Lalu lintas kendaraan di area proyek saluran drainase flyover Manahan, di kawasan Hotel Agas Internasional, Solo, Jumat (27/10/2017). (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO--Sejumlah karyawan Hotel Agas Solo memilih mengundurkan diri atau resign dari pekerjaan setelah hotel semakin sepi akibat terdampak proyek pembangunan jalan layang (flyover) Manahan.

General Manajer Hotel Agas, Budi Setiawan, menyampaikan hingga Kamis (3/5/2018), sedikitnya ada lima karyawan Hotel Agas yang mengundurkan diri. Dia memastikan para mantan karyawannya tersebut berhenti bekerja bukan karena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari manajemen melainkan keputusan pribadi.

“Ada lima karyawan yang keluar bukan karena PHK tapi mereka memang mengundurkan diri setelah diterima bekerja di hotel lain,” kata Budi saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis.

Budi menilai keputusan para mantan karyawannya tersebut termasuk lumrah mengingat kondisi Hotel Agas yang semakin sepi sejak dimulainya pekerjaan proyek flyover Manahan di depan hotel di Jl. dr. Moewardi. Para karyawan Hotel Agas akhirnya memilih pindah bekerja di hotel lain yang lebih ramai. Manajemen tak bisa melarang para karyawannya untuk mengundurkan diri.

“Biasa, karyawan resign untuk mencari hotel lain yang lebih ramai dan menjanjikan karena yang dirasa Hotel Agas kini semakin sepi sehingga memengaruhi pemasukan mereka,” jelas Budi.

Meski di masa-masa sulit, manajemen Hotel Agas sementara ini tak berencana mem-PHK karyawannya. Manajemen melakukan hal itu karena tak tega mengingat para karyawan harus tetap memperoleh penghasilan. Hanya, dia mengakui manajemen tak lagi merekrut tenaga baru untuk mengganti lima karyawan yang resign. Manajemen terpaksa menempuh langkah itu mengingat kondisi keuangan Hotel yang belum membaik.

“Semoga kami tak sampai melakukan PHK karena berat, mengingat para karyawan juga menanggung keluarga," katanya.

Diwawancarai terpisah, Chief Engineering Hotel Agas, Cahya Tri Irmadi, menyampaikan tingkat okupansi Hotel Agas kini paling banyak hanya mencapai 10 kamar per hari. Capaian tersebut jauh lebih rendah ketimbang sebelum masa rekayasa lalu lintas pembangunan flyover Manahan per 12 Maret lalu sampai 30 kamar per hari. Akibat minimnya pendapatan itu, Hotel Agas terpaksa melakukan efiensi pengeluaran nonsumber daya manusia (SDM). Tidak menutup kemungkinan manajemen Hotel Agas akan melakukan efisiensi SDM.

“Tidak bisa dimungkiri pembicaraan ke arah PHK karyawan sudah ada. Sekarang ini kami sudah melakukan efisiensi pengeluaran non-SDM. Jika kondisinya memaksa, kami baru akan melakukan efisiensi SDM. Terkait efisiensi SDM ini, kami ibarat makan buah simalakama, yakni jika dilakukan pelayanan kurang, tapi jika tak dilakukan siapa yang mau menggaji karyawan?” kata Cahya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten