Fakta dan Alasan Masker Scuba dan Buff Tak Efektif Tangkal Virus
Penggunaan scuba tidak disarankan dipakai untuk menangkal Virus Corona (ilustrasi/detik)

Solopos.com, SOLO – Pandemi yang belum berakhir membuat seluruh orang di dunia, mau tidak mau menggunakan masker dalam aktivitas sehari-hari.

Dari sekian banyak jenis masker di pasaran, sebagaian  masyarakat  memilih masker scuba atau buff yang dianggap fashionable, harganya yang terjangkau dan dapat dipakai berulang kali.

Namun ternyata, kedua masker ini tidak maksimal mencegah penularan virus bahkan dilarang digunakan saat naik kereta rel listrik (KRL). Pelarangan ini juga direspons oleh juru bicara satuan tugas penanganan covid-19, Wiku Adisasmito juga menghimbau masyarakat agar tidak memakai masker scuba ataupun buff.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut fakta dan alasan masker scuba dan buff dilarang untuk digunakan.

3 Pasien Covid-19 Di Klaten Sembuh, 5 Warga Di 3 Kecamatan Positif

Terlalu tipis

Scuba merupakan kain yang terbuat dari polyester fiber atau scubba dan digunakan untuk baju selam atau baju sehari-hari. Sedangkan, buff biasanya terbuat polyester dan spandeks dengan panjang masker yang bisa menutupi wajah hingga leher. Biasanya masker buff digunakan oleh pengedara motor dan juga bisa digunakan sebagai bandana atau topi.

Kenyataannya, masker scuba dan buff tidak direkomedasikan untuk mencegah virus Corona karena terdiri dari satu lapisan tipis, dan akan berpori saat diregangkan. Hal ini tentunya akan membuat virus, bakteri, dan kotoran mudah keluar dan masuk tanpa disadari.

Melansir dari suara.com, Jumat (18/9/2020), akun IG @commuterline menulis dalam postingnnya, bahwa masker scuba atau buff yang hanya 5% efektif dalam mencegah risiko terpaparnya akan debu, virus, dan bakteri.

Mengunakan masker jenis ini sama halnya tidak menggunakan masker sama sekali. Bahkan buff lebih buruk, karena mampu memecah dan membuat droplet berkembang biak di udara.

Penipu Pengangkatan CPNS Catut Tjahjo Kumolo Raup Rp3,8 Miliar, Begini Ceritanya

Cenderung menjadi longgar

Praktisi klinik sekaligus sukarelawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda'i mengatakan, masker scuba dibuat dari bahan tipis yang elastis, karena hanya terdiri dari satu lapisan kain dan kecenderungan menjadi longgar.

"Masker scuba itu tipis satu lapis, tidak efektif, karena bahannya neoprene, cenderung elastis. Jika ditarik pori akan membesar. Padahal kita butuh kemampuan filtrasinya," kata dia kepada Antara, Jumat.

Sebelumnya, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengungkapkan, masker dengan satu lapisan dan terlalu tipis memungkinkan virus penyebab Covid-19 menembus.

Memudahkan droplet terbang

Scuba dan buff memiliki bahan yang tipis dan tidak ada penyaring yang memadai. Sehingga, droplet dari mulut jadi lebih mudah keluar dari masker. Celah dalam kedua masker itu dapat memecah droplet menjadi partikel yang lebih kecil lagi dan tentu berbahaya, karena berisiko tinggi menyebabkan droplet masuk ke dalam saluran napas orang sekitar.

Melansir dari Science Alert dalam suara.com, para ilmuwan di Duke University melakukan eksperimen yang membandingkan 14 jenis masker dan penutup wajah dalam keefektifannya mencegah penularan Covid-19.

Dapat membayakan pemakai

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masker N95 memblokir sebagian besar tetesan pernapasan yang dilepaskan oleh orang yang berbicara, diikuti oleh masker bedah, kemudian masker yang dibuat dengan polipropilen.

Namun dalam hal menghalangi tetesan, bahan buff dan masker scuba adalah yang paling buruk dari sekian masker yang diuji. Lapisannya yang tipis serta kualitas bahannya justru dapat membahayakan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Satgas penanganan Covid-19 merekomendasikan kain tiga lapis yakni lapisan dalam yang menyerap, lapisan tengah untuk menyaring dan lapisan luar yang terbuat dari bahan seperti poliester.

Sebuah studi Universitas Illinois menemukan bahwa tiga lapis kain sutra atau kaus katun 100 persen mungkin sama protektifnya dengan masker kelas medis. Sutra khususnya memiliki sifat elektrostatis yang dapat membantu menjebak partikel virus yang lebih kecil.

Istri Pemilik RM Ayam Goreng Pak Cipto Sukoharjo Meninggal, Pemulasaraan Jenazah Pakai Protokol Covid-19

Pakai Masker Jangan Asal-Asalan

Juru Bicara Pemerintah dokter Reisa Broto Asmoro meminta publik untuk menggunakan masker dengan benar atau tidak asal-asalan.

"Mari terus biasakan diri dengan protokol kesehatan, ingat selalu pakai masker dengan baik dan benar, jangan asal asalan, tutupi bagian hidung sampai dagu," ujar Reisa dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (18/9/2020).

Dia menekankan kepada publik agar penggunaan masker jangan hanya sebagai hiasan semata.

"Jangan malah dijadikan hiasan untuk menutupi dagu saja. Saya masih lihat di beberapa orang malah dikalungkan saja di leher," ujar Reisa.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom