GAGASAN : Belajar di Solo

Redaksi Solopos.com - Solopos.com
Jumat, 13 Oktober 2017 - 06:00 WIB

SOLOPOS.COM - Mahasiswa asing di Universitas Sebelas Maret mengunjungi Redaksi Solopos pada Juni 2017 lalu. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Yudi Sastroredjo, anggota staf di International Office Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah yudisastroredjo@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–“Pomalsie,” jawaban singkat ketika ditanya kenapa memilih Solo sebagai tempat kuliah. Dia menjawab dengan bahasa Slovakia, negara asalnya,  yang dalam bahasa Indonesia berarti ”lebih pelan”. “Solo itu lebih pelan, lebih tenang, dan tidak perlu terburu-buru kalau ingin ke mana-mana,” kata dia dalam bahasa Indonesia.

Kata ”pelan” memiliki makna positif bagi dunia pendidikan. Kota yang tenang dan pelan merupakan suasana kondusif yang diharapkan oleh mahasiswa internasional dalam mengenyam pendidikan di Indonesia. Kota Solo mampu menghadirkan suasana tersebut.

Lima tahun berselang, saya kembali teringat percakapan dengan Sabina Rehusova itu saat saya hadir pada hari kedua penyelenggaraan Solo International Performing Arts (SIPA) 2017 untuk mendampingi mahasiswa baru internasional Universitas Sebelas Maret (UNS).

Sambil menunggu pertunjukan dimulai, dalam perbincangan ringan saya sisipkan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa baru internasional UNS. Sama dengan Sabina, sebagian dari mereka memilih UNS karena kotanya. Fakta menarik ketika alasan memilih universitas untuk tempat kuliah dipengaruhi pilihan kota tempat universitas itu berada.

Menurut Direktur SIPA Community, Irawati Kusumorasri, seperti yang diberitakan Solopos edisi Rabu, 6 September 2017, SIPA 2017 menargetkan 10.000 penonton per hari dengan jumlah pengunjung wisatawan mancanegara 1.000 orang per hari. Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Solo, Budy Sartono, mengatakan acara ini bagian dari pembangunan citra Kota Solo untuk mendatangkan wisatawan luar negeri.

Untuk menyemarakkan SIPA 2017, Universitas Sebelas Maret (UNS) melibatkan diri melalui kehadiran mahasiswa internasional di acara tersebut. Tujuan utamanya agar keberadaan mahasiswa internasional ini bisa memberikan kontribusi nyata untuk Kota Solo. Momentum yang tepat, sinergi yang manis, dan saling menguntungkan.

Selanjutnya adalah: Mungkinkah sinergi ini berkembang?

Sinergi

Mungkinkah sinergi ini makin berkembang? Kota Rennes di Prancis pada awal tahun ajaran baru, pada September, selalu menyelenggarakan acara khusus untuk menyambut mahasiswa baru terutama untuk mahasiswa internasional. Setidaknya terdapat lebih dari empat acara, salah satunya Tam-Tam Festival.

Walikota Kota Rennes mengundang seluruh mahasiswa internasional yang baru datang di kotanya untuk makan malam di Hotel de Ville atau kantor wali kota dengan undangan bertuliskan Bienvenue Étudiants étrangers (Selamat Datang Mahasiswa Internasional).

Saat ini di Soloraya terdapat kurang lebih 285 mahasiswa internasional yang hampir setengahnya berada di UNS. Bandingkan dengan Universitas Udayana Bali yang memiliki sekitar 1.300 mahasiswa internasional. Kalau ditilik dari peringkatnya, Universitas Udayana berada di bawah UNS baik itu versi Webometric, 4ICU, maupun versi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam forum UN WTO 14 September 2017 lalu menyebutkan saat ini sedang ada tiga revolusi digital. Revolusi adalah perubahan dramatis, total, ekstrem, bahkan cenderung paradoks, yang menimbulkan disruption di banyak industri. Revolusi tersebut disingkat dengan 3T, yakni telecommunication, transportation, dan tourism.

Couchsurfing dan Airbnb  mengubah perilaku wisatawan tidak lagi tidur di hotel dan berburu festival budaya. Mereka melakukan sharing ekonomi, menawarkan kamar di rumah yang sedang kosong dengan tarif murah dan pengalaman unik di sebuah kota seperti seorang warga lokal. Ini semua berjalan secara digital. Hal ini tentu harus mengubah paradigma kita bersama dalam mendefinisikan “wisatawan”.

Kedatangan wisatawan tak bisa lagi hanya dimaknai sebagai bergulirnya aktivitas ekonomi menginap di hotel, menggunakan transportasi lokal, menjelajahi kekayaan kuliner, dan bonusnya membeli oleh-oleh.

Kita harus mengubah cara pandang tersebut dengan menempatkan mahasiswa internasional lebih dari wisatawan. Jika wisatawan melakukan transaksi dalam hitungan hari, selama acara festival budaya berlangsung, mahasiswa internasional melakukan transaksi ekonomi dalam hitungan bulan bahkan tahun.

Selanjutnya adalah: Mereka datang ke Solo dengan membawa dana

Membawa Dana

Mereka datang ke Solo dengan membawa dana untuk dibelanjakan membayar tempat indekos, makan tiga kali sehari, dan berbelanja kebutuhan lainnya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Untuk menangkap potensi “wisatawan” ini, seluruh stakeholders pariwisata perlu menambah fokus promosi tidak hanya pada festival-festival budaya, melainkan juga melalui kampanye Study in Solo. Kehadiran mahasiswa internasional di Solo membawa efek bola salju.

Bayangkan ada banyak mahasiswa internasional yang rajin berburu batik di Pasar Klewer, seperti Muhama Lohmi dari Thailand Selatan. Dia berbelanja batik kemudian menjualnya kembali di kampungnya ketika pulang libur semester. Ada banyak mahasiswa internasional yang selama kuliah di Solo sering dikunjungi teman mereka dan saat dia wisuda seluruh keluarganya datang untuk menghadiri prosesi wisuda dilanjutkan liburan tiga pekan di Solo, seperti Cao Tai Loc dari Vietnam.

Inilah potensi yang perlu dikembangkan. Saat ini universitas seperti berjalan sendirian untuk mendatangkan mereka ke Solo. Bagi mahasiswa internasional, setiap sudut kota adalah panggung pertunjukan. Ini disampaikan Adrian Crapciu dari Rumania dalam bukunya Cross View on Solo 24 Hours.

Seorang ibu yang mencuci baju di luar rumah, lelaki dewasa yang ngobrol sambil menonton TV di pos ronda, remaja yang berkerumun dan mengaji bersama di masjid adalah sebagian contoh panggung yang hadir secara alamiah di Kota Solo.

Itulah keunikan Kota Solo, pembeda dengan kota-kota lain di dunia, kota yang lekat dengan kultur guyub yang ditampilkan di ruang publik. Promosi Study in Solo menjadi lebih penting karena ternyata bagi mahasiswa internasional pengalaman-pengalaman lokal keseharian lebih menarik.

Kebiasaan orang Solo yang makan di lantai, sering kita sebut lesehan,  membuat takjub mahasiswa dari Uzbekistan. Cara pedagang telur di Pasar Gede mendeteksi telur busuk hanya dengan cara menerawang telur menggunakan kertas yang digulung membuat mahasiswa dari Tiongkok terkesima. Kebiasaan ini tidak ditemui di negara mereka.

Akhirnya kita bersama bisa memahami bahwa dunia pariwisata memang sudah berubah, sudut pandang harus berubah, wisata tak lagi tentang acara budaya saja tetapi juga pendidikan dan pengalaman lokal sebagai bentuk wisata.

Keputusan orang untuk melakukan perjalanan baik berwisata maupun berkuliah di luar negeri dipengaruhi oleh kuatnya faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor). Seperti disampaikan di atas, para mahasiswa internasional ternyata memiliki faktor pendorong mencarikota yang nyaman untuk belajar dan ingin merasakan pengalaman lokal yang unik dan autentik.

Selanjutnya adalah: Kota Solo mempunyai modal penarik

Penarik

Kota Solo mempunyai modal dari sisi faktor penarik, yaitu sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di Indonesia setelah Kota Balikpapan. Kampanye Study in Solo menyosialisasikan belajar di Kota Solo menjadi ruang baru bagi para pegiat pariwisata sebagai lahan garap bersama.

Para pelaku industri pariwisata, pemerintah kota, dan universita smasing-masing memiliki peran tersendiri. UNS sebagai universitas kluster satu di Indonesia selalu dituntut untuk memperbaiki layanan pendidikannya agar bertaraf internasional.

Pemerintah Kota Solo membungkus kampanye Study in Solo dengan cara  membangun kerja sama dengan pemerintah kota di berbagai negara melalui kemudahan perizinan, jaminan keamanan, subsidi biaya tertentu bagi mahasiswa internasional, dan acara-acara khusus bagi mahasiswa internasional.

Pegiatwisata, memberikan sumbangsih denganmembuat dan mempromosikan paket-paket wisata pendidikan (short course) bernuansa kearifan lokal yang kepakarannya berada di universitas seperti Solo Cultural Course, Traditional Herbal Medicine Course, Javanese Muslim Community Course, dan lain sebagainya.

Tentu kita akan merasa bangga ketika Kota Solo kemudian dikenal sebagai kota tujuan pendidikan, setara dengan Oxford, Cambridge, Kyoto, Karlsruhe, dan Utrech. Kota-kota yang bukan kota terbesar di negaranya.

Kerja bersama antara Pemerintah Kota Solo, perguruan tinggi, dan pegiat pariwisata layak ditunggu untuk menempatkan Kota Solo sebagai kota edukasi bertaraf internasional menjadi ikon baru kota ini. Semoga…

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif