GAGASAN : Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan
Azaki Khoirudin (Istimewa)

 

Islam Tengah
Dikotomi antara Islam tradisionalis dan Islam modernis ketika dikaitkan dengan wacana Islam Nusantara ala NU dan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah tampak semakin melemah.

NU yang tradisional dan Muhammadiyah yang modern adalah pandangan yang sudah umum. Tradisional karena dalam praktik keagamaan NU banyak praktik ritual yang campur aduk dengan budaya-budaya yang Nusantara.

Muhammadiyah dikenal modern karena golongan ini mencoba membawa Islam agar sesuai tuntutan dan keadaan zaman. Kenyataan membuktikan untuk konteks sekarang ternyata NU semakin tradisionalis, terutama dalam hal merawat tadisi dan budaya.

Di NU memang sudah banya lompatan, misalnya dengan muncul istilah pemaknaan ulang ahlus sunnah waljamaah dan pemaknaan ulang konsep bermazhab, tetapi kemunculan Islam Nusantara Islam khas ala Indonesia, serta integrasi nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di negeri ini menjadi paradoks. Islam tradisionalis itulah Islam Nusantara.

Kedua arus Islam ini, baik ”Nusantara” atau pun “berkemajuan” harus bersama-sama menjadi kekuatan Islam moderat (tenga) di Indonesia. Dalam konteks wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara adalah Islam yang mengedepankan jalan tengah dengan tawasut (moderat), tidak ekstrem, inklusif, toleran dan damai, serta menerima demokrasi.

Islam Nusantara jika ingin menjadi alternatif peradaban dunia Islam tidak cukup hanya mengembangkan tradisi lokal. Islam Nusantara dengan mengembangkan Islam yang damai itu tidak cukup karena Islam adalah agama peradaban.

Selain ramah, santun, dan toleran, Islam Nusantara juga harus berkemajuan dan berkeunggulan di segala bidang kehidupan seperti ekonomi, politik, dan budaya di level lokal dan global.

Islam berkemajuan bersifat kosmopolitan. Muhammadiyah dapat menjadi teologi tengah dengan karakteristik mengakui kebinekaan (diversity), menjadi masyarakat madani (civil society), memiliki perguruan tinggi Islam, dan menjunjung tinggi konstitusi negara.

Dalam konteks tersebut, tolok ukur atau indikatornya paling tidak Muhammadiyah harus fokus dan menjadikan isu-isu berikut sebagai agenda besar, yakni pendidikan yang selalu mengembangkan paradigma baru; penghormatan kepada hak asasi manusia (al-karomah al-insaniyah) dengan bertumpu pada maqasid syari’ah, bukan sekadar syariat; membangun relasi harmonis antarumat beragama; dan mengedepankan kesetaraan gender serta perlindungan anak-anak.

Baik NU maupun Muhammadiyah harus bersama-sama menghadirkan Islam sebagai yang bersikap tengah (wasithiyah). NU dan Muhammadiyah harus bersatu mengamalkan nilai-nilai Islam yang ramah dan berporos pada jalan tengah atau aqidah washatiyah: saling menghargai sebagai Islam rahmatan lil alamin untuk kesejahteraan seluruh alam semesta.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom