Tutup Iklan -->
GAGASAN : Melihat dan Meresapi Tanpa Kendali Meniru
Susatyo Yuwono (Istimewa)

Gagasan Solopos edisi Selasa (17/5/2016), ditulis Susatyo Yuwono. Penulis adalah psikolog/dosen di Fakultas Psikologi  Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Kandidat Doktor Psikologi di Universitas Gadjah Mada.

Solopos.com, SOLO — Pemberitaan media massa beberapa pekan terakhir sebagian mengungkap kejahatan asusila yang makin marak. Kejahatan ini makin memprihatinkan manakala para pelaku dan korban adalah para remaja, bahkan anak-anak.

Mereka yang seharusnya menjadi generasi penerus yang gemilang, namun malah terjerumus tidak karuan. Sehingga masa depan bangsa pun menjadi suram, tidak jelas mau dibawa ke mana apabila hal ini dibiarkan terus.

Apabila memerhatikan berbagai informasi, kejahatan asusila termasuk salah satu jenis kejahatan dengan tingkat kejadian yang terus meningkat setiap saat. Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi lokasi kejahatan terhadap anak, baik berupa tindak kekerasan maupun kejahatan seksual, meningkat dibandingkan pada 2015.

Statistik tentu bukan acuan utama sehingga bisa diperdebatkan, namun menilik sifat kejahatan asusila yang berkaitan dengan hal yang bersifat tabu maka besar kemungkinan statistik yang muncul baru sebatas puncak gunung es. Kasus sebenarnya dimungkinkan jauh lebih besar daripada angka yang dilaporkan.

Sebagian besar kejahatan asusila yang terjadi dimungkinkan tidak pernah terungkap di media massa atau media sosial karena menghindari rasa malu yang lebih besar. Kondisi demikian tentu sangat memprihatinkan.

Artikel ini tidak dimaksudkan mengkritik peran berbagai pihak, namun lebih ditekankan pada mengungkap bagaimana proses kemunculan kejahatan asusila ini yang kemudian menjadi marak. Melalui perspektif psikologi, uraian lebih banyak menilik proses yang dialami diri pelaku kejahatan. [Baca selanjutnya: Psikologi Perilaku]


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho