Logo Chevrolet. (Reuters)

Solopos.com, SOLO — Hengkangnya Chevrolet dari pasar Indonesia belum lama ini menjadikan dua merek mobil asal Amerika Serikat (AS) berhenti beredar di Indonesia setelah sebelumnya Ford juga hengkang.

Hengkangnya Ford dan Chevrolet dari pasar Indonesia memicu opini yang menyebut bahwa konsumen mobil di Indonesia ketergantungan mobil merek Jepang. Maklum, mobil merek Jepang banyak ditemui di jalanan Indonesia.

Namun, pengamat otomotif, Bebin Djuana, membantah opini tersebut. Menurutnya, penjualan mobil di Indonesia memang sedang lesu.

"Kalau bicara [pasar Indonesia tidak seksi lagi] gara-gara volume penjualan, itu tidak bisa jadi alasan. Karena semua merek otomotif di Indonesia mengalami penurunan penjualan [akhir-akhir ini]," kata Bebin kepada wartawan seperti dikutip Detik.com, Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, pasar Indonesia sangat luas dan terbuka bagi berbagai merek. "Saya sewaktu masih berdinas, selalu disampaikan manajemen soal luasnya (daratan) Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Itu kalau petanya ditaruh, itu persis seperti ujung barat pantai Amerika dengan ujung timur pantai Amerika, lebarnya sama. Berarti besar sekali kan," terang Bebin.

Selanjutnya, faktor jumlah penduduk menjadi alasan lain yang menjamin tumbuh kembang industri otomotif di Tanah Air. "Kedua, ada kurang lebih 270 juta orang Indonesia yang tidak diam di tempat dan punya kebutuhan untuk bergerak, dan kebutuhannya makin meningkat," sambung Bebin.

Atas alasan itu, ia membantah jika konsumen Indonesia sulit menerima merek mobil dari luar Jepang seperti Ford dan Chevrolet. "Jadi bohong kalau ada yang mengatakan, menghadirkan sebuah merek otomotif baru [di luar merek Jepang] ke Indonesia itu enggak punya harapan, itu bohong. Apa pun lah mau roda empat atau roda dua [pasti ada harapan berkembang], tinggal mereka kerja keras dari level top management sampai pekerja level bawah," pungkasnya.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten