Fenomena La Nina, Pemkab Kulonprogo Tetapkan Status Tanggap Darurat

Fenomena La Nina yang masih terus terjadi hingga akhir tahun juga menjadi dasar Pemkab Kulonprogo tetapkan status tanggap darurat.

 Fenomena La Nina (pgi.or.id)

SOLOPOS.COM - Fenomena La Nina (pgi.or.id)

Solopos.com, KULONPROGO — Banjir yang kerap terjadi di wilayah selatan menjadi sorotan Pemkab Kulonprogo terutama saat fenomena La Nina. Upaya peninggian tanggul, pembersihan drainase, dan pengerukan endapan terus dilakukan di sejumlah sungai. Upaya tersebut diklaim mampu mengurangi durasi genangan saat hujan deras.

Bupati Kulonprogo, Sutedjo, mengatakan program pengendalian banjir di wilayah selatan Kulonprogo sudah dilakukan sejak zaman orde baru. Proyek Pengendalian Banjir Jawa Selatan sudah dilaksanakan sejak kepemimpinan Presiden Soeharto.

PromosiPemilihan Presiden 2024, Elektabilitas Lebih Penting daripada Platform

“Termasuk di wilayah Kulonprogo. Drainase menjadi sasaran proyek tersebut supaya aliran air bisa cepat dan tidak menimbulkan genangan. Di Kulonprogo ini, banjirnya genangan bukan air deras. Setiap tahun ada proyek itu [peninggian tanggul, pembersihan drainase, dan pengerukan endapan],” kata Sutedjo pada Selasa (30/11/2021).

Baca juga: Sempat Longsor, Perbaikan Talud Juminahan Jogja Selesai

Dikatakan Sutedjo, upaya peninggian tanggul, pembersihan drainase, dan pengerukan endapan memang belum mampu mengatasi persolan banjir di wilayah selatan Kulonprogo. Khususnya di wilayah kapanewon Temon. Akan tetapi, durasi genangan banjir diklaimnya sudah berkurang.

“Dulu itu sekali banjir sepekan atau 10 hari baru surut. Kalau sekarang, jika hujan deras sampai banjir datang itu surut satu sampai dua hari saja. Saya menganggap Proyek Pengendalian Banjir Jawa Selatan sudah memberi manfaat ya. Meskipun, manfaatnya belum mampu menihilkan banjir,” tegas Sutedjo.

Fenomena La Nina yang diprediksikan oleh BMKG terjadi hingga akhir tahun membuat masyarakat perlu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Sutedjo meminta warganya yang tinggal di wilayah rawan bencana waspada.

Baca juga: Pemkab Kulonprogo Pesimistis Bisa Capai Vaksinasi 10 Persen Tahun Ini

Guna mengantisipasi terjadinya bencana hidrometeorologi, Pemkab Kulonprogo menerbitkan status tanggap darurat penanganan bencana darurat bencana hidrometeorologi. Status tanggap darurat berlaku sejak tanggal 18 November 2021 sampai dengan 1 Desember 2021 dan tertuang dalam Keputusan Bupati Nomor 427/A/2021.

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Joko Satyo Agus Nahrowi, mengatakan sejumlah fenomena alam tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Kulonprogo.Fenomena La Nina yang masih terus terjadi hingga akhir tahun juga menjadi dasar ditetapkannya status tanggap darurat.

“Kami menetapkan status tanggap darurat sehubungan dengan adanya perubahan iklim dan cuaca ekstrem di wilayah Kulonprogo. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan potensi terjadinya bencana hindrometeorologi. Seperti tanah longsor, banjir, dan angin kencang yang mampu menimbulkan korban jiwa maupun material,” kata Joko.

 

 

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Berita Terkini

3 Warga Sleman Tewas Tenggak Miras, Pembuatnya Ditetapkan Tersangka

Pasangan suami istri di Sleman ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tewasnya tiga orang setelah meminum miras oplosan.

Tenggak Miras Oplosan, 3 Warga Sleman Tewas

Tiga warga Sleman tewas setelah menenggak minuman keras oplosan.

Masih Siaga! Selama 6 Jam, Gunung Merapi Keluarkan Lava Pijar 10 Kali

Gunung Merapi tercatat mengeluarkan guguran lava pijar sebanyak 10 kali selama periode pengamatan Kamis (19/5/2022) pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB.

Rumah Tempat Syuting Film KKN Desa Penari Kini Kosong, Angker Gak?

Beberapa rumah yang menjadi lokasi tempat syuting film KKN Desa Penari di Gunung Kidul, DIY.

Bakpia Kukus Dinggap Bukan Kuliner Khas Jogja, Sepakat?

Bakpia kukus dianggap bukan termasuk kuliner khas Jogja, mengapa demikian?

Terbentur Aturan Usia, 27 Lansia Asal Sleman Batal Berangkat Haji

Sebanyak 27 calon haji asal Kabupaten Sleman tidak bisa diberangkatkan ke Tanah Suci pada tahun ini karena terkendala aturan batas umur dari pemerintah Arab Saudi.

1,2 Juta Pekerja di Yogyakarta Belum Terkover BPJS Ketenagakerjaan

Jumlah pekerja informasi maupun formal di DI Yogyakarta yang belum terkover BPJS Ketenagakerjaan mencapai 1,2 juta orang.

Kenapa di Jogja Tidak Ada Angkot? Ini Alasannya

Jumlah angkot yang beroperasi di Jogja setiap tahun mengalami penurunan.

Jadi Tempat Syuting KKN di Desa Penari, Warga Ketiban Rezeki Nomplok

Warga di Ngluweng, Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul, seperti ketiban rezeki nomplok saat kampung mereka dijadikan lokasi syuting film KKN di Desa Penari.

Bermodus Ajak Usaha Rental Mobil, Pria Ini Tipu Temannya Rp50 Juta

Seorang pria di Kulonprogo tipu temannya sendiri dengan modus mengajak usaha bersama di bidang rental mobil.

Lokasi Syuting Film KKN di Desa Penari Ternyata di Gunungkidul

Tempat syuting film KKN di Desa Penari ternyata di Ngluweng, Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul.

Bus Rombongan Takziah Kecelakaan di Sleman, 1 MD & 26 Orang Luka-Luka

Bus rombongan takziah mengalami kecelakaan di Ring Road Utara, Kalurahan Baturaden, Kapanewon Gamping, Sleman, dan menyebabkan seorang penumpang meninggal.

Pemerintah Kota Jogja Siap Longgarkan Penggunaan Masker

Pemerintah Kota Jogja siap melonggarkan atau memberikan kebebasan bagi warganya untuk menggunakan masker di tempat terbuka.

Ngawur! Puluhan Spanduk Ilegal dan Membahayakan di Bantul Dibongkar

Puluhan spanduk yang dipasang secara ilegal di sejumlah titik di Kabupaten Bantul ditertibkan.

TPA Gunungkidul Menggunung, Setiap Hari Sampah yang Masuk Capai 50 Ton

Volume sampah yang masuk di Tempat Pembuanagn Akhir (TPA) sampah Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, mencapai 50 ton per hari.