FKWA Menyoroti Pencemaran Sungai Winongo

FKWA Menyoroti Pencemaran Sungai Winongo

SOLOPOS.COM - Kegiatan Sarasehan Menemukenali Pencemaran Limbah Winongo di Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada Sabtu (20/5/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)

Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) menyoroti air Sungai Winongo yang tercemar dengan kategori berat dinilai dari indeks biotilik.

Solopos.com, BANTUL–Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) menyoroti air Sungai Winongo yang tercemar dengan kategori berat dinilai dari indeks biotilik.

Kondisi kualitas sungai dengan indeks biotilik dibagi menjadi empat kategori, yaitu tidak tercemar (3,3 sampai 4,0), tercemar ringan (2,6 sampai 3,2), tercemar sedang (1,8 sampai 2,5) dan tercemar berat (1,0 sampai 1,7).

Ketua FKWA Yogyakarta, Endang Rohijani memaparkan dari hasil pengamatan FKWA, Sungai Winongo segmen Tegalrejo hingga Pakuncen menunjukkan adanya pencemaran ringan. Kesimpulan ini didapatkan dari nilai indeks biotilik sebesar 2,6.

“Hasil pengamatan biotilik di Sungai Winongo segmen Mantrijeron menunjukkan bahwa kualitas sungai dalam kondisi tercemar berat, dinilai dari indeks biotilik sebesar 1,6,” ujarnya.

Pengamatan kondisi sungai ini dilakukan oleh FKWA bersama akademisi dari Teknik Geologi UGM, Teknik Sipil Atmajaya, Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan Kelompok Studi Entomologi Fakultas Biologi UGM pada 30 April 2017 menemukan hasil yang tak jauh dari prediksi awal.

Hasil penelitian tersebut disampaikan dalam Sarasehan Menemukenali Pencemaran Limbah Winongo di Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada Sabtu (20/5/2017).

Endang menjelaskan, penilaian kualitas air sungai dengan biotilik tersebut dilakukan dengan menghitung sejumlah parameter, yaitu keragaman jenis mikroorganisme invertebrata (hewan tak bertulang belakang), keragaman jenis famili mikroorganisme invertebrata, persentase kelimpahan mikroorganisme invertebrata EPT, dan penilaian indeks biotilik.

Tak hanya itu saja, FKWA juga mengamati kondisi fisik bantaran sungai. Beberapa temuan di antaranya timbunan sampah, tebing sungai yang rawan longsor, dan buangan limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke sungai. FKWA juga mengamati vegetasi dan kondisi mata air yang masih tersisa.

“Dari hasil pengamatan, pencemaran yang terjadi di Sungai Winongo disebabkan karena adanya pembuangan limbah tangga dan industri rumah tangga,” katanya.

Staf SatKer PSPLP DIY, Nurul Latifah Hanum mengamini banyaknya limbah rumah tangga yang mencemari Sungai Winongo. Ia mengatakan limbah-limbah domestik tersebut dipicu oleh peningkatan jumlah penduduk yang berimbas pada bertambahnya aktivitas masyarakat dan menghasilkan limbah.

Selain itu, pengolahan limbah domestik juga belum terlayani dengan baik. “Pembangunan IPAL Sewon belum melayani limbah domestik di bantaran sungai,” ucapnya.

Nurul menambahkan septik-tank komunal juga masih bermasalah karena tangki rawan bocor, indikasinya setiap dua hingga tiga tahun sekali harus disedot.

Ia mendorong masyarakat untuk peduli pada permasalahan yang ada di lingkungannya dan tidak hanya menunggu tindakan dari pemerintah saja. “Masyarakat bisa membuat proposal dan disampaikan ke satker dinas terkait permasalahan pengolahan limbah ini,” katanya.

Permasalahan pencemaran limbah ini, menurut Kepala Balai PSDA Dinas PUP dan ESDM DIY Bambang Sugiharto, tidak hanya terjadi di Sungai Winongo saja namun juga di Sungai Gajah Wong, Bedog, Code, Kali Kuning dan yang lainnya.

Maka Bambang menyatakan hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama baik bagi pemerintah maupun masyarakat, agar permasalahan pencemaran limbah dapat diselesaikan. “Bagaimanapun sungai adalah ruang lingkup kita,” tegasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

FOTO : Vaksinasi Covid-19 Bagi Pelajar Kota Solo

Vaksinasi Covid-19 bagi pelajar di Kota Solo

FOTO : Sepi Pengunjung, Perwatan Satwa TSTJ Terus Dilakukan

Perawatan satwa koleksi Taman Satwa Taru Jurug

Hari Jadi Ke-271 Kabupaten Klaten, Sederet Penghargaan Diraih Bupati

Sederet penghargaan diraih Bupati Sri Mulyani selama memimpin Kabupaten Klaten sejak periode pertama 2017 hingga periode kedua 2021

Lagi, Megawati Singgung Presiden Jokowi soal Kementerian

Megawati mengingatkan Presiden Jokowi agar memegang komando kerja penanganan bencana.

Cakep! Jembatan Gantung Dungus Klaten Dicat Warna-Warni, Cocok untuk Spot Selfie

Jembatan gantung di Dukuh Dungus, Desa Mundu, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, dicat warna-warni sejak tiga pekan terakhir.

Pakar ITB Sebut Pekalongan, Demak, & Semarang Bakal Tenggelam, Ini Penyebabnya Versi ESDM Jateng

ESDM Jateng membeberkan penyebab Semarang, Demak, dan Pekalongan, yang diprediksi tenggelam.

Hati-Hati, Risiko Kematian Akibat Covid-19 Bergeser dari Lansia ke Usia Produktif

Peningkatan kematian disebabkan mobilitas penduduk pada kelompok usia produktif yang cukup tinggi.

Ditantang Warga Positif Covid-19 Main Pingpong di GOR Gelarsena Klaten, Begini Jawaban Gubernur Ganjar

Gubenur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi tempat isolasi terpusat pasien corona di GOR Gelarsena Klaten pada Rabu (4/8/2021).

4.299 Pelamar CPNS dan PPPK di Boyolali Lolos Administrasi

Sebanyak 4.299 pelamar CPNS dan PPPK tahun anggaran 2021 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali telah lolos tahap administrasi.

Dukung Operasional Satgas Covid-19, Baznas Klaten Serahkan Bantuan

Baznas menyerahkan perlengkapan pendukung operasional Satgas Covid-19 di Kabupaten Klaten dalaman menangani pandemi Covid-19.

Digugat Cerai Suami, Unggahan Tyas Mirasih di Instagram Jadi Sorotan

Kabar kurang baik datang dari rumah tangga Tyas Mirasih, dia dikabarkan digugat cerai oleh sang suami yang bernama Raden Soedjono.

Dicari Suaminya, Perempuan Asal Plupuh Sragen Ternyata Sudah Mengapung di Bengawan Solo

Seorang perempuan asal Plupuh, Sragen, ditemukan mengapung tak bernyawa di Sungai Bengawan Solo pada Rabu (4/8/2021)