GAGASAN : Lunturnya Etika Generasi Y
Rani Tiyas Budiyanti ranitiyasbudiyanti@gmail.com Dokter umum dan dosen Bioetika di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Rani Tiyas Budiyanti ranitiyasbudiyanti@gmail.com Dokter umum dan dosen Bioetika di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Rani Tiyas Budiyanti
ranitiyasbudiyanti@gmail.com
Dokter umum dan dosen Bioetika
di Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret

Peristiwa pembunuhan seorang perempuan oleh sepasang kekasih yang juga masih muda menggegerkan masyarakat. Modus pembunuhan yang diduga karena cinta segitiga, kecemburuan, dan sakit hati tersebut cukup banyak disesalkan berbagai kalangan.

Mereka menarik napas panjang dan mengelus dada mengetahui polah sepasang pemuda tersebut. Berbagai pihak mulai membuat dugaan pemicu sikap tega tersebut. Beberapa kalangan mengatakan hal tersebut akibat menonton film atau game yang mengandung tindak kekerasan yang kini jadi hal umum dikonsumsi remaja.

Sebagian kalangan lainnya mengatakan hal tersebut adalah salah orang tua yang lalai mengawasi mereka. Tindak pembunuhan oleh sepasang kekasih yang masih muda tersebut merupakan salah satu tanda lunturnya etika masa kini.

Etika merupakan suatu konsep dalam diri mengenai baik buruk (moral) yang mengajarkan cinta kepada sesama atau lingkungan. Terdapat prinsip utama dalam etika yaitu tidak merugikan (no do harm/nonmaleficience), berbuat baik (beneficience), kebebasan menentukan pilihan (autonomy), dan keadilan (justice). Konsep-konsep tersebut merupakan prinsip dasar seseorang bersikap tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada makhluk hidup lain dan lingkungan.

Etika berbeda dengan etiket yang merupakan wujud tampilan luar dari seseorang seperti tata krama, sopan santun, cara berpakaian, dan cara berkomunikasi. Seseorang yang sopan, berpakaian baik, dan ramah belum tentu mempunyai etika atau moral yang baik.

Tetapi, sebaliknya, seseorang yang beretika baik biasanya akan berperilaku baik, sopan, dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ketika seseorang memahami benar konsep etika, orang tersebut tidak akan bersikap egois dan mempunyai rasa empati terhadap lingkungan.

Sayangnya, di Indonesia saat ini, etiket lebih menjadi sorotan. Sekolah menengah pertama maupun atas yang memiliki layanan bimbingan konseling sering kali mengedepankan etiket dibandingkan etika. Teguran tentang cara berpakaian, sopan santun, dan cara berkomunikasi sering kali menjadi kesalahan yang dilakukan siswa.

Pendidikan moral dan karakter yang seharusnya menjadi dasar etika yang baik sering kali dilupakan. Hal tersebut semakin diperparah ketika para siswa telah memasuki jenjang perguruan tinggi. Proses pembelajaran yang mengasah daya kognitif mahasiswa mengambil porsi yang lebih besar dibandingkan dengan afektifnya.

Tindakan menyontek, plagiarisme, dan kompetisi yang tidak sehat antarmahasiswa menjadi hal lumrah yang turun-temurun terjadi. Peraturan-peraturan dan sanksi diberikan kepada mahasiswa yang melanggar etiket dan melakukan tindakan kriminal, tetapi  dasar mengenai etika tentang ”love of life” tidak banyak diajarkan. Hal ini hanya mencetak mahasiswa yang takut dan patuh pada peraturan hanya karena sanksi yang diberikan.

Kurang Perhatian

Remaja saat ini didominasi oleh generasi Y atau dikenal dengan generasi milenia. Generasi tersebut lahir antara 1980 hingga awal 2000 dan dikenal sebagai generasi yang melek teknologi. Perkembangan teknologi yang canggih dan didukung kurangnya perhatian orang tua menjadikan teknologi tersebut menjadi ”sahabat” bagi generasi Y.

Cara orang tua yang mendidik anak dengan aturan yang tegas dan kolot seperti cara pendidikan yang dilakukan oleh orang tua mereka sebelumnya sering kali membuat remaja generasi ini menjadi tertutup kepada kelurga mereka.

Munculnya media sosial yang menawarkan kebebasan kepada pengguna untuk menuangkan segala bentuk pemikiran ke dalam media tersebut menjadi sarana pelarian bagi remaja generasi Y. Segala bentuk status, komentar, atau foto mengenai kegalauan dituangkan dalam beberapa media sosial seperti Facebook atau Twitter.

Penggunaan teknologi canggih ibarat menggunakan pisau bermata dua, jika tahu manfaat dan cara penggunaannya akan memberikan efek yang menguntungkan. Sebaliknya, jika tidak digunakan secara bijaksana akan menyebabkan efek negatif yang luar biasa. Salah satu contoh negatif yang sering terjadi di media sosial adalah tindakan bullying.

Para remaja saling mengolok-olok satu dengan yang lainnya dan menanamkan ”negative image” sehingga secara tidak sadar konsep negatif itulah yang tertanam pada diri mereka. Tanpa pendampingan dari orang tua sebagai pemberi semangat, remaja tersebut akan menjadi rendah diri, mudah menyerah dan depresi.

Sebaliknya, rasa sakit hati karena sering kali diolok-olok oleh teman akan menjadikan remaha arogan, egois, ambisius untuk mendapatkan pengakuan diri dari lingkungannya, bahkan dapat menyebabkan gangguan kepribadian ketika mereka mulai menginjak dewasa.

Media sosial juga dapat menjadi lahan yang subur untuk memberikan pengaruh kepada para remaja. Status-status di media sosial yang lebih banyak berisi tentang keluhan, berita negatif mengenai pembunuhan, korupsi, kegagalan, dan ketidakadilan memberikan efek histeria massa.

Status atau berita negatif yang dibaca secara berulang-ulang akan menjadikan pembacanya gelisah dan ketakutan. Stigma bahwa dunia itu kejam pun tertanam erat dalam pikiran

Lunturnya etika, terutama di kalangan remaja era generasi Y, tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua atau guru mereka. Masyarakat ikut bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan karakter para remaja sebagai tonggak penerus bangsa.

Apa jadinya bangsa Indonesia jika para remajanya adalah remaja yang tidak beretika? Mewarnai kembali etika para remaja dapat dimulai dari keluarga. Perhatian, motivasi, penanaman etika, sebaiknya diajarkan oleh orang tua sejak dini.

Alangkah lebih baik jika dalam pengajaran tersebut anak juga dilibatkan untuk berpikir kritis mengenai alasan mengapa mereka harus mencintai sesama, bersikap adil, menghargai kebebasan orang lain, dan tidak merugikan orang lain.

Pendidikan formal juga memberikan andil dalam. Caranya sesuai dengan jenjang pendidikan dan usia. Cara mengajar etika kepada anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak tentu berbeda dengan pengajaran etika kepada remaja.

Para pendidik diharapkan dapat membaur dalam kehidupan, mengajar dengan gaya atau tren di era mereka (generasi Y) sehingga penanaman etika dapat dilakukan. If you want to teach them, you must reach them.

Masyarakat dapat memulai penanaman etika dengan menciptakan lingkungan yang kondusif. Saling menyebarkan berita kebaikan dan positif sehingga dapat memacu semangat bagi lingkungan sekitarnya, dan sebaliknya tidak terlalu membesar-besarknat berita yang negatif.

Sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain, serta hidup rukun dan berdampingan secara damai dalam perbedaan juga perlu dikembangkan dalam masyarakat. Dengan hal tersebut diharapkan etika remaja generasi milenia saat ini dapat kembali berwarna dan hidup. Semoga.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom