Alat berat meratakan halaman Pasar Notokan sebelum dibangun taman dan air mancur untuk menunjang fasilitas food court di pasar Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, itu, Jumat (3/5/2019). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Pemerintah Desa (Pemdes) Pule, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, kini tengah membangun food court untuk meramaikan Pasar Notokan. Food court itu ditargetkan bisa dibuka sebelum Lebaran.

Pemdes Pule kini tengah mengebut pembangunan teras dan taman penunjang di depan food court itu. Pembangunan taman dan teras itu merupakan rangkaian revitalisasi Pasar Notokan.

Sebelumnya, kios-kios lama di pasar itu dibongkar dan dibangun 12 kios baru. Kemudian, dengan konsep L, di salah satu deretan lainnya dibangun 10 lapak khusus kuliner menyerupai food court.

Di hadapan deretan kios dan food court itu lah, taman dilengkapi air mancur dibangun. “Sebelum Lebaran kami upayakan selesai dan pedagang bisa berjualan,” kata Kaur Perencanaan Desa Pule, Sutopo, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (3/5/2019).

Sutopo menjelaskan Pemdes Pule menyiapkan dana Rp150 juta dari dana desa untuk pembangunan taman dan teras itu. Material sisa pembongkaran dimanfaatkan untuk penataan lahan yang akan dipakai sebagai tempat parkir dan delapan lapak PKL dengan konsep knock down yang bersebelahan dengan Pasar Notokan.

“Untuk pembangunan lapak PKL knock down dibutuhkan sekitar Rp90 juta dan Rp130 juta. Dengan pembangunan ini, sekitar 60 persen dana desa dipakai untuk revitalisasi pasar. Sisanya kami alokasikan untuk infrastruktur di dusun, pembinaan, dan pemberdayaan masyarakat,” terang dia.

Khusus food court, lapak akan buka pada siang hari. Lapak itu hanya dipakai untuk meracik bahan matang yang sebelumnya dimasak di rumah. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kawasan itu banyak PKL kuliner namun menjadi kumuh lantaran semua makanan dipersiapkan di lokasi berjualan.

“Sedangkan untuk PKL knock down nanti buka malam hari. Setelah pukul 16.00 WIB boleh buka dan pagi harus sudah bersih lagi,” ujar dia.

Sutopo memproyeksikan dari hasil revitalisasi Pasar Notokan itu bisa menambah Pendapatan Asli Desa (PAD) hingga 100 persen. Sebagai gambaran, sebelum penataan, sewa kios hanya Rp360.000 per tahun.

Saat itu statusnya adalah Hak Guna Bangunan (HGB). Seusai revitalisasi, harga sewa kios dipatok Rp2,5 juta-Rp3 juta per kios per tahun. Harga itu belum termasuk pembayaran listrik dan air.

“Sedangkan lapak PKL ini dulu sewanya Rp90.000 per bulan. Sekarang kami perbaiki sehingga sewanya jadi Rp1,5 juta per tahun. Harga itu sudah termasuk listrik dan air. Sekarang kondisinya juga jauh lebih bersih. Peminatnya sudah banyak tapi kami prioritaskan kepada warga Desa Pule dahulu,” beber dia.

Melalui revitalisasi Pasar Notokan itu, ia berharap dalam 2-3 tahun ke depan Desa Pule menjadi desa mandiri yang tidak bergantung kepada bantuan baik pemerintah daerah maupun pusat. Seminimal mungkin, Desa mampu membiayai dirinya sendiri atau meningkatkan taraf hidup perangkat desanya.

“Ke depan pula, pengelolaan pasar ini akan kami serahkan kepada BUM Desa. Saat ini, kami belum bikin BUM Desa karena biayanya besar,” ujar Sutopo.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten