Warga berswafoto dengan latar belakang mural tokoh wayang di dekat flyover Manahan, Jl. Adi Sucipto, Solo, Rabu (26/12/2018). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Mural dua penari menjadi pilihan Danar, 28, untuk mengabadikan gambar di dinding bawah flyover Manahan, Solo, beberapa waktu lalu. Bersama enam orang temannya, ia lantas mengeksplorasi mural-mural unik nan futuristik di ikon baru Kota Solo itu.

Pilihan berikutnya jatuh pada mural warna-warni bermotif komposisi geometris. Di titik itu, ia dan teman-temannya berpose levitasi (melayang di udara).

Hal serupa dilakukan Taufan Apriawan, 24. Ia menelusuri deretan mural yang ada. Bedanya Taufan memilih menjadi sang juru kamera. Terowongan alias lorong bawah flyover dengan dinding besi bergelombang mencuri perhatian.

Di kawasan yang belum sepenuhnya dibuka itu, ia banyak mengambil gambar. Sudah menjadi agenda rutin bagi Danar dan Taufan mengeksplorasi destinasi alternatif di Kawasan Solo dan sekitarnya.

Sebagai pemburu sudut instagramable, flyover Manahan bak arena bermain baru. Mural, mozaik, dan ragam hias fasad yang ada menarik dibingkai jadi foto apik.

“Enggak perlu ke Bandung atau Jogja. Solo juga punya. Tapi sayang kurang pencahayaan. Penerangannya kurang hidup. Kalau soal gambar sih sudah kekinian meski muralnya tokoh wayang. Bisa foto di mural mana pun sesuai selera,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (26/12/2018).

Hal senada disampaikan Taufan. Ia meminta Pemkot menambah penerangan di area sekitar flyover. Lampu yang menyorot mural bisa jadi pilihan. Ini untuk mendukung kesiapan kawasan tersebut menjadi ikon baru Kota Bengawan.

“Saran lagi untuk menambah fasilitas toilet umum dan menambal jalan-jalan yang rusak,” kata dia.

Penanggung jawab pembuatan mural flyover Manahan sekaligus Direktur Mewarnai Indonesia, Irul Hidayat, mengatakan mural menghiasi dinding jalan layang Manahan bagian barat, timur, dan utara sepanjang 2.500 meter. Konsepnya, klasik futuristik sebagai representasi Solo masa lalu adalah Solo masa depan.

Pada bagian timur dibuat dominan 50 persen komposisi bidang geometris dan elemen garis modern nan futuristik. Sedangkan di bagian barat berupa narasi klasik Ramayana, lukisan figur Rama, Dewi Sinta, Rahwana dan Hanoman.

Ada pula Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Bima dan Harimbi. “Selain itu di terowongan bawah flyover kami menyebutnya Lorong Cinta, permukaan yang bergelombang kami mural dengan gradasi warna turunan. Di sebelah utara rel warna pink, di bagian selatan rel warna biru. Kami harapkan menjadi ikon yang enggak kalah menarik dari mural-mural dinding,” kata dia, dijumpai Solopos.com di sela aktivitasnya, Selasa (25/12/2018).

Sebagai ikon baru yang mengundang untuk dijadikan latar berfoto, Irul meminta warga berhati-hati. Kendaraan yang melintas terkadang abai terhadap pejalan kaki. Lorong Cinta di sebelah utara berada di tikungan tajam sehingga memaksa pengendara berhati-hati.

Hal tersebut memungkinkan titik itu memiliki jalur pedestrian dan kursi sehingga bisa jadi spot selfie. “Saat ini pengerjaan mural sudah selesai 90%. Pekan ini selesai 100% dan hasilnya sudah bisa dinikmati masyarakat,” tutupnya.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten