GAGASAN : Audit Menyeluruh Pelayanan Imunisasi
Giat Purwoatmodjo (Istimewa)

Gagasan Solopos, Kamis (30/6/2016), Giat Purwoatmodjo. Dosen di Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Solopos.com, SOLO — Jajaran Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Mabes Polri) menangkap 13 orang karena terlibat pembuatan dan peredaran vaksin palsu.

Para tersangka ditangkap pada Kamis (16/6) di delapan lokasi terpisah seperti Tangerang Selatan, Jakarta, Bekasi, dan Subang. Mereka berperan sebagai produsen, kurir, penjual atau distributor, serta pencetak label ampul vaksin.

Polisi menggerebek empat lokasi produksi vaksin palsu. Dua orang yang menjadi produsen vaksin palsu ini ditangkap di perumahan elite Kemang Pratama Regency, Bekasi, Selasa (21/6) malam (Solopos, 27/6).

Saat ini peredaran vaksin palsu ditengarai merambah hingga enam provinsi, yakni Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, Banten, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, dan Sumatra Utara (Solopos, 28/6).

Berita peredaran vaksin palsu membuat masyarakat tersentak, marah, khawatir, bahkan sampai mengutuk pelaku. Sebagian masyarakat menuntut mereka dihukum mati. Reaksi masyarakat sangat bisa dipahami.

Mereka khawatir anak, cucu, keponakan, hingga kerabat yang masih bayi berisiko jadi korban imunisasi memakai vaksin palsu. Muncul ketakutan imbas negatif dari vaksin palsu bisa berujung pada sakit yang membahayakan atau malah memicu kondisi fatal.

Memerhatikan  reaksi masyarakat tersebut, kasus vaksin palsu seyogianya ditafsirkan aparat sebagai tindakan pidana yang luar biasa karena berdampak langsung kepada masyarakat, menyangkut keselamatan nyawa manusia.

Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc.-VPCD mengatakan pemberian vaksin palsu pada bayi dapat memiliki dua dampak negatif. Pertama, dampak keamanan vaksin, mengingat proses pembuatan yang tidak steril, rentan tercemar virus, bakteri, serta menyebabkan infeksi.

Kedua, bayi yang diberi vaksin palsu tidak akan memiliki proteksi atau kekebalan seperti yang diharapkan. Kasus vaksin palsu yang sejauh ini terungkap dikhawatirkan seperti fenomena gunung es. Artinya yang tertangkap baru sebagian kecil dari puluhan atau mungkin ratusan pelaku serupa di seluruh negeri ini.

Menurut Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, produksi vaksin palsu diduga berlangsung sejak 2003. Bisa dibayangkan dalam kurun 13 tahun terakhir, berapa banyak bayi diberi vaksin palsu dari unit pelayanan kesehatan negeri dan swasta. [Baca selanjutnya: Tanggung Jawab]



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom