Elon Musk dan Penantian Panjang Indonesia Punya Bandara Antariksa Sendiri
Ilustrasi peluncuran satelit (dok ASEAN)

Solopos.com, SOLO -- Komunikasi melalui telepon antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan pendiri SpaceX Elon Musk pada Desember 2020 membuncahkan harapan Indonesia segera punya bandara antariksa sendiri.

"Presiden Joko Widodo juga mengundang Musk untuk mempertimbangkan Indonesia sebagai landasan peluncuran SpaceX," demikian pernyataan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, kala itu.

Jokowi mengajak Musk untuk berinvestasi di Papua. Ini sejalan dengan rencana besar pemerintah memiliki bandara antariksa di Biak Numfor, Papua yang diharapkan beroperasi pada 2024.

Selama ini tempat peluncurkan satelit dunia yang familier di antaranya Cape Canaveral Florida atau Pusat Luar Angkasa Kennedy. Keduanya berada di Florida, Pulau Merrit, Amerika Serikat.

Warga Kisahkan Detik-Detik Pesawat Garuda Mendarat di Bengawan Solo Tahun 2002 Lalu

Di Negeri Paman Sam tercatat ada delapan lokasi peluncuran satelit, antara lain, Pangkalan Udara Vandenberg, Kalifornia, Kodiak, Pulau Borough, Alaska, Meadows Field, Bakersfield, California.

Kemudian Rusia memiliki Kosmodrom Boukonur, Kazastan, Kosmodron Plesetsk, Rusia. Ada pula Centre Spatial Guyanais, Kourou, Guyana Prancis, milik Prancis. Terus Alcantara, Maranhao, Brasil.

Di Tiongkok ada Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan, Jiuquan, dan Xichang. Di Jepang ada Pusat Peluncuran Tanegashima, Pulau Tanegashima, dan Uchinouru. Lalu India dengan The Satish Dhawan Space Center, Sriharikota, Andhra Pradesh, dan di Pulau Cristmas (Australia).

Sejak peluncuran pertama satelit milik Uni Sovyet pada 4 Oktober 1957, sedikitnya ada 1.300 satelit yang berada di orbit. Mengacu laporan 2017 State of The Satellite Industry Association, ada empat kepentingan dari satelit itu, yakni telekomunikasi, observasi bumi, ilmu pengetahuan, dan keamanan nasional.

Geger Ramalan Mbak You Soal Jokowi Lengser 2021, Ini Penjelasannya

Indonesia punya sejarah panjang soal kepemilikan satelit sejak peluncuran satelit Palapa-A1 pada 1976, namun tidak untuk bandara antariksa. Indonesia tidak punya tempat untuk meluncurkan satelit skala besar.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, beberapa waktu lalu. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memiliki tempat peluncuran di wilayah Garut. Namun, wilayah itu sudah tidak memungkinkan untuk dikembangkan.

Keunggulan Biak Numfor

Belum lagi di tempat itu hanya untuk kelas roket 40 cm. Kini Lapan ingin mendirikan tempat pelucuran satelit di Desa Soukobye, Biak Utara, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Tidak tanggung-tanggung, lembaga itu menggandeng mitra internasional untuk mewujudkan mimpi itu.

”Sangat mungkin dengan pihak internasional juga. Jadi ini juga sedang diupayakan untuk nantinya bukan bandara antariksa kecil, tetapi bandara antariksa internasional," kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin sebagaimana dilansir dari Antara.

Indonesia dengan keunggulan lokasinya yang berada di garis khatulistiwa atau ekuator bisa memberikan layanan peluncuran roket satelit. Sejauh ini Lapan telah menghubungi beberapa mitra internasional, baik pemerintahan maupun lembaga swasta dari Tiongkok, Jepang, Korea, India, dan Rusia.

Takbir Pilot Garuda dan Keajaiban Pendaratan di Bengawan Solo, 16 Januari 2002

Menurutnya, dari aspek bisnis, produksi satelit di dunia saat ini semakin meningkat, sementara penyediaan bandara antariksa untuk peluncuran roket satelit menjadi semakin terbatas.

Oleh karena itu, rencana pembangunan bandara antariksa di Biak membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menyediakan jasa lokasi peluncuran roket satelit luar negeri.

"Apalagi posisinya di ekuator. [Selain Indonesia] kan hanya di Amerika Selatan, miliknya Prancis dan Brazil. Harapannya bandara antariksa di Asia Pasifik ada satu, di Biak itu. Nantinya, harapannya kita bisa menyediakan jasa peluncuran satelit dengan roket-roket yang disediakan juga oleh mitra-mitra internasional," kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom