Kategori: Sragen

Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Unik! Ada Kesenian Rodat, Tari Purba, hingga Wiro Sangir di Sangiran


Solopos.com/Muh Khodiq Duhri

Solopos.com, SRAGEN -- Penobatan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 1996 mengukuhkan Museum Sangiran sebagai objek wisata yang patut diperhitungkan di mata dunia.

Diberlakukannya aglomerasi angkutan di Jateng pada September 2020 menjadikan Museum Sangiran di Sragen lebih mudah dijangkau oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Guna mendukung para wisatawan lebih betah berlama-lama di Situs Sangiran yang terbagi dalam lima klaster, Kementerian Pariwisata dan Ekonomo Kreatif (Kemenparekraf) melalui Badan Otorita Borobudur (BOB) mendorong terbentuknya objek wisata pendukung di Situs Sangiran.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Nggak Cuma Museum, di Sangiran juga Ada Kuliner Khas Lho!

Kawasan wisata Sangiran menjadi salah satu tujuan tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja pada Kamis-Sabtu (8-10/4/2021). Ekspedisi yang digelar Solopos Group bareng BOB, PT KAI Commuter (KCI), dan Perum Perumnas ini memotret seperti apa potensi ekonomi dan wisata di sepanjang rel Solo-Jogja.

Selain mengorbitkan kuliner khas Sangiran di antaranya menu olahan bukur (semacam kerang), legondo, dan sego plontang, sejumlah kesenian tradisional yang telah lama mati suri juga dihidupkan kembali oleh warga setempat.

Optimalkan Potensi Budaya

Sebut saja kesenian rodat yang sempat mati suri selama 12 tahun. Upaya menghidupkan kembali kesenian rodat itu dilakukan guna mengoptimalkan potensi budaya berupa kearifan lokal sebagai pendukung objek wisata Situs Sangiran.

Sejumlah warga Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berlatih atraksi yang menjadi bagian dari kesenian rodat. (Istimewa/Facebook Panji Kusumah)

Kepala Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe Sragen, Heriyanto, beberapa waktu lalu menyebut kesenian rodat pada belasan tahun lalu masih sering dimainkan oleh warga. Seiring berkembangan zaman, kesenian itu mulai ditinggalkan.

Bahkan, ungkap dia, anak milenial pada zaman sekarang rata-rata tidak mengenal kesenian rodat. Bila tidak dilestarikan mulai sekarang, kesenian itu bisa saja tinggal menunggu waktu untuk punah. Sekarang, setiap ada acara tertentu baik itu kunjungan pejabat dinas atau bupati, pengunjung bakal disuguhi kesenian rodat.

Baca juga: Beroperasi Normal, Ini Layanan dan Aturan KRL Jogja-Solo Selama Ramadan

Rodat merupakan salah satu kesenian tradisional yang menggabungkan pertunjukan seni musik rebana, jidor atau semacam beduk, serta gong dengan tarian yang dimainkan oleh para pria. Konon, kata rodat berasal dari kaya loro syahadat atau dua kalimat syahadat yang menjadi rukun Islam pertama.

Tidak hanya kesenian tradisional, warga di lingkungan Situs Sangiran juga sudah memperkenalkan tari purba. Tarian ini tergolong unik. Para penari tidak mengandalkan keluwesan gerak seperti penari pada umumnya. Mereka bergerak ke sana ke mari, merayap, berguling, berjingkrak-jingkrak mengikuti irama.

Tari purba pernah disuguhkan dalam peringatan Hari Warisan Budaya Dunia yang digelar Perkumpulan Masyarakat Pelestarian Situs dan Budaya Sangiran (PMPSBS) pada 2018 lalu.

Ikon Baru Sangiran

Bukan hanya kuliner dan seni pertunjukan, Pemdes Krikilan, Kalijambe, Sragen, juga membuat ikon baru Sangiran. Mereka memperkenalkan ikat kepala khas Sangiran.

Ikat kepala yang bernama wiro sangir itu sempat melegenda karena kerap dipakai oleh warga setempat pada zaman dahulu. Namun, belakangan generasi muda banyak yang tidak mengenal ikat kepala tersebut.

Keberadaan ikat kepala wiro sangir perlu dilestarikan mengingat saat ini hampir tidak ada anak muda yang mau memakai ikat kepala khas Sangiran itu. Salah satu sesepuh desa yang selalu memakai ikat kepala wiro sangir adalah Mbah Kasio, 65.

Pemerintah Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, memperkenalkan ikat kepala Wirosangir Kasiaji di sela-sela acara rapat koordinasi yang digelar BPSMP Sangiran di Hotel Novotel, Senin (19/10/2020) malam. (Istimewa/Pemdes Krikilan)

Bagi Mbah Kasio, ikat kepala itu bukan semata sebagai fashion, tetapi juga sebagai alas saat menyunggi barang di kepala. Mbah Kasio sendiri sudah biasa memakai ikat kepala itu sejak kecil. Kebiasaan itu diwarisinya dari kakek buyutnya. Dia sengaja memakai kain batik berbentuk persegi sebagai ikat kepala.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Jelajah Museum Sangiran, Petilasan Jaka Tingkir & Sumber Air Asin 

Kain batik itu terlebih dulu harus dilipat secara diagonal sehingga bentuknya menjadi segitiga. Selanjutnya, kain batik itu diikatkan pada kepala dengan cara tertentu sehingga menghasilkan ikat kepala khas Sangiran.

Beragam potensi wisata pendukung Museum Sangiran telah dipamerkan dalam Pasar Budaya 2020 yang digelar pada November lalu di pelataran Punden Tingkir. Pasar Budaya itu menjajakan aneka barang tradisional baik berupa kuliner maupun perkakas rumah tangga.

Pasar Budaya

Selama digelar Pasar Budaya, pengunjung dihibur sejumlah pertunjukan budaya mulai dari gejok lesung, tari purba, dongeng plesetan rakyat dan lain-lain.

Punden Tingkir merupakan satu dari potensi lokal di Desa Krikilan yang jadi pendukung Museum Sangiran. Dengan banyaknya potensi lokal pendukung Museum Sangiran, Pemdes Krikilan berencana mengemas paket wisata agar pengunjung diharapkan bisa lebih lama tinggal.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Keliling Pasar Klewer, Surga Belanja Batik Terbesar di Asia

Banyaknya para pengrajin batu alam di sekitar Sangiran juga menjadi potensi yang bisa dikembangkan menjadi kampung kerajinan batu.

“Sudah bertahun-tahun saya bekerja membuat kerajinan dari batu alam, khususnya kristal. Batu itu saya dapat dari Wonogiri. Aneka kerajinan batu itu saya jual mulai Rp20.000 hingga Rp5 juta, tergantung ukuran dan baik buruknya kualitas batu,” ujar Suwarno, 60, salah satu pengrajin batu hias di Dukuh Ngampon, Desa Krikilan, Kalijambe Sragen, saat ditemui Solopos.com, Rabu (31/3/2021).

Share