Eksplorasi Pasar Tradisi dalam Peragaan Busana dan Seni Tari
Penari dari sanggar Semarak Candra Kirana mementaskan tarian di area kios pedagang saat Festival Pesona Pasar Tradisional 2017 di Pasar Triwindu, Solo, Minggu (20/8/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Pesona Pasar Tradisi digelar di sejumlah pasar tradisional  Solo.

Solopos.com, SOLO--Kolaborasi penari muda Solo Richa Amalia Putri dengan musisi asal Yogyakarta Memet Chairul Slamet menyemarakkan festival Pesona Pasar Tradisi hari terakhir di Pasar Triwindu, Minggu (20/8/2017) pagi. Pentas kontemporer yang baru ditampilkan perdana ini, tak jauh-jauh dari isu pasar tradisional.

Mengenakan bawahan celana batik dan atasan hitam tanpa lengan, Richa, mengawali tariannya di lorong-lorong pasar. Barang antik yang dijual berjejer menjadi obyek karyanya. Ia mengeksplorasi barang-barang lawas yang menimbulkan bunyi dan beberapa pernik lain seperti topeng kayu.

Sementara di lorong berbeda, Memet, juga memainkan deretan barang dagangan antik sebagai bagian dari karya musiknya. Melalui pentas tari berjudul Antique of Sounds tersebut Richa ingin memberikan gambaran bahwa pasar tradisional tak hanya sebagai tempat jual beli. Pasar yang disebut sebagai rahim sebuah kota juga berperan penting sebagai ruang kreasi dan eksplorasi seni.

“Kami merespons pasar sebagai sumber inspirasi seni. Ini cara baru kami mengenalkan pasar tradisi yang biasanya hanya dikenal sebagai pusat transaksi,” kata
dia.

Pasar Tradisional sebagai sumber kreasi seni tak hanya diwujudkan dalam bentuk pentas tari. Ajang fashion show yang juga terinspirasi dari kekayaan pasar juga mereka tampilkan. Ada 20 rancangan busana ready to wear berbahan dasar batik yang dipamerkan di halaman pasar.

Penari dari sanggar Semarak Candra Kirana mementaskan tarian di area kios pedagang saat Festival Pesona Pasar Tradisional 2017 di Pasar Triwindu, Solo, Minggu (20/8/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Penari dari sanggar Semarak Candra Kirana mementaskan tarian di area kios pedagang saat Festival Pesona Pasar Tradisional 2017 di Pasar Triwindu, Solo, Minggu (20/8/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Di pengujung acara mereka mementaskan parade kostum karnaval bertema Payung Nusantara karya Red Batik Solo di halaman pasar. Jajaran busana karnaval tersebut dibuat dari bahan-bahan alam seperti anyaman berbahan daun pandan, biji-bijian, tali rami rotan, dan tempurung kelapa bekas. Ditambah beberapa bahan etnik seperti batik dan lurik.

“Pasar Tradisional kami jadikan sebagai laborat. Teman-teman mengeksplorasi bahan materi dari pasar untuk kostum karnaval ini,” kata salah satu kreator kostum Red Batik Solo, Arif Tuepe.

Festival pasar tradisi sebelumnya digelar di tiga titik berbeda yaitu Pasar Kembang, Pasar Klewer, dan Pasar Depok pada, Sabtu (19/8/2017).

Panitia penyelenggara, Heru Mattaya dalam rilis mengatakan acara ini menjagi gagasan utama untuk menyemarakkan suasana pasar. Menghidupkan pasar tidak hanya sebagai ruang ekonomi, melainkan juga pusat kultural, ruang kreasi, dan rekreasi.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom