Fenomena Embun Es di Dieng, Cantik Tapi Beracun?

Embun es yang muncul sebagai fenomena alam tahunan di Dataran Tinggi Dieng sering disebut racun oleh warga sekitar.

Senin, 4 Juli 2022 - 13:05 WIB Penulis: Chelin Indra Sushmita Mariyana Ricky P.d Editor: Chelin Indra Sushmita | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Embun es menempel di tanaman kentang di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jateng. (Foto: Pemdes Dieng Kulon)

Solopos.com, BANJARNEGARA — Fenomena embun es kembali muncul di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Kamis (30/6/2022). Suhu di kawasan tersebut mencapai minus 1 derajat celsius.

Fenomena ini diprediksi kembali terjadi pada bulan ini. Hal ini disebabkan datangnya musim kemaraau dan angin monsun Australia yang membawa udara kering.

Fenomena alam tersebut belakangan menjadi daya tarik yang mengundang wisatawan ke Dieng. Berdasarkaan foto yang beredar di media sosial, suhu udara di Dataran Tinggi Dieng saat ini memasuki titik terendah. Hal ini menyebabkan embun yang menempel di rumput dan dedaunan membeku.

Selain Dieng, fenomena munculnya embun es tersebut bisa dijumpai di Gunung Semeru dan Pegunungan Jayawijaya.

Beracun Buat Tanaman

Di balik keindahannya, embun beku atau yang dikenal dengan istilah embun upas ternyata cukup mematikan.

Upas alias racun merupakan julukan bagi embun tersebut karena banyak tanaman mati setelah dipeluk udara dingin yang menciptakan embun beku. Sehingga saat terkena matahari, tanaman itu jadi menghitam seperti terkena racun.

Baca juga: Tradisi Potong Rambut Gimbal Kembali Digelar, Bangkitkan Wisata Dieng

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Alif Faozi, di Banjarnegara, Kamis, mengatakan fenomena embun es itu mulai terlihat pada Kamis dini hari di sekitar kompleks Candi Arjuna.

“Awalnya saya kira kemunculan embun upas akan mundur karena beberapa hari kemarin masih sering turun hujan, tapi ternyata dini hari tadi embun upasnya mulai muncul meskipun masih tipis,” kata dia, mengutip Kantor Berita Antara, Kamis (30/6/2022).

Menurut dia, kemunculan embun upas biasanya akan sering terjadi dan makin tebal saat puncak musim kemarau, terutama ketika suhu udara terasa sangat dingin.

Sebenarnya, fenomena embun es di Dieng tidak beracun. Akan tetapi, embun itu disebut sebagai upas atau racun karena tanaman yang terkena embun itu akan mati dengan kondisi menghitam seperti terkena racun.

Baca juga: Brrr! Embun Upas Mulai Muncul di Dieng, Tanda-Tanda Musim Kemarau

Terbentuknya Embun Es

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang Sutikno mengatakan embun upas (bun upas) menurut penduduk Dieng adalah embun racun.

“Fenomena itu terjadi ketika suhu menjadi sejuk, lantas turunlah embun-embun yang dingin lagi beku. Embun inilah yang menyelimuti tanaman kentang dan masyarakat Dieng menyebutnya dengan embun upas karena memang efeknya membuat kentang mati tersiakan,” katanya.

Menurut dia, beberapa faktor yang berperan terbentuknya fenomena embun es yang didahului suhu dingin ekstrem di Dieng, antara lain adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin, dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian.

Baca juga: Fenomena Embun Upas Dieng, Ini Penjelasan BMKG Semarang

Lebih lanjut, ia mengatakan fenomena suhu dingin malam hari dan embun beku di lereng pegunungan Dieng lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung. Menurut dia, suhu udara saat puncak kemarau umumnya lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering.

Pada kondisi puncak kemarau di Jawa, beberapa tempat yang berada pada ketinggian, terutama di daerah pegunungan. Lokasi itu diindikasikan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 (nol) derajat Celsius.

Hal itu disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang daripada dataran rendah, sehingga sangat cepat mengalami pendinginan.

Terlebih saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan. Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan, atau rumput dan menjadi embun es seperti di Dieng.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif
HEADLINE jateng Protes Revitalisasi Rawa Pening, Petani Upacara HUT Ke-77 RI di Sawah 13 jam yang lalu

HEADLINE jateng Wow! Pemuda Semarang Ternak Emprit, Harganya Capai Rp10 Juta Per Pasang 15 jam yang lalu

HEADLINE jateng Siswa SMK Semarang yang Terseret Ombak di Parangtritis Belum Ketemu 16 jam yang lalu

HEADLINE jateng Komunitas Sepeda dan Satlantas Grobogan Gelar Detik-Detik Proklamasi 16 jam yang lalu

HEADLINE jateng Mobil di Grobogan Terbakar, Pemilik Mengalami Luka Bakar 18 jam yang lalu

HEADLINE jateng HUT Ke-77 RI, 184 Narapidana Lapas Purwodadi Terima Remisi Umum 19 jam yang lalu

HEADLINE jateng Siswi SMA N 2 Kudus Jadi Pembawa Bendera Upacara HUT ke-77 RI di Istana 23 jam yang lalu

HEADLINE jateng Prakiraan Cuaca Semarang Hari Ini, Cerah Berawah di Hari Kemerdekaan 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Unik! Malam Tirakatan di Purworejo, Warga Malah Diajak Bayar PBB 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Kronologi Pengeroyokan yang Sebabkan Pemuda di Kendal Meninggal 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng PHMI Ingin Ekspansi ke Jateng, Ini Misi yang Diusung 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Pelajar SMK Semarang Terseret Ombak Parangtritis, Begini Kata Orang Tua 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Galau Kena Tilang, Pemuda di Semarang Letakkan Sabu-Sabu di Pos Polisi 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Unik, Petugas Satpas SIM Polres Grobogan Pakai Baju Adat dan Pejuang 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Wow! HUT ke-77 RI, Warga Kudus Bentangkan Bendera Merah Putih 1,44 Km 1 hari yang lalu