Warga Bantengan, Jatibatur, Gemolong, Sragen, menunjukkan fosil tanduk banteng purba di dukuh setempat, Minggu (8/12/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Warga Dukuh Bantengan, Desa Jatibatur, Gemolong, Sragen, menemukan sejumlah fosil diduga tanduk, kaki, dan rahang banteng purba.

Fosil tanduk ditemukan sudah 2016 lalu tetapi belum dilaporkan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Demikian pula fosil diduga kaki banteng dan rahang yang ditemukan warga pada November 2019 lalu.

Fosil itu masih disimpan warga setempat. Seorang tokoh pemuda Dukuh Bantengan, Sudiman Totok, 40, saat ditemui Solopos.com di desanya, Minggu (8/12/2019), mengatakan fosil-fosil itu ditemukan warga saat ada aktivitas penambangan galian C di wilayah Jatibatur pada 2015.

Tiap 21 Menit Palang Joglo Solo Bakal Dilintasi KA, Netizen: Tua Neng Dalan Lur!

Saat itu, Totok sempat melapor ke BPSMP Sangiran supaya aktivitas tambang itu dihentikan tetapi belum ada respons. Kemudian pada 2016, seorang warga Bantengan, Ngatimin, 50, menemukan fosil diduga tanduk banteng.

Panjang fosil sekitar 80 cm dengan diameter pangkal tanduk 15 cm. Fosil itu belum dilaporkan ke Sangiran karena saat kami lapor pada 2015 tidak ada respons.

"Kemudian November lalu ditemukan juga fosil seperti kaki dan rahang banteng. Fosil rahang banteng rusak karena rapuh,” ujarnya.

Dia masih ingat saat masih kecil sekitar 1986 sempat ada penggalian batu seperti kepala banteng di Kedung Banteng. Dia mengatakan Kedung Banteng berada di wilayah Dukuh Bantengan.

Hiii... Pria Diduga Pedofil di Sekitar Bandara Adi Soemarmo Solo Dekati Anak-Anak Sambil Buka Resleting Celana

“Penggalian itu dilakukan oleh dinas. Saat itu sempat dimuat di surat kabar juga. Saat itu juga diambil orang yang katanya dari Sangiran. Setelah saat itu ya baru belakangan ini ditemukan fosil lagi,” ujarnya.

Totok mengatakan banyak makelar yang memburu fosil dan hendak membelinya tetapi warga enggan menjualnya. Dia menunjukkan ada sebagian fosil yang masih terpendam tanah yang sekarang menjadi tebing setelah dikeruk alat berat saat tambang galian C beroperasi.

Dia menyampaikan fosil yang menyerupai tanduk terpendam di tebing tanah. Fosil yang terpendam kena kerukan alat berat sehingga hanya terlihat dari sisi samping.

"Dulu ada cerita saat tambang galian C beroperasi sempat menemukan tulang kemudian ditimbun lagi pada kedalaman 10 meter dari permukaan bukit. Ya, mungkin kalau ketahuan Sangiran galian C itu bisa dihentikan,” katanya.

Kronologi Peselancar Filipina Selamatkan Atlet Indonesia Tenggelam di Semifinal SEA Games 2019

Totok berharap ada perluasan kawasan cagar budaya Sangiran sampai ke Jatibatur sehingga fosil-fosil itu bisa terselamatkan. Dia mengatakan wilayah Bantengan tidak masuk ke kawasan cagar budaya Sangiran karena batasnya jalan Plupuh-Gemolong.

Dia juga berharap ada sosialisasi kepada warga supaya ada pengetahuan tentang fosil sehingga ketika menemukan fosil bisa diselamatkan warga. Sementara itu, anggota staf Perlindungan BPSMP Sangiran, M. Haryono, membenarkan wilayah Bantengan, Jatibatur, tidak masuk kawasan situs cagar budaya Sangiran.

Dia mengakui wilayah Bantengan berpotensi ada temuan fosil seperti Miri dan Tanon. Dia meminta warga yang menemukan fosil supaya melapor karena riskan diperdagangkan secara perseorangan.

Setengah Tanah Terdampak Tol Solo-Jogja, Warga Minta Dibayar Penuh

“Jual beli fosil itu tidak boleh. Saya masih sering mendengar ada praktik jual beli fosil sampai ada mafia atau tengkulak fosil. Saran saya segera laporkan! Kami pasti segera menindaklanjuti. Selama ini kami hanya memantau lewat informasi dari masyarakat. Untuk menetapkan kawasan situ harus ada penelitian, kajian, dan kebijakan,” ujar Haryono.

Dia menyatakan sesuai UU kalau ada penemuan fosil harus segera dilaporkan. Jika tidak dilaporkan bisa dikenai sanksi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten