Tutup Iklan
Seorang warga Tanggan, Gesi, Sragen, memungut sampah di kawasan TPA Tanggan, Gesi, Sragen, yang sepi hewan ternak, Kamis (21/2/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Pemkab Sragen gagal mempertahankan raihan penghargaan Adipura 2018 yang diserahkan pada 2019 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Penyebabnya, Pemkab Sragen dianggap gagal dalam mengelola sampah karena kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan tempat pembuangan sampah (TPS) sudah overload.

Sebelumnya, selama dua tahun berturut-turut, Pemkab Sragen berhasil memboyong penghargaan Adipura 2016 dan 2017. Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menyesalkan penghargaan Adipura 2018 terlepas dari genggaman Sragen.

Yuni mengakui persoalan sampah menjadi penyebab utama kegagalan Sragen mempertahankan penghargaan Adipura. Menurutnya, persoalan sampah memang masih menyisakan persoalan yang harus segera dibenahi.

“Dengan jumlah penduduk 900.000 jiwa dan luas wilayah 941 km persegi, produksi sampah di Sragen itu mencapai 678,86 ton/hari. TPA yang kita miliki itu cuma ada satu. Kondisinya sudah overload. Ketinggian tumpukan sampah sudah capai 20 meter. Itu sudah tidak bisa ditolerir [toleransi]. Sewaktu-waktu itu bisa jugruk [longsor],” ujar Yuni saat ditemui wartawan di Pendapa Rumdin Bupati Sragen, Kamis (21/2/2019).

Setelah penghargaan Adipura terlepas dari genggaman, Pemkab Sragen mulai fokus mengedukasi masyarakat. Pemkab Sragen berencana memberikan bantuan mesin cacah plastik atau komposter ke setiap RW. Harapannya, warga bisa mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis seperti kerajinan tangan atau pupuk.

“Pada 2020, kami juga berencana menganggarkan dana untuk pembelian TPS mobile untuk tiap kelurahan. Di Kota Sragen saat ini sudah ada 14 TPS yang kondisinya sudah overload. Kami tidak mungkin lagi menambah karena sekarang sudah tidak zamannya lagi ada TPS. Nanti TPS mobile itu sebagai gantinya. Jadi, begitu sampah di TPS mobile penuh bisa langsung ditarik pakai mobil. Bukan diangkut lagi ke truk sampah sampai berceceran di pinggir jalan seperti saat ini,” jelas Yuni.

Yuni juga menyesalkan masih ada kebiasaan warga yang membuang sampah sembarangan. Mereka membuang sampah di pinggir TPS sehingga membuatnya meluber ke jalanan.

“Ke depan, warga harus diajari bagaimana memilah-milah sampah. Tidak semua harus dibuang ke TPS. Kalau bisa dimanfaatkan mengapa tidak dikelola dengan baik. Mulai sekarang, kami harus berjuang untuk meraih penghargaan Adipura itu lagi,” tegas Bupati.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten