FESTIVAL KULINER SOLO : Aksi Chef hingga Kuliner Sumatra
Chef dari Indonesia Chef Association mempraktikan demo memasak saat pembukaan Solo Indonesia Culianry Festival di Benteng Vastenburg, Solo, Kamis (2/4/2015) malam. Festival kuliner tahunan tersebut menghadirkan 107 stan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia yang berlangsung hingga Minggu (5/4/2015. (Reza Fitriyanto/JIBI/Solopos)

Festival Kuliner Solo digelar Kamis-Minggu. Ada 108 stan yang menjajakan aneka kuliner.

Solopos.com, SOLO -- Festival Kuliner Solo atau Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) digelar Kamis-Minggu (2-5/4/2015).

Sebanyak 108 stan memadati kalaman Benteng Vastenburg Solo, lokasi SICF digelar. Stan-stan tersebut berasal dari daerah  berbeda. Mereka menonjolkan kuliner tradisional andalannya.

Sinergi Travel & Event Management Graha Solo Raya Lantai I. Jl Slamet Riyadi No 1 Solo- Jateng Telp +62-271) 5843678 – 2144388. HP 085 70268 6068 Fax +62 271 635936 www.solocitytravelguide.com. Email info@solocitytravelguide.com marketing@solocitytravelguide.com

Ada stan yang menyajikan kuliner seperti kue putu, jenang, gethuk, dan kudapan tradisional khas lainnya.  Ada pula yang menawarkan aneka minuman teh, kopi, hingga ramuan empon-empon.

SICF resmi dibuka Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo pada Kamis (2/4) petang. Tak hanya menampilkan aneka kuliner tradisional, festival yang dihelat pada tahun kedua ini juga memanjakan penonton dengan aksi ciamik para chef yang tergabung dalam Indonesian Chef Assocoation Solo.

Para juru masak profesional yang biasa bekerja di dapur itu menampilkan kebolehannya di hadapan penonton. Bukan kelihaian bermasak yang ditampilkan, namun atraksi memanggang sate dengan semburan api yang berkobar.

Atraksi para chef dimulai usai Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo membuka SICF 2015. Para chef yang berseragam merah-merah berjajar menghadap kompor dan beberapa wajan.

Mereka memegang satu tusuk sate yang terdiri atas aneka bumbu seperti cabai, bawang bombay, dan tomat. Saat kompor mulai di hidupkan, mereka mengangkat tusukan sate itu sambil mencipratkan minyak ke atas teflon.

Api pun berkobar setinggi satu meter. Atraksi ini mendapat sambutan hangat dari para penonton.

Ketua panitia SICF 2015, Daryono, mengatakan festival ini digagas sebagai ajang apresiasi dan promosi kekayaan kuliner nusantara. Wisata bukan hanya berkait dengan destinasi, tetapi juga termasuk wisata kuliner.

Ide festival ini digunakan untuk mendongkrang para wisatawan berkunjung ke Kota Solo. “Gelaran festival ini mengajak orang datang ke Solo untuk mencicipi keberagaman kulinernya, kata dia kepada wartawan.

Daryono menambahkan Kota Solo sebagai insiator tidak lepas dari keinginan untuk mengembangkan kuliner Solo, tidak hanya di Solo sendiri tetapi juga ke luar Solo. Menurutnya, kuliner Solo juga harus dikenal di luar Solo.

“Kalau Jawa Barat bunya makanan seperti cimol atau Palembang pek empek, kenapa Solo tidak dikenalkan ke daerah lain,” ucapnya.

Daryono optimistis festival kuliner bisa mengangkat kembali kuliner tradisional di masa mendatang. Tak hanya mengenalkan kepada masyarakat, tujuan festival ini juga untuk mendokumentasikan ragam kuliner dari Solo dan daerah lain di nusantara.

“Ini supaya masyarakat ingat, Solo punya intep, ampyang, nasi liwet, kue putu, dan banyak lagi,” tuturnya.

SICF 2015 diikuti oleh peserta pelaku usaha kuliner di Solo dan sekitarnya. Di samping itu, festival ini juga dihadiri perwakilan dari Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Peserta dari Sumatera Selatan diwakili Kabupaten Empat Lawang dan Kota Palembang.

Sedangkan peserta dari Kalimantan Selatan menampilkan aneka makanan khas kota Banjarmasin. “Ke depan, di SICF ketiga, kami akan mengundang 25 kabupaten/kota se-Indonesia. Jadi bukan hanya lingkup Jawa, tetapi seluruh nusantara akan berkumpul melestarikan kuliner tradisional,” ujarnya.

Menanggapi acara ini, Kasi Bina Budaya Kabupaten Empat Lawang, Sudiyargo, menyambut positif ajang yang mempertemukan ragam kuliner tradisional ini. Festival ini, kata dia, juga menjadi ajang bagi kabupaten yang baru berusia 8 tahun itu untuk mengenalkan diri.

“Melalui festival ini kami memperkenalkan Empat Lawang, bukan hanya sebagai kabupaten yang memiliki destinasi wisata tapi juga keunikan kuliner. Kami punya makanan Lampok, kami juga punya kopi robusta khas Empat Lawang,” kata dia.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom