Tutup Iklan
Anggota entre menyetor dana di rumah Supardi, anggota yang narik di Pondok Kulon, Pondok, Ngadirojo, Wonogiri, Sabtu (17/8/2019) malam. (Istimewa-Anggota entre Pondok Kulon)

Solopos.com, WONOGIRI -- Warga Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, mempunyai tradisi unik dalam memenuhi kebutuhan keuangan masyarakat. Tradisi bernama entre atau sokongan itu hingga kini masih lestari di sejumlah dusun dan menjadi andalan warga yang akan punya hajat atau keperluan yang memerlukan biaya besar.

Misalnya saat Eko Pambudi, 18, meminta uang kepada bapaknya, Rajimin, 47, untuk membayar biaya masuk kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer atau STMIK (sekarang Universitas) Amikom Jogja senilai Rp16,8 juta. Bagi Rajimin dana itu besar.

Namun, Rajimin yang merupakan perangkat Desa Pondok, Ngadirojo, Wonogiri, tersebut tak khawatir. Sebab, dia mengikuti entre atau sokongan di dusunnya, Pondok Kulon. Kebetulan, saat itu dia akan narik atau menarik dana entre. Saat malam narik pun tiba. Minuman teh, rokok, dan berbagai gorengan sudah disiapkan untuk warga.

Satu per satu warga dusun peserta entre berdatangan di rumahnya. Jumlah mereka mencapai ratusan orang. Mereka menyetorkan uang kepada bestir atau carik (koordinator entre). Petugas lainnya mencatat seluruh administrasi. Lalu dana dikelola bendahara.

Malam itu uang terkumpul lebih dari Rp20 juta. Kemudian bestir menyerahkannya kepada Rajimin. Bapak tiga anak tersebut pun semringah menerima uang sebanyak itu. Hingga akhirnya dia dapat membayar uang masuk kuliah Eko, anak pertamanya.

“Kejadian itu tiga setengah tahun lalu. Dengan ikut entre jadi punya dana yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu,” kata Rajimin saat ditemui solopos.com di Kantor Desa Pondok, Ngadirojo, Wonogiri, Jumat (16/8/2019).

Entre merupakan produk sosial kelompok masyarakat tertentu di Wonogiri. Entre berkembang di sejumlah dusun di Ngadirojo, seperti dusun-dusun di Desa Gedong dan Pondok.

Informasi yang dihimpun solopos.com, seluruh dusun di Pondok terdapat entre. Namun, tidak semua warga dusun menjadi anggota entre. Tradisi entre tidak memaksa warga ikut. Entre hanya diikuti warga yang sukarela menjadi anggota. Jumlah anggota entre di setiap dusun berbeda. Ada anggota sebanyak 80-an orang, ada pula jumlah anggota mencapai lebih dari 140 orang.

Meringankan Beban

Semangat entre, yakni untuk meringankan beban warga yang akan menggelar hajatan, memenuhi kebutuhan tertentu, seperti membiayai anggota keluarga yang sakit, membiayai sekolah/kuliah anak, dan sebagainya.

Entre semacam arisan, tetapi memiliki sistem yang lebih rumit. Mudahnya, bagi penyetor, entre sama halnya aktivitas transaksi membayar utang sekaligus menabung. Sedangkan, bagi orang yang narik, entre merupakan aktivitas menarik dana sekaligus berutang.

Dalam entre terdapat aturan-aturan tertentu yang dibuat berdasar kesepakatan, seperti aturan narik, syarat bisa narik untuk keperluan mendadak, dan sebagainya.

Yusuf Dwi N. C., 40, warga Dusun Blabak, Pondok, yang menjadi anggota entre di dusunnya, saat berbincang dengan solopos.com di Kantor Desa Pondok, Jumat, mengaku tak mengetahui sejak kapan entre ada di dusunnya. Dia hanya ingat, sewaktu kecil dulu bapaknya sudah mengikuti entre.

Setelah dewasa dia turut menjadi anggota entre. Menurut mantan pengurus entre itu, sistem entre mudah dijalankan jika terlibat langsung di dalamnya. Aturan yang diterapkan setiap kelompok entre berbeda-beda.

“Ada istilah narik, menarik dana. Narik ini ada dua jenis, narik garingan [reguler] dan narik pas ada keperluan mendadak. Kalau narik garingan sudah terjadwal. Interval atau jarak narik antara anggota satu dengan yang lain ada yang sepekan sekali, kalau di Blabak 10 hari sekali. Jadi, setiap 10 hari sekali ada yang narik dan orang yang narik itu sudah ditentukan. Kalau jumlah anggotanya sedikit, sekitar 80-an, tiap anggota narik-nya lebih kurang dua tahun sekali. Kalau anggotanya banyak bisa tiga tahun sekali,” jelasnya.

“Jika narik pas ada keperluan mendadak, contohnya mau punya hajatan atau membiayai keluarga yang rawat inap. Anggota yang memenuhi syarat itu bisa narik meski sebenarnya belum jadwalnya narik,” tambah Yusuf yang juga Kepala Dusun (Kadus) Blabak dan Pondok Kulon itu.

Saat akan narik, anggota tersebut dapat membuat pilihan, yakni memberi batas maksimal umpangan (tabungan) atau tidak memberi batasan (los). Nilai umpangan minimal Rp10.000. Yusuf memberi contoh simulasi entre di Blabak saat ada yang narik garingan dengan ketentuan pihak penarik memberi batas umpangan Rp100.000.

Sesuai jadwal, A narik pada Jumat, 16 Agustus. Pada 10 hari sebelumnya bestir memberi pengumuman kepada anggota entre bahwa A akan narik pada tanggal tersebut. Dengan begitu para anggota sudah mengetahui berapa dana yang akan disetorkan (sosok/asok) kepada A.

Sosok terdiri atas dua jenis, yakni sosok pokok dan umpangan/tumpangan. Sosok pokok adalah dana setor yang nilainya sama dengan dana yang diterima penyetor bersangkutan saat narik sebelumnya (untuk menutup utang). Sedangkan, umpangan adalah dana yang ditaruh/ditabung kepada pihak yang narik.

Pada saatnya tiba, A akan menerima seluruh umpangan/tabungan yang pernah dia setorkan kepada anggota lainnya. Pada saat bersamaan, dia menerima umpangan dari anggota lainnya yang nilainya maksimal Rp100.000. Umpangan itu bakal menjadi utangnya yang harus dikembalikan kepada para anggota yang sebelumnya menyetor pada 10 hari berikutnya dan begitu seterusnya.

Itu lah sebabnya A memberi batasan umpangan, agar di kemudian hari dia tak berat saat mengembalikannya. Jika penarik tak menentukan batas maksimal umpangan atau los, anggota boleh memberi umpangan berapa pun nilainya. Dalam kasus itu, umumnya anggota entre di dusun menyetor umpangan/menabung Rp300.000-Rp400.000.

Pada posisi penyetor, B menyetor dana pokok senilai Rp50.000 misalnya. Hal itu karena saat B narik sebelumnya, A memberi umpangan atau menabung senilai Rp50.000. Lantaran A memberi batas maksimal umpangan Rp100.000, B berarti menyetor senilai Rp50.000 ditambah Rp100.000, yakni Rp150.000.

Sesuai Kemampuan

B pun boleh memberi umpangan kurang dari batas maksimal, Rp50.000 atau Rp20.000 misalnya, sesuai kemampuannya dengan memperhatikan batas minimal umpangan, yakni Rp10.000. Apabila, penarik los, B bisa menyetor umpangan berapa pun nilainya. Saat B narik di kemudian hari, umpangan itu akan kembali kepadanya dengan nilai yang sama.

“Sosok pokok dan umpangan dicatat dalam buku. Setiap anggota punya buku catatan, sehingga mereka tahu sosok pokok yang harus disetorkan. Bestir juga punya buku induk sebagai pegangan,” ujar Yusuf.

Rajimin menimpali, jumlah uang yang didapat saat narik berbeda-beda antara anggota satu dengan anggota lainnya. Jumlah uang yang diterima penarik tergantung umpangan yang disetor sebelumnya dan umpangan dari anggota yang akan diterima. Selain itu tergantung ada tidaknya batas maksimal umpangan.

Entre di dusunnya, Pondok Kulon, terdapat 143 anggota. Jika anggota narik los, bisa memperoleh lebih dari Rp22 juta. Namun, jika penarik memberi batas, biasanya uang tarikan yang diperoleh berkisar Rp13 juta-Rp14 juta.

Anggota entre di Dusun Jatinom, Gedong, Sutris, 41, mengatakan siklus narik entre tidak pernah berakhir. Jika ada anggota yang berhalangan tetap, seperti meninggal dunia, sedangkan anggota bersangkutan masih punya tanggungan, entrenya harus dilanjutkan ahli waris.

Pada sisi lain anggota bisa mengundurkan diri dengan syarat umpangan dari anggota yang sudah pernah diterima harus dikembalikan terlebih dahulu. Anggota juga boleh tak meminta narik. Hal itu seperti dirinya. Selama 10 tahun menjadi anggota, dia belum pernah minta narik.

Selama ini dia hanya memberi umpangan yang berarti dia hanya menabung kepada anggota lainnya. Suatu saat Sutris bisa narik dan akan mendapatkan seluruh dana yang pernah dia setorkan/tabung sebelumnya.

“Kalau saya narik berarti memang saya bisa mendapat banyak uang. Tapi di saat yang sama saya akan punya utang. Saya enggak mau punya utang dulu, jadi saya belum minta narik,” ujar PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri itu.

Menurut pemerhati budaya di Wonogiri, Eko Sunarsono, entre di Wonogiri hanya ada di sebagian tempat, seperti Ngadirojo, tetapi tak semua dusun di desa-desa terdapat entre.

Tradisi serupa entre juga masih berkembang di sebagian kecil kelompok warga di Baturetno, yakni menyumbang sesuatu kepada orang yang akan mbesan atau menghadiri hajatan perkawinan anggota keluarga di tempat lain. Besaran sumbangan ditentukan berdasar satuan khusus yang disebut “T”. Tradisi itu ada atas semangat ingin membantu.

Belum ada yang mengetahui secara pasti pencipta entre kali pertama. Namun, entre sudah ada pada akhir 1980-an. Dia menilai entre bagian dari tradisi yang tercipta atas kesepakatan kelompok warga. Awalnya, entre tidak menggunakan sistem atau aturan, melainkan aktivitas jagong atau menyumbang orang yang mempunyai hajatan saja.

Nilai Kebersamaan

Dahulu, warga menyumbang dengan barang yang dimiliki, kayu, pisang, beras, atau bahan pangan lainnya. Orang yang jagong pun tidak pernah pamrih atau mengharapkan sumbangannya kembali lagi kepadanya. Dalam falsafah Jawa, orang sangat memahami bantuan yang diberikan kepada orang bakal kembali kepadanya dalam bentuk lain, seperti rezeki atau kemudahan dalam hidup lainnya.

Seiring berjalannya waktu, nilai budaya itu bergeser. Orang mempunyai pamrih, bantuan yang diberikan kepada orang lain harus kembali kepadanya. Sehingga ada anggapan jika jagong terus menerus dan tak pernah mempunyai hajatan bakal rugi. Hal itu karena sosial budaya masyarakat berubah dalam menilai sesuatu. Masyarakat menilai segala sesuatu dengan angka (materi).

Atas hal itu kelompok warga bersepakat membuat sistem tertentu untuk menghindari kerugian itu. Lalu tercipta lah entre. Pada awal tradisi itu terbangun narik entre hanya saat ada orang hajatan. Seiring berjalannya waktu berubah sesuai perkembangan dan kesepakatan kelompok. Akhirnya narik bisa dilakukan dengan interval tertentu secara rutin untuk memenuhi asas pemerataan.

“Entre awalnya dibentuk kelompok-kelompok kecil. Semakin lama kelompok lain mengikuti,” kata dalang wayang kulit itu.

Dia melanjutkan, pada satu sisi entre memiliki nilai positif, yakni kebersamaan. Pada sisi lain juga punya sisi negatif, karena dari tataran spiritual keagamaan, kawruh Jawa, tidak pas. Sebab, mestinya menyumbang tanpa mengharapkan sumbangannya kembali, karena kehidupan tak bisa dihitung dengan angka.

"Terlepas dari hal itu, entre saat ini sudah mengakar di kehidupan sebagian warga,” ulas Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri tersebut.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten