Tutup Iklan
Ekspor Kayu Dan Mebel Indonesia Kalah Saing Dengan Vietnam, ILWA Minta Ini Ke Presiden
Karyawan PT Rimba Sentosa Persada (RSP) Tawangsari, Sukoharjo, mengerjakan pesanan kerajinan kayu dan mebel pada Selasa (7/7/2020). (Solopos/Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO — Ekspor kayu dan mebel Indonesia sudah kalah bersaing dengan Vietnam. Bahkan, Indonesia hampir disalip oleh Birma dan Laos.

Padahal Indonesian pernah masuk dalam peringkat 10 besar di dunia sebagai pengekspor kayu. Terkait itu, Indonesian Light Wood Association (ILWA) mendorong Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membentuk Dewan Kayu dan Mebel Indonesia.

Dewan Kayu dan Mebel Indonesia atau Indonesian Wood and Furniture Council (IWFC) ini untuk mengintegrasikan seluruh stakeholders agar Indonesia bisa menguasai pasar dunia.

Lihat Tempat Hiburan Solo dan Karanganyar Boleh Buka, Pelaku Usaha Sukoharjo Menjerit

Sekretaris Jenderal (Sekjen) ILWA, Setyo Wisnu Broto, mengatakan saat ini ekspor kayu dan mebel Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam. Bahkan bakal disalip oleh Birma dan Laos.

“Sekarang peringkat Indonesia terjun bebas. Kita kalah dengan Vietnam dan akan disalip Birma dan Laos,” katanya kepada wartawan di kantor PT Rimba Sentosa Persada Tawangsari, Sukoharjo, Selasa (7/7/2020).

Terhambat Regulasi

ILWA mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang dihadapi hingga menghambat ekspor kayu dan mebel. Pertama, berkaitan regulasi pemerintah yang tumpang tindih antarkementerian dan tidak inline dengan kebutuhan dunia industri.

Selalu Tampil Dengan Celana Jins Hitam, Ternyata Ini Alasan Gibran Cawali Solo

Bahkan aturan aturan tentang ekspor kayu dan mebel Indonesia tersebut cenderung bertentangan satu dengan yang lain. Kedua, keberadaan mesin-mesin yang sudah ketinggalan zaman.

Ketiga, kurangnya pemahaman yang dimiliki dunia perbankan terhadap potensi yang dimiliki industri kayu dan mebel. Hal ini berdampak sulitnya pengusaha mendapatkan pinjaman modal. Padahal potensinya cukup besar.

Dia memberi gambaran nilai total pasar global industri kayu dan mebel dunia senilai USD2 triliun atau Rp28 triliun. Angka ini bahkan 10 kali dari APBN.

Logo Dicatut di Spanduk Promosi Pasar Rakyat Alkid Keraton, Pemkot Solo: Acara Itu Tak Berizin!

Namun yang terjadi, perbankan Indonesia saat ini hanya melihat dari sisi risiko karena isu sosial yang melingkupi industri dan ekspor kayu dan mebel tersebut. Saat ini selain sulit mencari pinjaman, bunganya pun termasuk tinggi di Asia.

“Alat yang digunakan kita saat ini jauh ketinggalan zaman dengan negara lain. Hal-hal ini yang menghambat ekspor kayu dan mebel,” katanya.

Dunia Pendidikan Kurang Mendukung

Permasalahan lainnya, dia menambahkan tidak adanya perimbangan antara potensi Sumber Daya Alam (SDA) dengan dunia pendidikan. Materi pendidikan yang diberikan tidak inline dengan kebutuhan industri kayu dan kehutanan sehingga banyak yang tidak terserap.

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo Temui Tokoh Mega Bintang Solo, Ini Obrolannya

Tak berhenti di situ, Indonesia tidak memiliki strategi marketing. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya marketer di kedutaan besar atau perwakilan negara yang ada di luar negeri. Hal ini berdampak ketidaktahuan kebutuhan pasar yang bisa dijajaki pengusaha ekspor mebel dan kayu Indonesia.

“Solusi yang paling tepat adalah segera membentuk Dewan Kayu dan Mebel Indonesia [IWFC]. Dengan adanya dewan kayu, semua stakeholder bisa diintegrasikan,” pintanya.

Setyo yang pernah menjadi kandidat Wakil Menteri (Wamen) Perindustrian Kabinet Kerja ini mengatakan antara asosiasi industri kayu dan mebel tidak ada sinergi dan kekompakan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho