Warga bersepeda melintas di Plaza Manahan, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO – Fenomena alam Hari Tanpa Bayangan atau kulminasi utama terjadi di Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (10/10/2019). Fenomena alam ini membuat bayangan benda tegak menghilang alias tidak memiliki bayangan.

Fenomena alam Hari Tanpa Bayangan yang terjadi di Kota Solo terlihat belum sempurna. Sebab, bayangan benda masih terlihat meski Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Fenomena Hari Tanpa Bayangan tersebut diabadikan lewat mata lensa jurnalis foto Solopos, Nicolous Irawan.

Warga menyebrangi Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
Warga menyebrangi Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Dalam foto itu terlihat bayangan benda masih tampak. Hal itu terjadi lantaran proses kulminasi kurang sempurna. Fenomena alam ini terjadi saat Matahari berada di posisi tertingg di langit. Akibatnya, benda yang tegak tampak seperti tidak memiliki bayangan.

Warga melintasi jalur lambat di Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
Warga melintasi jalur lambat di Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan hari tanpa bayangan sebenarnya terjadi setidaknya dua kali dalam setahun. Fenomena alam ini terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang, Aceh, hingga Jayapura, Papua.

Warga menyebrangi Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
Warga menyebrangi Jl. Kolonel Sutarto, Jebres, Solo, saat proses kulminasi matahari berlangsung, Kamis (10/10/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena alam hari tanpa bayangan terjadi karena bidang ekuator Bumi (bidang rotasi Bumi) tidak berimpitan dengan bidang ekliptika (bidang revolusi Bumi). Hal ini menyebabkan posisi Matahari dari Bumi terlihat terus berubah sepanjang tahun. Fenomena alam ini disebut juga sebagai gerak semu harian Matahari.

Kasi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko, menilai Hari Tanpa Bayangan bisa menjadi penanda peralihan musim dari kemarau ke penghujan. Situasi itu hampir sama dengan tahun sebelumnya, yang juga mengalami fenomena matahari berada di posisi paling tinggi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten