Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

 Anicetus Windarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Anicetus Windarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Bukan kebetulan bahwa pada peringatan yang ke-71 ini sekaligus juga untuk mengenang 100 tahun tokoh perfilman Indonesia, yaitu H. Usmar Ismail.

Melalui para tokoh itulah, film Indonesia menjadi media hiburan dan sekaligus media pendidikan  pada masa kini. Meski pada masa lalu film yang dikenal sebagai “gambar idoep” hanya dapat ditonton oleh masyarakat dari kelas tertentu, kini semua kalangan dapat menyaksikannya.

Itulah mengapa saat ini film telah menjadi komoditas yang cukup populer, setara dengan media komunikasi modern lainnya seperti surat kabar, bahkan telepon genggam sekalipun. Film tetap memiliki daya tarik yang khas atau unik lantaran mampu memberi gambaran yang cukup lengkap dan utuh ketimbang siaran radio misalnya.

Daya tarik itulah yang membuat film begitu diminati oleh sebagian besar kalangan, terutama dalam menanamkan perhatian terhadap sejarah. Sejarah yang menyimpan jejak langkah dari masa lalu itu merupakan catatan penting yang bermanfaat untuk membangun masa depan yang telah diawali dan dapat diwujudkan pada masa kini.

Melalui film, masa lalu dapat dikonstruksi dan dipelajari kembali dengan gaya dan penampilan yang lebih segar, tajam, dan kreatif. Dengan kata lain, sejarah dapat dibaca dan dikaji ulang secara alternatif agar tidak sekadar menjadi media pembelajaran yang seakan-akan terkesan kuno, kumuh, dan sama sekali lepas dari konteks pada masa kini.

Salah satu contoh film sejarah yang selalu menarik untuk dipelajari adalah Guru Bangsa Tjokroaminoto. Film yang dirilis pada tahun 2015 dan digarap oleh sineas terkenal Garin Nugroho ini mengisahkan tentang jejak langkah tokoh lokal dalam pergerakan Indonesia pada awal abad ke 20.

Tokoh yang telah menjadi sosok penting dan menentukan lebih dari 100 tahun yang lalu itu meski masih terdengar asing dalam pelajaran sejarah sesungguhnya merupakan ”embrio” dari kesadaran kaum muda seusianya pada masa lalu. Itulah kesadaran yang mampu menggerakkan rakyat buta huruf tanpa pangkat, status, bahkan harta untuk menyuarakan atau mengekspresikan apa yang sebelumnya tak pernah dibayangkan, apalagi dipikirkan.

Bayangkan para petani di desa terpencil yang belum pernah melihat dan mendengar hal-hal yang baru ketika berada di tempat-tempat yang disebut vergadering atau reli/rapat terbuka dan voordracht atau pidato. Hal-hal yang sebelumnya tak diketahui atau disangka itu bahwa orang bumiputra bersaudara dan sama-sama manusia seperti orang Belanda adalah pengalaman baru yang luar biasa, menggairahkan, dan aneh.

Tak mengherankan mereka mengungkapkan pengalaman yang tidak lazim dan tak terbahasakan itu dengan harapan-harapan ”milenarian” atau ”mesianik”. Itulah bahasa Ratu Adil yang kerap dipakai dalam studi-studi sejarah pergerakan rakyat di Indonesia.

Bahasa tersebut dalam buku Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Pustaka Utama Grafiti, 1997) dijelaskan sebagai dibentuk oleh pengalaman orang-orang pada saat vergadering dan bukan sebaliknya, justru mendapatkan makna yang tak terduga dari dan bagi kaum kromo.

Masuk akal jika dalam film tentang Tjokroaminoto itu rakyat ditampilkan sebagai orang-orang yang begitu mengelu-elukannya sebagai Satria Piningit. Artinya, mereka bukan hanya percaya pada apa yang dikatakan oleh para pemimpin di bawah kendali Tjokroaminoto, tetapi mereka juga menjadikan kartu keanggotaan Sarekat Islam atau SI sebagai jimat yang dikalungkan.

Rel kereta api yang sempat dilalui oleh Tjokroaminoto beserta teman dan anak didiknya pun disembah-sembah. Mitisisme yang sedemikian ”radikal” itu tidak bisa tidak menyulut ”kekacauan” dan ”ketidakteraturan” yang keluar dari ”kotak pandora” rakyat bumiputra, yang dibuka oleh bahasa yang tidak sengaja digerakkan oleh para pemimpin SI.

Rakyat

Itulah mengapa rakyat yang muncul di pinggiran gerakan SI semakin keluar dari jangkauan kontrol para pemimpin dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat Eropa dan suiker syndicaat (sindikat gula), termasuk para pegawai administrasi pemerintah kolonial Belanda.

Terlebih lagi, perkelahian jalanan (antaranggota SI dan orang Tionghoa serta non-SI), gosip liar, tingkah laku yang tidak patut, penolakan kerja paksa, telah menyentuh, mengguncang, dan merusak kewenangan serta kewibawaan rust en orde yang secara ekstrem merupakan syaraf-syaraf peka dari (pegawai) pemerintah Belanda.

Beruntunglah, kisah yang menceritakan pengalaman orang-orang yang mampu melahirkan pergerakan Indonesia pada masa lalu telah direkam ulang sebagai tontonan yang memberi tuntunan. Terlepas dari nuansa hiburan yang melekat padanya, film tentang Tjokroaminoto patut dijadikan sebuah pelajaran sejarah alternatif tentang dunia pergerakan yang menghadirkan rakyat di panggung atau arena politik.

Rakyat yang tidak punya kosakata modern untuk mengungkapkan pengalaman baru mereka dalam membangun solidaritas ternyata mampu ”mengguncang kekuasaan negara” dengan ikut campur dalam ”urusan pemerintah”. Dalam bahasa pergerakan masa lalu, mereka secara mengagumkan telah mengacaukan ”rust en orde” yang menandai kejayaan dari kekuasaan pada masa lampau.

Bukan kebetulan jika melalui gubernur jenderal yang berkuasa penuh atas Hindia Belanda, kemunculan SI sebagai tanda ”kebangkitan bumiputra” dibatasi ruang geraknya hanya pada tingkat lokal di bawah bimbingan seorang penasihat urusan pribumi bernama Rinkes. Dengan jalan yang dipilih pemerintah ini, gerakan kerakyatan SI mencapai titik balik yang baru dan membawa persoalan-persoalan tersendiri yang membuat orang-orang meninggalkannya seperti ”orang abis nonton wajang”.

Persoalan yang juga pernah dialami oleh Boedi Oetomo itu mulai menggerogoti dan mengoyak solidaritas di kalangan bumiputra, baik di kalangan para pemimpin maupun orang-orang biasa. Suara-suara yang semula terdengar militan, meyakinkan, bersemangat, dan menyenangkan dalam surat kabar dan vergadering justru tampak biasa-biasa saja, bahkan tidak lagi menggerakkan rasa solidaritas yang tinggi di kalangan bumiputra.

Maka, meski masih menyimpan kartu anggota dan meminta bantuan jika ada kesulitan, kebanyakan rakyat yang pernah punya kegairahan terhadap SI telah menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu. Sementara di antara para pemimpin yang didominasi oleh kaum muda hanya menghasilkan ”komedi omong” tentang ideologi mana yang dapat mengembalikan semua tanah yang dikuasai orang Timur Asing (perkebunan swasta milik orang Tionghoa) kepada orang bumiputra.

Lebih dari itu, semua orang Eropa dapat diusir dari Jawa sesegera mungkin. Tjokroaminoto sendiri sudah tidak seperti dulu lagi. Tulisan-tulisannya, apalagi suaranya, sudah tidak lagi cemerlang dan luar biasa. Hanya Mas Marco Kartodikromo yang menampilkan dirinya dengan jelas melalui ”perang suara” terhadap pemerintah Hindia Belanda dan Tjokroaminoto yang sudah berada ”di bawah perlindungan pemerintah”.

Meski hanya bersuara dan belum bertindak, masa itu menjadi saat dan tempat yang tepat untuk ”berteriak”. Bukan kebetulan jika Semaoen yang adalah anak didik Tjokroaminoto bergerak dengan menggalang kekuatan/kekuasaan secara terus terang, keras, dan revolusioner. Melalui kampanyenya menentang milisi bumiputra (Indie Weerbaar) dan keterlibatan SI dalam Volksraad, Semaoen menunjukkan bahwa memimpin pergerakan adalah sebuah upaya untuk membentuk suatu kekuatan.

Tindakan-tindakan radikal Semaoen yang mengusik dan membuat Tjokroaminoto naik pitam secara samar-samar terekam pula dalam film Tjokroaminoto. Pidatonya yang sesungguhnya mendapat tepuk tangan jauh lebih meriah daripada Tjokroaminoto juga terekam dengan mengagumkan.

Demikianlah pada zaman yang sedang bergerak itu para pemimpin dilahirkan bukan dari kebesaran ideologinya, melainkan dari pengalaman bergerak bersama untuk mendidik rakyat. Sebagaimana dipesankan Tjokroaminoto kepada anak-anak didiknya di pengujung film,”Revolusi dan evolusi itu hanya dibedakan dengan huruf ’r’, yang adalah rakyat. Hati-hati dengan rakyat!”

 

Berita Terkait

Espos Premium

Ini Pandangan Pemimpin Uni Soviet Khruschev Soal Sepak Terjang PKI

Ini Pandangan Pemimpin Uni Soviet Khruschev Soal Sepak Terjang PKI

Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev, menilai aksi militer oleh PKI dengan G30S/PKI adalah kecerobohan karena tidak memahami situasi politik aktual di Indonesia. Media-media Uni Soviet menyebut PKI beraksi atas arahan pemimpin China, Mao Zedong.

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.