Ilustrasi emas (Dok)

Solopos.com, JAKARTA -- Emas mendapatkan momentum untuk kembali naik setelah 10 drone menyerang ladang dan fasilitas minyak Arab Saudi sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan balasan militer AS di timur tengah. Akibatnya, investor mulai mencari aset investasi aman.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (16/9/2019) hingga pukul 11.24 WIB, harga emas di pasar spot bergerak menguat 1,08% menjadi US$1.504,58 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak menguat 0,78% menjadi US$1.511,3 per troy ounce.

Analis Pasar Oanda Corp Jefrey Halley mengatakan bahwa emas menguat cukup signifikan didorong oleh investor yang mulai mengukur konsekuensi dari serangan terhadap fasilitas pemrosesan minyak mentah terbesar dunia di Abqaiq dan ladang minyak terbesar kedua Arab Saudi di Khurais.

Dia mengatakan, emas dan perak akan mendapatkan penguatan yang cukup signifikan pada pekan ini seiring dengan investor yang akan memburu emas dan prospek pemangkasan suku bunga acuan AS oleh The Fed.

“Peningkatan ketegangan yang terus-menerus, atau pecahnya perang di kawasan Timur Tengah, dapat membawa emas ke level US$1.600 per troy ounce lebih cepat daripada yang diperkirakan,” ujar Jeffrey seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (16/9/2019).

Seperti yang diketahui, Pada Sabtu (14/9/2019), pabrik minyak milik perusahaan raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, terbakar setelah diserang drone. Menurut Saudi Aramco, serangan itu menggerus produksi minyak perusahaan sebesar 5,7 juta barel per hari.

Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo menyalahkan Iran atas ledakan tersebut dan mengatakan bahwa tidak terdapat bukti serangan datang berasal dari Yaman. Namun, tuduhan tersebut pun dibantah oleh Iran.

“Teheran berada di balik hampir 100 serangan terhadap Arab Saudi sementara Rouhani dan Zarif berpura-pura terlibat dalam diplomasi. Di tengah semua seruan untuk menurunkan eskalasi, Iran kini telah meluncurkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan minyak dunia,” ujar Michael seperti dikutip dari cuitannya melalui Twitter, Senin (16/9/2019).

Di sisi lain, emas telah mencapai level tertingginya dalam 6 tahun pada bulan ini yang dipicu oleh sentimen melambatnya pertumbuhan global sehingga mendorong pelonggaran kebijakan oleh banyak bank sentral.

Selain itu, ketegangan geopolitik seperti perang dagang AS dan China telah memainkan peran sekunder dalam mendukung harga emas. Setelah menurunkan suku bunga pada Juli, The Fed diprediksi untuk memotong suku bunga acuannya lagi pada pertemuan 17-18 September.

Kendati demikian, Analis PT Monex Investindo Futures Andian mengatakan dalam risetnya bahwa emas berpotensi untuk bergerak turun setelah menguat tajam akibat kecenderungan aksi ambil untung oleh investor.

“Harga emas berpotensi turun kembali mencoba support US$1.495 per troy ounce hingga US$1.500 per troy ounce dilatarbelakangi oleh aksi ambil untung dari kenaikan tajam pagi ini,” ujar Andian seperti dikutip dari publikasi risetnya, Senin (16/9/2019).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten