Tutup Iklan
Dua peragawati mempertunjukkan busana batik di trotoar Alun-Alun Jepara, Jawa Tengah, Jumat (4/10/2019). (Antara-Istimewa)

Solopos.com, JEPARA — Peragaan busana di jalan atau fashion on the street untuk batik khas Jepara diusulkan menjadi agenda rutin tahunan. Yayasan Kartini Indonesia berharap agenda Jepara itu menjadikan batik Jepara lebih dikenal masyarakat,

"Kami menilai, Fashion on The Street yang digelar di trotoar Alun-Alun Jepara bertepatan dengan Hari Batik Nasional pada Rabu [2/10/2019], merupakan media promosi yang cukup efektif karena disaksikan banyak orang di tempat terbuka dan gratis," ujar kata Ketua Yayasan Kartini Indonesia Hadi Priyanto di Jepara, Jawa Tengah, Jumat (4/10/2019).

Fashion on The Street yang digelar di Alun-Alun Jepara melibatkan 64 peraga busana dari pelajar SMK 2 Jepara dan SMKN 3 Jepara. Kegiatan itu dibarengi peragaan membatik oleh siswa SMKN 2 Jepara serta penampilan Jepara Carnival karya Bayu Supriyanto dari Luna Art Jepara serta kirap Batik Gelar Jagat Jepara sepanjang 10 meter hasil karya siswa klas XI dan XII SMKN 22 Jepara.

Hadi Priyanto berharap kegiatan tersebut menarik perhatian generasi muda mengingat peraga busananya juga masih muda-muda karena berasal dari pelajar SMK. Ia berharap dengan adanya kegiatan tersebut masyarakat akan tertarik dan lebih cinta terhadap batik sebagai kekayaan budaya yang kaya akan motif khas daerah.

"Bukan semata-mata pemanfaatan sebagai busana dan manfaat ekonomi bagi para perajin, tetapi kebanggan para pemakaiannya bahwa mereka menjadi bagian dari warga masyarakat yang mencintai budayanya," ujarnya.

Menurut dia, tanpa ada promosi kepada masyarakat—khususnya generasi muda—sulit untuk memberikan edukasi bahwa batik merupakan warisan budaya yang patut dilestarikan. Dalam rangka menarik minat generasi muda, katanya, motif batik sudah mulai mengikuti tren anak muda sehingga tidak terkesan hanya untuk kalangan generasi tua.

Dengan kampanye semacam itu, anak muda bisa menganggap batik cocok dipakai untuk sehari-hari. Media promosi lain yang dinilai cocok untuk dilakukan, yakni dengan menggelar pameran, lomba cipta desain untuk anak muda baik casual maupun pesta serta desain batik untuk milenial.

Pegiat Budaya Jepara Didin Ardiansyah juga berharap agar kegiatan fashion on the street perlu dilakukan secara rutin di ruang publik. Kegiatan seperti itu, kata Didin yang merupakan seniman yang dikenal aktif membangun kantong-kantong budaya di pedesaan itu, dilakukan agar memacu para perajin batik untuk mengembangkan batik motif Jepara secara kreatif.

"Harapannya, anak-anak muda akan tertarik dan kemudian bersedia untuk mengenakannya," ujarnya.

Sekretaris Yayasan Kartini Indonesia Indria Mustika menambahkan memperkenalkan batik terhadap kalangan milenial sangat penting. Pasalnya, lanjut Indira yang juga Ketua Musyawarah Guru Tata Busana SMK Provinsi Jateng mereka merupakan kelompok yang nanti berkewajiban untuk melestarikan dan mengembangkan batik yang merupakan warisan budaya bangsa serta menjadi kekayaan budaya dunia non-benda.

"Salah satu media yang tepat, yakni melalui peragaan busana hingga dapat mengembangkan desain-desain kreatif dengan harapan kelompok milenial tertarik. Bukan hanya menjadikan batik sebagai pakaian formal," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten