Epidemiolog Sebut IDI Tak Akurat Soal Analisis Penyebab Meledaknya Kasus Covid-19

Epidemiolog UI membantah pernyataan IDI yang menyebut lonjakan Covid-19 yang terjadi saat ini bukan karena mudik, melainkan karena varian Delta.

 Epidemiolog Universitas Indonesia, Dr. Pandu Riono PhD. (youtube)

SOLOPOS.COM - Epidemiolog Universitas Indonesia, Dr. Pandu Riono PhD. (youtube)

Solopos.com, JAKARTA -- Epidemiolog dari Universtas Indonesia, Pandu Riono, menyebut penilaian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) soal penyebab meledaknya kaus Covid-19 di Indonesia tak akurat.

IDI sebelumnya menyebutkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini bukan karena mudik. Melainkan karena Covid-19 varian Delta yang lebih cepat menular. Pernyataan itu dipertanyakan Pandu Riono.

"Ya nggak lah, emangnya Delta varian bisa nularin sendiri? Yang bisa menularkan itu orang," kata Pandu kepada wartawan, Senin (28/6/2021).

Pandu mengatakan perilaku manusia lah yang menjadi penyebab utama. Sebab, virus itu menyebar ketika manusia beraktivitas.

"Jadi gini, penularan itu ada dua faktor. Faktor pertama yang paling penting adalah perilaku manusia. Perilaku manusia itu kalau dia aktivitas tinggi, dia berinteraksi tinggi dari orang ke orang nular melalui droplet atau interaksi sosial. Karena droplet tadi maka virus apa pun akan menular," ujarnya.

Pandu menilai aktivitas masyarakat saat ini memang begitu masif. Hal itulah menurutnya yang membuat tingkat penularan yang juga meningkat. Sehingga penambahan kasus COVID-19 saat ini melonjak drastis.

"Nah sekarang mungkin jumlah mutannya sedikit, sekarang bertambah banyak menjadi dominan. Memang sebelumnya masih di bawah 50% belum keliatan. Begitu dominasinya meningkat itu terjadilah penularan yang cukup dahsyat apalagi interaksi manusianya enggak berkurang," ujarnya.

"Sehingga lonjakannya tinggi banget, step-up nya itu kaya mendaki tebing bukan landai naik ke atas tapi kaya tebing. Karena penularannya banyak dan cepat, sehingga semua pelayanan kesehatan akan kewalahan, kematian juga akan tinggi. Jadi itu kenapa bisa terjadi karena penularannya dari orang ke orang," lanjut Pandu.

Tak Paham Pandemi

Oleh karena itu, Pandu menilai apa yang diungkapkan IDI berdasarkan tingkat penularan jenis virus. Sehingga, kata Pandu, tidak akurat jika varian Delta yang menjadi penyebab melonjaknya kasus Covid-19.

"Penularan berhenti kalau manusianya nggak bergerak, semua di rumah. Jadi walaupun ada varian kalau manusianya tetap pakai masker atau jaga jarak atau tidak berinteraksi virus itu nggak bisa pindah. Jadi kesimpulan IDI itu hanya ditentukan oleh jenis virus itu tidak akurat, bisa dimaklumi mereka kan nggak ngerti tentang pandemi."

IDI mengungkapkan penyebab utama naiknya kasus Corona di Indonesia akhir-akhir ini. IDI menyebut penyebab kasus melonjak adalah masuknya virus Corona varian Delta ke Indonesia.

"Kalau (penyebabnya) mudik, mudik yang mana? Tanggal 4-17 (Mei) sudah selesai masa inkubasi. Nah setelah tanggal 17 saya nggak tahu. Itu bisa dikaitkan, karena 4-17 (Mei) kalau dia mudik dia sudah nularin, dan saat itu 7 hari sudah keluar gejala. Jadi ini tidak mungkin, mungkin ada salah satunya iya. Tapi faktor pencetus utama adalah masuknya virus delta ke Indonesia," ujar Wakil Ketua Umum Pengurus IDI, Slamet Budiarto saat dihubungi, Senin (28/6/2021).

Menurut dia, virus Corona varian Delta ini parah sekali. Virus Corona biasa, kata dia, untuk bisa menulari manusia butuh waktu 3 bulan. Tapi varian Delta ini hanya butuh waktu 2-3 minggu untuk menyebarkan virus.

"Virus lama butuh berapa bulan? 3 bulan kan? Oktober, November, Desember, Januari akhir meledak kan? Butuh waktu 4 bulan. Ini (varian delta) butuh waktu berapa? 3 minggu," jelasnya.

"Jadi mudik itu bukan satu-satunya penyebab, penyebab utamanya adalah masuknya virus delta dari luar negeri. Baik yang dibawa oleh orang asing ataupun dibawa orang Indonesia yang bekerja di sana. Artinya, tidak ketat (pengawasan keluar masuk)," sambungnya.


Berita Terkait

Berita Terkini

40% Populasi Dunia Tak Mendapat Akses ke Makanan Sehat

Makanan yang kita pilih dan cara kita memproduksi, menyiapkan, memasak, dan menyimpan menjadikan kita bagian yang tak terlepas dari sistem pertanian pangan.

10 Berita Terpopuler: Peraih Emas Terbanyak PON - Tragedi Susur Sungai

Ulasan tentang Adinda peraih terbaik ajang PON Papua dalam tangan masih tertanam pen menjadi berita terpopuler di Solopos.com, Minggu (17/10/2021).

Gegara Konten TikTok Senggol Dong, Siswi SMA Jadi Korban Pengeroyokan

Gegara konten TikTok 'Senggol Dong', siswi di SMAN 6 Kendari, Sulawesi Tenggara, dikeroyok kakak kelas.

Warga Tiga Desa di Kintamani Bangli Terisolasi Akibat Gempa Bali

Tiga desa yang terisolir akibat gempa Bali tersebut adalah Desa Trunyan, Desa Abangsongan dan Desa Abang Batudinding.

Saluran Air di Stasiun Bogor Bisa Jadi Beijing Lu Station ala Indonesia

Saluran air buatan Belanda di kawasan Stasiun Bogor, Jawa Barat bisa dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah baru, seperti Beijing Lu Station ala Indonesia.

Ngeri! Mayat Perempuan Wajah Berlumuran Darah Ditemukan di Pinggir Tol

Sesosok mayat perempuan dengan wajah berlumuran darah ditemukan tergeletak di pinggir Tol Sedyatmo arah Bandara Soekarno-Hatta.

2 Korban Gempa M 4,8 Bali Yang Tertimbun Akhirnya Selamat

Dua dari empat orang korban gempa di Desa Terunyan, Kintamani, Bali, yang sempat tertimbun reruntuhan akhirnya selamat.

OTT Bupati Musi Banyuasin, KPK Endus dari Transaksi Perbankan

KPK mengendus suap pengadaan barang dan jasa infrastruktur melibatkan Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin, melalui transaksi perbankan.

Dewan Pers Minta MK Tolak Uji Materi UU Pers

Dewan Pers berhadap Mahkamah Konstitusi (MK) menolak judical review atau uji materi Undang-undang No.40/1999 tentang Pers.

Kronologi Versi MTs Harapan Baru Ciamis, Berawal dari Siswa Terpeleset

Pihak MTs Harapan Baru Ciamis menyebut kronologi 11 siswa tenggelam berawal dari siswa terpeselet dan temannya mencoba membantu saat berada di tepi Sungai Cileueur.

Full Buatan Tangan, Segini Harga Kerajinan Kulit Warga Taman Madiun

Harga kerajinan tangan Hendro Suwignyo dibanderol agak tinggi karena 100% buatan tangan.

Olala... Nenek Ini Shock Berat Kejatuhan Meteorit di Tempat Tidurnya

Batu tersebut tidak mengenai tubuh tapi tetap saja banyak berserakan puing-puing di wajah dan tubuh si nenek akibat hantaman or tak diundang tersebut.

Giliran Anak, KPK Tangkap Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin

KPK menangkap anak mantan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, yakni Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin, dalam operasi tangkap tangan (OTT) Jumat, 15 Oktober 2021 malam.

Kasus Bullying Siswa SD di Jepara, Disdikpora: Sudah Damai

Masalah aksi bullying siswa SD di Jepara yang vidoenya viral dinyatakan sudah selesai oleh Disdikpora Jepara.

Siswa SD di Jepara Jadi Korban Bullying, Reaksi Ortu Pelaku Bikin Emosi

Video seorang siswa SD di Jepara yang jadi korban bullying teman sekelasnya viral di twitter.