Tutup Iklan
Presiden Jokowi meninjau lokasi calon ibu kota baru RI di Gunung Mas, Kalteng, Rabu (8/5/2019) lalu. (Setkab.go.id)

Solopos.com, JAKARTA -- Menteri era Orde Baru, Emil Salim, menyebut ada kekeliruan dalam dokumen Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) tentang rencana -samboja-kawasan-hutan-lindung-calon-ibu-kota-baru-ri" target="_blank" rel="noopener">ibu kota baru. Dia mengaku gagal paham alasan pemindahan ibu kota dijadikan solusi atas semrawutnya Jakarta.

Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada Kabinet Pembangunan III itu mengaku telah membaca makalah Bappenas soal pemindahan ibu kota. Menurutnya ada kekeliruan di balik alasan pemindahan ibu kota saat ini.

"Makalah paper Bappenas yang saya terima, saya terima alasan pindah ibu kota, saya baca, saya anggap keliru," kata Emil dalam sebuah diskusi bertajuk Tantangan Persoalan Ekonomi Sosial dan Pemerintahan Ibu Kota Baru yang digelar INDEF di ITS Tower, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (23/8/2019).

Emil Salim mengungkapkan ketidakpahamannya melihat -kota-baru-seluas-3.000-hektare-di-kaltim-pusat-bisnis-tetap-jakarta" target="_blank" rel="noopener">pemindahan ibu kota dilakukan dengan pertimbangan Jakarta sebagai ibu kota sudah dipusingkan berbagai masalah seperti macet, banjir, air yang kotor, dan sebagainya. Apabila masalahnya ada di situ, lanjutnya, maka yang seharusnya dilakukan adalah membicarakan solusinya.

"Nah kalau saya, kalau itu soalnya ya soalnya itu kita pecahkan (masalahnya) bukan pindah ke tempat lain. Lantas, kalau pindah ke tempat lain gimana soal banjir, soal yang lain? Enggak ngerti saya itu," ujarnya.

Leboh lanjut, dia juga sempat menyinggung adanya ancaman banjir besar dari utara Pulau Jawa yang juga sempat dibahas oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pada 2017 silam. Emil pun bingung dengan solusi yang diberikan oleh Bappenas.

"Tapi mana tanggung jawab Bappenas yang menyatakan -gambaran-wajah-ibu-kota-baru-di-kalimantan-ada-monasnya" target="_blank" rel="noopener">ini harus pindah? Astagfirullah, saya bukan orang Jawa tapi saya menangis membaca ini," tuturnya.

Emil kemudian menjelaskan seharusnya pemerintah menyiapkan anggaran menghadapi bonus demografi pada 2030. Ketimbang menggelontorkan anggaran untuk memindahkan ibu kota, Jokowi semestinya bisa fokus kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menyinggung dengan bonus demografi yang akan didapatkan Indonesia di masa mendatang.

"Dengan demikian majunya bangsa itu kalau kita fokus, termasuk pada Indonesia bagian Timur bisa kita tingkatkan sumber daya manusia, terciptalah pemerataan pembangunan bukan dengan memindahkan fisik," katanya.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten