiah rupiah tersebut bagi kaum ”bukan pengemis” pun tergolong sangat fenomenal.

Faktanya, walaupun banyak daerah menerapkan perda serupa, problem anak-anak jalanan itu tetap saja menjadi pemandangan yang kemudian dianggap wajar. Efektivitas peraturan semacam itu tidak terbukti. Selain lemahnya penerapan peraturan tersebut, jumlah mereka yang semakin meningkat dari waktu ke waktu seakan-akan tak bisa dibendung. Ini kemiskinan struktural!

Tren sedekah rombongan atau prinsip-prinsip infak berjemaah yang sekarang sedang marak akan menjadi sia-sia jika sistem negara ini memang korup dan kapitalistis. Orang-orang miskin memang laksana tak pernah punya hak untuk tinggal di negeri yang katanya kaya raya ini. Mereka tak boleh sekolah karena biaya pendidikan yang semakin mahal. Mereka tak boleh makan enak karena tak sanggup membeli sembilan bahan pokok (sembako) yang harganya makin meroket.

Mereka tak boleh sakit karena biaya kesehatan yang tak terjangkau. Bahkan, kini mereka juga tak boleh mengemis untuk menyambung kehidupan mereka. Adakah hal itu juga harus dirasakan bahkan sejak mereka masih anak-anak? Kita miris melihat bocah berumur di bawah lima tahun (balita) yang digendong ibunya yang mengemis, namun hal tersebut sekaligus berubah menjadi daya semiotik tersendiri untuk membuat kita kemudian merasa iba dan memberi uang sekadarnya.

Pada peringatan Hari Anak Nasional hari ini kita mempertanyakan kembali tentang hak-hak anak. Pada usia mereka seharusnya dihabiskan untuk belajar, bermain serta bertumbuh kembang dengan baik agar dapat menjadi penerus negeri. Menyimak perda-perda tentang hukuman pidana bagi para pengemis dan anak jalanan itu seharusnya membuat kita berpikir betapa lucunya negeri ini.

Hal tersebut jelas kontradiktif dengan amanat konstitusi dasar kita sebagaimana termaktub pada Pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi: Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh Negara. Sudah seharusnya menjadi kewajiban pemerintah untuk menampung anak-anak jalanan ini. Jika terbukti bahwa ada orang tidak bertanggung jawab yang mempekerjakan mereka seperti kecurigaan pemerintah, mereka itulah yang harus ditangkap dan mendapatkan sanksi pasal pelanggaran UU Perlindungan Anak atau pelanggaran terhadap ketertiban umum.

 

Menjaga Kualitas

Dalam konteks kebahasaan, kata ”pemeliharaan” berkaitan dengan penjagaan yang terus-menerus sebagai upaya untuk menjaga kualitas. Selama ini, kita hanya melihat upaya pemerintah sebatas menangkap dan menginapkan anak-anak jalanan ini ke panti rehabilitasi kemudian dilepas kembali. Mestinya, pemerintah melakukan berbagai cara untuk memelihara mereka. Pemerintah dapat membentuk instansi khusus untuk mengurus anak jalanan.

Mereka berhak mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka melalui pelatihan keterampilan sebelum dipulangkan kembali ke keluarga dan masyarakat. Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan masyarakat/industri/instansi untuk bersama-sama peka terhadap problem anak-anak jalanan yang semakin serius melalui alokasi dana untuk tanggung jawab sosial. Intansi yang dipilih tentu adalah instansi yang terbukti akuntabel dan tepercaya.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi memiliki program bernama Penghapusan Pekerja Anak dan Pencapaian Keluarga Harapan (PPA-PKH) di beberapa daerah. Selama satu bulan, anak-anak putus sekolah diberikan bekal keterampilan yang diharapkan dapat berguna bagi kehidupan mereka di masa mendatang. Namun, data Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada 2009 memperkirakan terdapat 2,5 juta pekerja berusia 5-15 tahun di Indonesia. Program tersebut tentu belum cukup. Masih banyak pekerjaan yang harus diuraikan satu per satu demi menjamin hak anak-anak, termasuk anak-anak jalanan, di negeri ini.

Secara etis, kita tentu tidak layak mengebiri para pengemis dan anak-anak miskin jalanan yang sedang berjuang untuk menyambung kehidupan mereka. Yang wajib kita lawan bersama adalah orang-orang korup yang sudah pasti memakan jatah ”pemeliharaan” anak-anak jalanan itu. Pemeliharaan tersebut tidak hanya diartikan berwujud santunan tunai seperti bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), namun lebih dari itu yakni jatah mereka untuk mendapat hak atas pendidikan yang murah dan terjangkau dan pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan pokok.

Bersama-sama kita doakan agar kebocoran pengelolaan anggaran negara tidak semakin berlarut-larut. Semoga semua anak-anak di Indonesia mendapatkan hak yang sama dalam bertumbuh kembang dengan baik dan meraih masa depan yang gemilang. Selamat Hari Anak Nasional!

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Mengenang Tragedi dan Petaka di Gunung Lawu yang Tewaskan Banyak Orang

+ PLUS Mengenang Tragedi dan Petaka di Gunung Lawu yang Tewaskan Banyak Orang

Di balik keindahan Gunung Lawu yang menjadi magnet bagi para pendaki, rupanya menyimpan tragedi dan petaka yang tewaskan banyak orang, di antaranya Tragedi Gunung Lawu 1987 dan Petaka Kebakaran Gunung Lawu 2015.

Berita Terkini

Diundang Rembuk Atasi Stunting, Anggota DPRD Sragen Tak Ada yang Hadir

Masuk dalam tim percepatan penurunan stunting, tak ada satu pun anggota DPRD Sragen yang hadir dalam rembuk stunting yang digelar Pemkab Sragen. Bupati sempat mempertanyakan ketiadaan anggota DPRD dalam forum itu.

IHSG Sesi I di Zona Merah, Sejumlah Saham Longsor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (28/6/2022).

Beli Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi, Bakul Boyolali: Ribet!

Pembelian minyak goreng curah di Boyolali belum menggunakan aplikasi PeduliLindungi per Selasa (28/6/2022), tetapi pedagang menyebut kebijakan tersebut lebih ribet dibandingkan memakai KTP.

Jadwal 8 Besar Piala Presiden: Persib vs PSS, PSIS vs Bhayangkara FC

Persib Bandung akan melawan PSS Sleman dan PSIS vs Bhayangkara FC pada babak perempat final atau 8 besar Piala Presiden 2022.

Misteri Burung Jalak Lawu, Jelmaan Pengikut Prabu Brawijaya V?

Burung Jalak Lawu yang kerap membantu pendaki diyakini sebagai jelmaan patih Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Puluhan SD Negeri di Solo Kekurangan Siswa, Ada yang Dapat 2 Pendaftar

Sebanyak lebih dari 20 Sekolah Dasar (SD) negeri di Kota Solo, Jawa Tengah kekurangan siswa saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2022.

Satpol PP Tutup 12 Outlet Holywings di Jakarta, Ini 3 Jenis Pelanggaran

Penutupan Holywings di Jakarta menyikapi arahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mencabut izin operasi Holywings.

Manfaatkan REC PLN, Seluruh Istana Kepresidenan Diterangi Energi Hijau

Seluruh lingkungan kesekretariatan presiden, mulai dari istana kepresidenan di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogya dan Tampaksiring sudah 100 persen menggunakan listrik dari energi terbarukan.

Jadwal Piala Presiden 2022 Hari Ini, Perebutan 1 Tiket Tersisa 8 Besar

Satu tiket tersisa perempat final Piala Presiden 2022 diperebutkan oleh RANS Nusantara FC dan Barito Putera.

Beli Migor Curah via PeduliLindungi, Luhut: Bisa Cepat Beradaptasi

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan ingin agar selama dua pekan masa sosialisasi dan transisi ini dijalankan, masyarakat mulai mencoba sistem baru ini.

Soal Warga Karanganyar Meninggal di Saluran Irigasi, Polisi: Dia Pikun

Polisi tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh Sukardi, 71, warga Kaling, Tasikmadu, Karanganyar yang ditemukan meninggal di saluran irigasi Desa Nangsri, Kebakkramat, Karanganyar, Selasa (28/6/2022).

Latihan Timnas Amputasi Indonesia Persiapan Piala Dunia di Turki

Akan berlangsung di Turki pada akhir September hingga Oktober 2022

Kisah Misteri Lokasi Pasar Setan Gunung Lawu

Inilah lokasi dan wujud Pasar Setan di Gunung Lawu yang menyimpan sederet kisah misteri.

Mengenang Tragedi dan Petaka di Gunung Lawu yang Tewaskan Banyak Orang

Di balik keindahan Gunung Lawu yang menjadi magnet bagi para pendaki, rupanya menyimpan tragedi dan petaka yang tewaskan banyak orang, di antaranya Tragedi Gunung Lawu 1987 dan Petaka Kebakaran Gunung Lawu 2015.

Prosedur Pencarian Orang Hilang di Luar Negeri Seperti Kasus Marshanda

Bila mengalami kejadian serupa Marshanda, bagaimana prosedur pencarian orang hilang di luar negeri?