Salah satu kelompok tari yang tampil dalam pembukaan FKY Bantul 2015, Kamis (20/8) di halaman Kompleks Perkantoran Pemkab Bantul, Manding. (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)

FKY 2015 untuk Bantul kesulitan menemukan ikon kesenian.

Solopos.com, BANTUL-Kendati jumlah kelompok seni terus bertambah, namun pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul justru kesulitan menemukan ikon kesenian untuk Bantul.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Bambang Legowo mengatakan, jumlah kelompok seni yang ada di Bantul berdasarkan data tahun 2014 adalah sebanyak 1.897 kelompok yang tersebar di 17 kecamatan. Dengan dilibatkannya kabupaten dalam gelaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), ia yakin jumlah kelompok seni itu akan terus bertambah setiap tahunnya.

Memang, sejak tahun lalu, masing-masing kabupaten/kota di DIY diberikan kesempatan untuk turut menggelar event seni tahunan itu. Dengan anggaran ratusan juta yang bersumber dari Dana Keistimewaan (Danais), sudah barang tentu banyak masyarakat berlomba-lomba membentuk kelompok seni.

Kendati begitu, pihak pemkab Bantul justru kesulitan dalam menentukan kesenian apa yang layak dan pantas dijadikan sebagai ikon kesenian untuk Bantul. Jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya, Bantul memang belum memiliki kesenian khas yang ikonik. Sebut saja misalnya Sleman dengan jathilannya, Kodya Jogja dengan kethopraknya, dan Kulonprogo dengan Tari Angguknya.

"Bantul memang belum ada. Kalau ditanya, saya bingung jawabnya," kata Bambang saat ditemui di sela acara pembukaan FKY Bantul, Kamis (20/8/2015) siang di kompleks Perkantoran Pemkab Bantul, Manding.

Sejauh ini, setidaknya ada beberapa kesenian tradisional yang berpotensi menjadi ikon dari kesenian Bantul. Beberapa kesenian itu kerap tampil mewakili Bantul dala berbagai event, baik yang berskala regional maupun nasional. Sebut saja misalnya Wayang Reog, Slawatan Montro, jathilan, dan Gejlok Lesung. “Tapi belum ada yang kami tetapkan sebagai ikon Bantul seutuhnya,” imbuhnya.

Kendala yang diakuinya untuk menetapkan ikon kesenian itu lantaran terlalu beragamnya jenis kesenian yang ada di Bantul. Keberagaman kesenian itu diakuinya tak hanya muncul saja, melainkan juga telah berkembang. “Kalau saya pilih salah satu, takutnya yang lain malah iri,” akunya.

Memang, pihaknya tidak mengakui kurang memberikan pengawasan terhadap berkembangnya kelompok seni itu. Selama ini, pihaknya hanya membiarkan kelompok seni itu bermunculan saja. “Kami memang belum memantau bagaimana perkembangan kualitasnya. Yang terpenting sekarang adalah menjaga agar spirit berkeseniannya tetap ada,” tegasnya.

Terkait hal itu, Susilo, salah satu seniman tradisional asal Bantul mengakui, penetapan ikon kesenian untuk Bantul itu bukanlah hal penting. Pasalnya, sebagai seniman, ia menilai apresiasi dan eksistensilah yang seharusnya menjadi ukuran sebuah kesenian itu berkembang atau tidak.

Itulah sebabnya, dengan berkembangnya beragam kesenian yang ada di Bantul, ia menganggap hal itu justru menjadi keunggulan tersendiri. Setidaknya dengan begitu, masyarakat luas bisa mengetahui bahwa Bantul adalah lahan subur untuk berkembangnya segala bentuk kesenian tradisi di DIY. “Saya rasa biarkan seperti ini. Seperti yang anda lihat di FKY ini,” katanya.

Dalam pembukaan FKY Bantul itu sendiri, setidaknya ada 34 kelompok seni yang turut andil. Beragam jenis kesenian tradisi mereka tampilkan, mulai hadrah, jathilan, tari tradisional, hingga pentas beragam topeng dan tokoh pewayangan.

Selain pembukaan yang digelar di Kompleks Perkantoran Pemkab Bantul, Manding itu, FKY Bantul juga akan digelar di 3 wilayah eks tuti, yakni Imogiri (Bantul Timur) pada 21-22 Agustus, Sewon (Bantul Tengah) pada 23-24 Agustus, dan Srandakan (Bantul Barat) pada 25-26 Agustus.

Di ketiga event itu, jumlah seniman yang akan terlibat adalah sebanyak 1.020 orang. Tahun ini, Dispar Bantul mendapatkan jatah Danais untuk gelaran FKY sebesar Rp600 juta lebih.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten