Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Seni Rupa, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Susiyanti (kanan), bersama para anggota staf dan kurator Festival Bebas Batas 2019 saat bertandang ke kantor Grup Media Solopos di Griya Solopos, Jumat (9/8/2019). /solopos.com-Ika Yuniati).

Solopos.com, SOLO - Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kembali menggelar Festival Bebas Batas. Pameran nasional ini menjadi ajang apresiasi bagi para pegiat seni difabel. Pameran bakal diadakan di Solo pada Sabtu (26/10/2019) hingga Senin (28/10/2019) di Pendapa Balai Kota Solo. Sebelumnya akan digelar pre-event atau pameran pendamping mulai Kamis-Minggu (12-22/9/2019) di Mal Solo Square.

Pameran pendamping ini bakal diisi karya peserta workshop dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Surabaya, Magelang, Palembang, dan Bogor. Mereka sebelumnya telah mengikuti pelatihan menggambar bersama para tim yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Peserta rata-rata pasien berusia 18 hingga 24 tahun dengan diagnosa berbeda-beda.

“Nanti karyanya hanya kami pasang tanpa memberitahu nama pembuat dan diagnosa sakitnya. Ya tujuannya masyarakat mengapresiasi jangan karena belas kasihan. Tetapi murni karyanya yang perlu kita apresiasi,” terang salah satu kurator, Hendromasto, saat berkunjung ke kantor Grup Media Solopos di Griya Solopos, Jumat (9/8). Pameran utama melibatkan perupa difabel se-Indonesia. Penjaringannya melalui sistem open submission atau undangan terbuka yang dibuka hingga Rabu (25/9) mendatang.

Mengusung tema Meneroka Batas, panitia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan hal yang harus ditanggapi dengan rasa iba dan memelas. Karya-karya perupa difabel ini justru melampaui aspek formalistik. Yang mampu merengkuh imaji serta rasa, tidak terkurung dengan ketakutan atas tanggapan dan kritik penonton. “Pameran ini menghadirkan karya dan wacana untuk mengintervensi kesadaran publik dan untuk meruntuhkan batas yang dibuat antara yang dianggap normal dan tidak, antara non-disable dan disable,” terang Hendro dalam sambutan kuratorialnya.

Lebih lanjut, acara yang juga diisi dengan pentas para penyandang disabilitas tersebut menjadi kampanye sadar inklusi yang sarat kritik. Khususnya soal akses di ruang publik yang tidak memihak penyandang disabilitas. Beberapa program pemerintah dianggap tak tepat sasaran karena realisasi kebijakannya justru tak sesuai kebutuhan.

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Seni Rupa, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Susiyanti, saat kunjungan ke Griya Solopos mengatakan agenda ini mengusung isu kesetaraan bagi para perupa difabel. Meskipun berkebutuhan khusus, mereka membuktikan kualitas karyanya cukup kompetitif. “Ingin kerahkan anak-anak sekolah di Solo. Biar menyemangati mereka juga. Ini [penyandang disabilitas] saja bisa. Mereka juga harus bisa,” terangnya.

Festival Bebas Batas perdana diadakan di Jakarta pada Oktober tahun lalu di Galeri Nasional Indonesia. Pameran pendukung berupa karya-karya pasien lima RSJ diadakan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dan halte busway Harmoni, Jakarta Pusat.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten