Tutup Iklan

Formappi Sebut DPR Kedodoran Sejak Dipimpin Puan, 2 Tahun Baru Selesaikan 2 RUU

Selama dua tahun di masa kepemimpinan Puan Maharani, DPR hanya bisa mengesahkan dua dari total 246 RUU.

 Puan Maharani. (Antara-Istimewa)

SOLOPOS.COM - Puan Maharani. (Antara-Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA — Lembaga DPR RI dinilai mengalami kemunduran kinerja sejak dipimpin Puan Maharani. Banyak target legislasi yang tak tercapai di masa kepemimpinan politikus PDIP tersebut.

Penilaian itu disampaikan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi). “Kinerja DPR di bawah kepemimpinan Puan saat ini tampak kedodoran. Bayangkan mereka hanya mampu mengesahkan empat RUU Prioritas selama 2 tahun,” ujar Peneliti Formappi, Lucius Karus, kepada wartawan, Senin (6/9/2021), seperti dikutip dari detik.com.

Ia mengatakan pada Tahun 2021 ini baru satu RUU Prioritas yang disahkan DPR RI. Catatan ini, menurut Lucius, terlampau buruk jika melihat jumlah keseluruhan RUU Prolegnas 2020-2024 yang berjumlah 246 RUU.

Baca Juga: Alasan Komnas HAM Proses Lagi Kasus Pelecehan Seksual Pegawai KPI Setelah Mandeg di 2017

“Artinya mereka baru mengurangi jumlah itu menjadi 242 RUU tersisa. Untuk tahun ini dari 33 RUU Prioritas, baru 1 diantaranya yang bisa disahkan. Padahal waktu menuju akhir tahun tersisa kurang lebih 3 bulan masa kerja lagi,” sambungnya.

Kunker ke Austria

Pada bagian lain, Lucius juga menyoroti langkah Puan Maharani yang terbang ke Austria di tengah pandemi Covid-19 ini. Puan pergi untuk menghadiri Fifth World Conference of Speakers of Parliament (WCSP). Formappi menilai kehadiran Puan secara langsung bukan hal yang urgen.

“Dari sisi urgensi, saya tak melihat kehadiran Puan di Forum IPU itu juga sangat-sangat krusial. Jika untuk membuka jejaring saja, saya kira kehadiran fisik bukan pilihan satu-satunya di situasi PPKM seperti sekarang. Jejaring justru mungkin akan lebih efektif di masa seperti ini menggunakan instrumen tekonologi informasi. Diplomasi juga bisa kok dilakukan secara virtual di tengah situasi seperti ini,” papar Lucius.

Baca Juga: Membantah Saat Disuruh Tidur, Santri Ponpes di Demak Kena Hajar Ustaz

Lucius mengatakan DPR sebenarnya sudah bersikap dengan bijak saat menangguhkan kunjungan kerja di tengah pandemi Corona. Namun, keberangkatan Puan ke Austria dinilai memberikan pesan kunjungan kerja kembali dilakukan dan memberi peluang anggota DPR lainnya melakukan hal serupa.

“Kunjungan Puan ke Austria untuk menghadiri rapat Pimpinan Parlemen dunia memberikan pesan bahwa kunker ke luar negeri yang dibatasi selama ini sudah kembali bisa dilakukan. Tentu saja ini contoh yang kurang baik dari Ketua DPR, yang justru memberikan peluang bagi agenda kunjungan serupa yang dilakukan anggota DPR,” tuturnya.

Terlambat

Misi Puan dalam agenda tersebut dinilai terlambat. Pasalnya, menurut Lucius, pemerintah telah cukup berhasil dalam vaksinasi COVID-19.

“Apalagi disebutkan misi Puan salah satunya adalah mendorong akses vaksin yang adil dan merata dari negara maju. Perjuangan ini tentu terlihat mulia walau harus dikatakan sangat terlambat sih. Pemerintah sudah cukup berhasil dalam hal diplomasi vaksin ini. Kenapa Ketua DPR tak mendukung kerja pemerintah ini saja?,” tuturnya.

Baca Juga: Round Up: Warga Tolak Saipul Jamil Tampil di TV hingga Amien Rais Soal Amendemen

Lucius menilai tak ada legitimasi yang cukup bagi Puan untuk berbicara di forum internasional. Hal ini dikarenakan belum adanya sumbangsih nyata dari kepemimpinan Puan bagi perubahan bangsa.

“Dengan catatan itu sesungguhnya tak ada legitimasi yang cukup bagi Ketua DPR untuk berbicara dengan lantang di forum internasional. Kinerja lembaga yang dipimpinnya belum cukup memperlihatkan sumbangsih nyata dari pelaksanaan fungsi mereka bagi perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Dengan bekal kinerja lembaga yang buruk itu tentu tak ada alasan untuk menunjukkan diri pada dunia. Kecuali kalau mau bicara mimpi-mimpi dan jargon-jargon saja sih,” tuturnya.


Berita Terkait

Berita Terkini

Bertambah 4 Jenazah, Korban Erupsi Semeru 43 Orang

Pencarian korban serta pembersihan lokasi yang dilakukan sejak pukul 05.30 WIB itu sempat dihentikan sementara setelah terpantau awan hitam pekat dan mendung di sekitar Dusun Curah Kobokan.

Playoff USW Championship Season 2 Dimulai

Turnamen e-sports antartim kampus se-Indonesia, Unity Student Warchief Championship Season 2, memasuki babak akhir mulai Kamis (9/12/2021).

Ini Tampang Guru Cabul Perkosa 13 Santri hingga Lahirkan 9 Anak

Inilah tampang Herry Wirawan, guru cabul yang tega memperkosa 13 santri di Bandung hingga melahirkan sembilan anak.

Hindari Banjir Lahar, Posko Induk Tim SAR Dipindah dari Sumberwuluh

Banjir lahar dingin menerjang Desa Sumber Wuluh dan mengakibatkan rumah-rumah warga terendam pasir hingga nyaris seatap rumah.

Erupsi Semeru Dikaitkan Ramalan Jayabaya, Ini Penjelasan BPBD

Aktivitas vulkanik di Gunung Semeru yang menyebabkan guguran awan panas dan dikira erupsi dikaitkan dengan Ramalan Jayabaya.

+ PLUS Setop Kriminalisasi dan Kekerasan Terhadap Pembela HAM!

Serangan kepada pembela HAM kian meningkat setiap tahun. Peningkatan itu mencakup jumlah maupun ragam kekerasannya.

Ribuan Hektare Lahan Rusak Akibat Erupsi Semeru, Jadi Lautan Abu

Ribuan hektare lahan terdampak erupsi Gunung Semeru yang kini berubah menjadi lautan abu.

Jokowi Disebut Bakal Jadi King Maker dalam Pilpres 2024

Tiga partai politik (parpol) penghuni Senayan diprediksi menjadi penentu dalam pertarungan Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) tahun 2024.

Ridwan Kamil Blak-blakan Cari Parpol untuk Maju Pilgub dan Pilpres

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, mengaku sedang mencari parpol sebagai kendaraan untuk maju kembali dalam Pilgub Jawa Barat (Jabar) maupun Pilpres 2024.

Kenapa Presiden Indonesia Selalu dari Jawa? Ini Sebabnya

Selama 76 tahun berdiri, Indonesia  telah dipimpin oleh tujuh presiden yang kebanyakan berasal dari Suku Jawa. Apakah memang presiden harus dari Jawa?

Jeff Smith Ditangkap Lagi, Polisi Sebut Kemungkinan Hukuman Lebih Berat

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Endra Zulpan, menyebut kemungkinan Jeff Smith mendapatkan hukuman lebih berat karena pernah terjerat kasus serupa.

+ PLUS Edtech akan Untung Besar dengan Memperbanyak Kursus Daring

Sekolah informal seperti kursus dan pelatihan keterampilan tertentu akan semakin mengadopsi sistem daring. Penyelenggara edtech akan lebih untung jika masuk pasar kursus dan berbagai jasa pelatihan.

Kisah Ali Nguli Pasir Demi Sesuap Nasi, Hilang Ditelan Erupsi Semeru

Kisah tragis tentang Ali, seorang kuli penambangan pasir yang hilang diduga tertimbun awan panas erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021).

Jokowi Singgung Tuntutan Hukuman Mati Terdakwa Kasus Asabri, Ada Apa?

Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi menyinggung tuntutan hukuman mati terhadap terdakwa kasus korupsi PT Asabri.

Orang Suku Jawa Mudah Diterima, Ini Alasannya!

Jumlah populasi Suku Jawa yang cukup signifikan di berbagai daerah di Indonesia ini menjadi bukti bahwa Suku Jawa adalah kelompok masyarakat yang paling mudah diterima.

Olaf Scholz Resmi Dilantik Jadi Kanselir Jerman Gantikan Angela Merkel

Olaf Scholz resmi dilantik sebagai Kanselir baru Jerman pada Rabu (8/12/2021), mengakhiri empat masa jabatan Angela Merkel di pucuk pimpinan negara tersebut.