Fenomena Unik di Gunung Slamet: Hujan Es di Puncak

seorang pendaki Gunung Slamet merekam fenomena turunnya hujan es di kawasan puncak Gunung Slamet yang terjadi pada November 2020 lalu.

 Butiran es di kawasan puncak Gunung Slamet (Sumber: Liputan6.com)

SOLOPOS.COM - Butiran es di kawasan puncak Gunung Slamet (Sumber: Liputan6.com)

Solopos.com, PURBALINGGA Selain pengalaman mistis, ada fenomena unik lainnya yang sudah familiar di kalangan pendaki, khususnya pendaki Gunung Slamet. Fenomena itu adalah turunnya butiran-butiran es sebesar biji jangung di kawasan puncak gunung.

Promosi"Nobel Vietnam" untuk Terobosan Sains dan Teknologi bagi Kemanusiaan

Berdasarkan pantauan Solopos.com melalui kanal Youtube Top Videos of Unique and Strange World, Selasa (23/11/2021), seorang pendaki Gunung Slamet merekam fenomena turunnya hujan es di kawasan puncak gunung yang terjadi pada November 2020 lalu. Menurut keterangan pendaki, hujan es turun selama 15 menit. Sebelumnya, kondisi cuaca di kawasan puncak dalam keadaan normal namun tiba-tiba berubah drastis saat mereka hendak turun dari puncak.

Sebelumnya, para pendaki ini sempat menyeduh kopi di tenda perkemahan mereka. Selain itu, uniknya hujan es ini terjadi saat siang hari. Sementara itu, Kepala Pos Pendakian Gunung Slamet via Jalur Bambangan,  Syaiful Amri menjelaskan bahwa fenomena hujan es di puncak gunung merupakan hal yang normal terjadi apalagi jika memasuki musim hujan.

Baca Juga: Asale Gunung Slamet, Berawal dari Doa

Dia menjelaskan bahwa karena adanya pemanasan permukaan yang intense pada pagi hingga siang hari menyebabkan penguapan yang besar yang memicu membentuknya awan konvektif hingga  besar menjulang tinggi dan melewati level titik beku di puncak gunung. Partikel dalam gumpalan awan itu sebagian besar berupa es sehingga saat turun, tidak semuanya mencair namun tetap berupa bongkahan es.

Sementara itu, dilansir dari Liputan6.com, banyak pendaki yang mengalami cedera kaki karena tergelincir saat menuruni puncak di tengah hujan es, ada pula yang mengalami hiportemia akibat udara dingin. Syaiful juga menyarankan kepada para pendaki untuk bisa melihat kondisi cuaca sebelum melakukan pendakian menuju puncak Gunung Slamet.

Dalam hal ini,  Badan Meteorologi,  Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan bahwa fenomena hujan es adalah cuaca alamiah yang sudah biasa terjadi. Faktor penyebab hujan es adalah ketika suatu wilayah sedang mengalami peralihan musim atau pancaroba dan ada awan Cumulo nimbus.

Baca Juga: Catatan Erupsi Gunung Slamet — Prediksi Letusan Dahsyat

Proses terjadinya hujan es tak jauh berbeda dengan hujan air biasa, yang membedakan adalah pada proses kondensasi atau penguapan. Proses kondensasi adalah saat uap air berubah menjadi partikel-partikel es yang dipengaruhi oleh suhu udara rendah di ketinggian.

Perlu diketahui penyebab hujan es yang paling utama adalah pembekuan pada proses kondensasi ini. Tepatnya saat ada pengembunan mendadak akibat pergerakan massa udara naik dan turun sangat kuat di dalam awan Cumulo Nimbus. Hingga massa udara yang sangat kuat membentuk partikel es yang besar.

Itulah penyebab hujan es dan proses yang sebenarnya terjadi. Hujan es adalah hujan lokal dengan luas berkisar 5-10 km saja. Durasi hujan es pun singkat, paling lama 10 menit. Terjadinya hujan es lebih sering pada siang atau sore hari. Gunung Slamet yang ketinggiannya mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) menyebabkan suhu rendah di kawasan puncak yang bisa mencapai 5 derajat celcius sehingga hujan es kerap terjadi.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Buka Cabang di Semarang, Sahid Tour Tawarkan Paket Haji Khusus

Biro perjalanan dan wisata, Sahid Tour, memperluas jaringannya dengan membuka kantor cabang di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Korban Ledakan di Ponpes Klambu Grobogan, Seorang Pemuda

Diketahui pemuda yang mengalami luka bernama Azka berusia 18 tahun yang merupakan anak pemilik rumah yang terjadi ledakan.

Ganjar: Literasi Keberagaman Perlu Direplikasi ke Sekolah di Jateng

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, berharap program literasi keberagaman yang diusung Solopos Institute diterapkan di seluruh sekolah di Jateng.

Duar! Ledakan Keras di Ponpes Klambu Grobogan, Satu Orang Jadi Korban

Sebuah ledakan keras terjadi di rumah dekat Ponpes Darul Masyruh, Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan.

Ganjar Beri Pujian Program Literasi Keberagaman Solopos Institute

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, memberikan apresiasi terhadap program Literasi Keberagaman Solopos Institute yang diterapkan di sekolah-sekolah di wilayahnya.

Omicron Merebak, Ganjar Imbau Warga Tidak Gelar Perayaan Imlek 2022

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta warga untuk tidak menggelar perayaan Imlek 2022 karena ancaman Covid-19 varian Omicron.

Tradisi Mandi Kembang Leson Tujuh Rupa di Wonosobo, Ini Artinya...

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan masyarakat di Wonosobo, Jawa Tengah, yaitu mandi kembang leson menggunakan kembang tujuh rupa.

Gelar Apel, Polres Grobogan Ingin Wujudkan Zero Knalpot Brong

Polres Grobogan hingga Kamis (27/1/2022) telah menindak dan memusnahkan 215 knalpot brong dengan cara dipotong kemudian dilindas.

Bupati Tak Ingin Ada Omicron di Kabupaten Grobogan

Pemkab Grobogan tetap melakukan antisipasi, namun tidak ingin ada kasus Omicron di Grobogan.

Netizen Geger! Bupati Husein Prediksi Omicron Sudah Masuk Banyumas

Bupati Banyumas Achmad Husein membuat geger netizen setelah menyebut virus SARS CoV-2 varian Omicron telah masuk Banyumas.

Tak Cuma di Semarang, Harta Pengusaha Terkaya Asia Tersebar Luas

Aset kerajaan bisnis yang dibangun pengusaha terkaya Asia dari Semarang, Jawa Tengah, Oei Tiong Ham, bukan hanya berada di Indonesia. Melainkan tersebar di berbagai negara.

Misteri Akhir Hayat Pengusaha Terkaya Asia Semarang: Warisan Disita

Akhir hayat Oei Tiong Ham si pengusaha terkaya Asia dari Semarang, Jawa Tengah, menyimpan misteri. Baik tentang penyebab kematian hingga sengketa harta warisan.

Dibuka, Penerimaan Anggota Polri dari Jalur Sarjana, Simak Caranya Lur!

Kepolisian Republik Indonesia atau Polri membuka pendaftaran siswa Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) tahun 2022.

Triawan Munaf Kepincut Baju Adat Ganjar Pranowo, Seperti Apa Sih?

Komisaris Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia, Triawan Munaf, tertarik dengan baju adat yang dikenakan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Kerupuk Tayamum, Makanan Legend Khas Pantura Kriuk-Kriuk Shrpp

Kerupuk/krupuk tayamum alias kerupuk pasir atau kerupuk melarat merupakan salah satu makanan khas Pantura Jawa yang melegenda.

Istana Gergaji, Warisan Pengusaha Terkaya Asia di Semarang

Istana Gergaji merupakan salah satu warisan peninggalan kerajaan bisnis pengusaha terkaya Asia, Oei Tiong Ham, di Semarang, Jawa Tengah.