GAGASAN : Anak sebagai Pelaku Kekerasan Seksual
Dian Sasmita (Istimewa)

Tantangan

Edwin H. Sutherland menyatakan perilaku jahat dipelajari dari lingkungan sosial tempat individu tersebut berada, bukan karena keturunan orang tua (differential association). Interaksi verbal maupun nonverbal dengan orang dewasa tentang kejahatan memberi ruang anak mempelajari dan meniru perilaku salah.

Anak yang terjerumus ke balik jeruji penjara mayoritas disebabkan pengaruh lingkungan sosial. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk berkumpul dengan orang dewasa yang memiliki potensi berbuat kriminal.

Kenapa mereka bisa bergaul dengan kelompok demikian? Karena mereka tidak nyaman di rumah, mereka tidak bersekolah, mereka tidak memilki alternatif kegiatan positif untuk mengisi waktu, atau alasan lainnya.

Ketika mereka kemudian melakukan tindak pidana dan divonis pidana penjara maka kehidupan mereka akan berubah 180 derajat. Mereka terpisah dari keluarga, harus tinggal di kamar khusus bersama teman-teman baru yang senasib.

Mereka berkenalan dengan kebiasaan baru seperti senam pagi serta makan dengan waktu dan jatah khusus. Mereka harus tunduk pada tata tertib selama di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara. Pembinaan di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara menginduk UU No. 12/1995 tentang Pemasyarakatan.

Narapidana diposisikan sebagai subjek selayaknya manusia lainnya yang memiliki harkat dan martabat. Manusia tidak ada yang tidak pernah lepas dari khilaf dan dikenai sanksi. Pembinaan di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara sebagai upaya menyadarkan mereka agar menyesali perbuatan mereka dan dapat kembali berguna di masyarakat.

Faktanya proses pembinaan masih belum maksimal karena fasilitas yang ada belum sesuai kebutuhan anak, misalnya terkait keberlanjutan pendidikan mereka. Petugas lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara kurang menguasai keterampilan konseling anak.

Program khusus untuk anak belum tersedia, masih menumpang program kegiatan narapidana dewasa. Kalaupun ada, fasilitas dan materi pembinaan belum mendukung pengembangan diri anak. Kita tidak dapat menutup mata dengan keberadaan anak di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara khusus dewasa.

Jumlah mereka tidak banyak, tapi ada. Perlu disadari juga tentang dampak pemenjaraan pada anak. Pemenjaraan merupakan proses akulturasi dan asimilasi tata cara kehidupan di dalam penjara (Donald Clemmer). Indikasinya berupa penggunaan istilah khusus, terdapat strata sosial tertentu, ada kelompok utama dan pemimpin kelompok.

Penyaringan perilaku negatif dari hasil interaksi sosial anak di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara tak dapat dilakukan 100%. Perilaku tersebut telah melembaga sekian waktu dan dilakukan oleh banyak orang sehingga menjadi budaya.

Menempatkan anak di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara merupakan fase esensial dari proses rehabilitasi perilaku dan psikis. Dukungan keluarga lewat kunjungan berkala sangat besar pengaruhnya pada psikis anak.

Kebutuhan kasih sayang dan perhatian keluarga tidak bisa disubstitusi sepenuhnya oleh petugas/wali pemasyarakatan. Tindak kriminalitas pada masa lalu tidak akan terhapus seketika dengan mereka berada di dalam sel penjara. [Baca selanjutnya: Pendampingan]


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho