Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Nggak Cuma Museum, di Sangiran juga Ada Kuliner Khas Lho!

Kawasan wisata Sangiran ternyata tak hanya memiliki aneka koleksi fosil di Museum Sangiran, melainkan juga kuliner khas.

 Sego Plontang khas Sragen yang dikukuhkan menjadi kuliner khas Sangiran. (Istimewa/kemendikbud.go.id)

SOLOPOS.COM - Sego Plontang khas Sragen yang dikukuhkan menjadi kuliner khas Sangiran. (Istimewa/kemendikbud.go.id)

Solopos.com, SRAGEN — Kawasan wisata Sangiran ternyata tak hanya memiliki aneka koleksi fosil manusia purba di Museum Sangiran, melainkan juga kuliner khas.

Berawal dari dikukuhkannya Museum Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 1996, terbangun kesadaran warga setempat untuk menggali lagi potensi wisata pendukungnya.

Kawasan wisata yang masuk wilayah koordinatif Badan Otorita Borobudur (BOB) ini bisa menjadi pilihan Anda yang ingin berwisata edukasi sekaligus kulineran. Apalagi, akses ke Sangiran kini kian mudah dengan adanya aglomerasi angkutan di Jawa Tengah (Jateng) pada September 2020.

Baca juga: Beroperasi Normal, Ini Layanan dan Aturan KRL Jogja-Solo Selama Ramadan

Kawasan wisata Sangiran menjadi salah satu tujuan tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja yang sudah dilaksanakan Kamis-Sabtu (8-10/4/2021). Ekspedisi yang digelar Solopos Group bareng BOB, PT KAI Commuter (KCI), dan Perum Perumnas ini memotret seperti apa potensi ekonomi dan wisata di sepanjang rel Solo-Jogja.

Kawasan wisata Sangiran memang tak berada dekat dengan rel Solo-Jogja. Namun, ada moda transportasi yang baru membuat destinasi yang masuk wilayah Kabupaten Sragen ini terhubung dengan rel.

Jika Anda turun dari KRL di Stasiun Balapan, Anda hanya perlu berjalan ke Terminal Tirtonadi lalu naik bus Trans Jateng menuju Sangiran. Praktis kan! Apa saja yang bisa dinikmati di Sangiran selain Museum?

Baca juga: Jambu Madu Adib Jadi Rintisan Agrowisata Desa Gembyungan Kabupaten Blora

Bus Rapid Transit (BRT) Transjateng yang melayani rute Solo-Sumberlawang dan singgah di Sangiran. (Solopos.com/Moh Khodiq Duhri)

Objek Wisata Pendukung

September 2019 lalu, BOB mendorong terbentuknya objek wisata pendukung di Situs Sangiran. Warga setempat diberi pelatihan terkait tata kelola kuliner khas dan desain grafis. Saat itu, muncul gagasan untuk mengorbitkan kuliner khas Sangiran.

Saat itu belum ada ikon kuliner yang khas dari Sangiran yang bisa menjadi daya tarik dan membekas dalam ingatan wisatawan. Alih-alih menyajikan kuliner khas, oleh penjaja warung makan di sekitar Museum Purbakala Sangiran, para pengunjung hanya disodori mi instan atau mi gelasan saat perut mereka keroncongan.

Kini ada makanan yang diproyeksikan sebagai ikon kuliner khas Sangiran. Kuliner itu adalah makanan berbahan dasar bukur atau kerang sungai.

Baca juga: Dua Kali Gagal Dalam Penggeledahan, Ada Apa Dengan KPK?

Kuliner Sangiran berbahan dasar bukur ini sebetulnya sudah lama dikonsumsi warga sekitar. Biasanya, bukur dimasak jadi asem-asem, jadi botok, hingga digoreng kering dengan tepung ala kentucky.

Di Desa Krililan, ada sejumlah warga yang bekerja mencari bukur di dasar Sungai Cemoro. Dari segi rasa, bukur hampir sama dengan kerang laut, namun berukuran lebih kecil.

Salah satu masalah yang dihadapi untuk mengembangkan bukur sebagai ikon kuliner khas Sangiran adalah stoknya terbatas sepanjang tahun.

Baca juga: Tanpa Minum! Ini 4 Cara Mengatasi Cegukan Saat Puasa

Sego Plontang

Kuliner khas Sangiran lainnya adalah sega plontang. Sega plontang memang tidak sepopuler sega berkat. Meski terdengar asing di telinga, sega plontang merupakan salah satu kuliner khas dari Bumi Sukowati.

Nama lain dari sega plontang adalah sega takir. Keunikan dari kuliner ini terletak pada wadahnya yang terbuat dari daun pisang yang dipadu dengan janur kuning.

Takir sendiri merupakan sebutan untuk wadah makanan yang terbuat dari daun pisang. Berbeda dengan pincuk yang dibuat dengan bentuk mengerucut, takir berbentuk segi empat.

Baca juga: Diduga Habis Pesta Miras, Remaja Sukoharjo Kalap di Sungai Bengawan Solo

museum sangiran sragen buka
Pintu gerbang Museum Manusia Purba Sangiran Sragen. (Solopos/Moh Khodiq Duhri)

Di kedua ujung lipatan biasa diberi sematan lidi agar lebih kuat dipakai untuk menampung makanan. Untuk menambah kesan estetis, takir itu diberi hiasan janur kuning melingkar.

Di wadah itu terdapat aneka macam makanan mulai dari nasi uduk atau nasi gurih, suwiran ayam, kedelai hitam yang digoreng, ikan wader, peyek kacang tanah dan kerupuk.

Namun, sega plontang saat ini relatif sulit didapatkan karena tidak dijual di warung manapun. Kuliner khas Sangiran ini hanya ada pada momen-momen tertentu seperti saat ada upacara adat di desa-desa.

Baca juga: Pemkab Kudus Wajibkan Guru Divaksin Sebelum Pembelajaran Tatap Muka

Sega plontang biasa dipakai masyarakat Sragen untuk menjamu tamu pada acara bancaan, sedekah setelah ada yang melahirkan, meninggal dunia atau mau melangsungkan pernikahan dan lain-lain.

Selain menu olahan bukur dan sega plontang, masih ada kuliner produk UMKM di Sangiran antara lain balung kethek, keripik pisang, kacang kreweng, dan lain-lain.

“Ada pula legondo, kuliner tradisional yang dibungkus blarak atau daun kelapa,” ucap Sekretaris Desa Krikilan, Aries Rustioko, kepada Solopos.com, awal April 2021.

Berita Terkait

Espos Premium

PPKM Makin Longgar, Jangan Buru-Buru "Balas Dendam" Berwisata!

PPKM Makin Longgar, Jangan Buru-Buru "Balas Dendam" Berwisata!

Pelonggaran kegiatan seusai pembatasan ketat berbulan-bulan demi menurunkan penularan Covid-19 memicu munculnya revenge travel atau revenge tourism atau biasa disebut wisata balas dendam. Kedisiplinan terhadap protokol kesehatan selama revenge travel menjadi kunci mencegah lonjakan kasus berikutnya. Revenge travel terjadi ketika masyarakat merasa haus mendapatkan hiburan atau refreshing setelah pengetatan aktivitas di rumah saja dalam periode yang lama.

Berita Terkini

Mengintip Koleksi Jarik Waldjinah di Museum Batik Walang Kekek Solo

Koleksi kain jarik milik maestro keroncong Waldjinah yang indah dapat dilihat di Museum Batik Walang Kekek di Solo.

Eksotis & Elegan, Museum Tumurun di Solo Suguhkan Masterpiece Seniman Top Indonesia

Keberadaan Museum Tumurun menjadi penanda bangkitnya seni rupa di Kota Solo, Jawa Tengah,

Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama

Kota Semarang memiliki kampung batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, dengan pengrajin batik yang mulai tumbuh.

Penampakan Kafe Jamu Nguter Sukoharjo, Tempat Nongkrong Cozy Dengan Minuman Menyehatkan

Kafe Jamu Nguter di dekat Pasar Nguter Sukoharjo menawarkan minuman tradisional yang menyehatkan dengan tempat yang cozy dan modern.

Sajikan Rasa Dan Nama Kekinian, Kafe Jamu Nguter Sukoharjo Digandrungi Milenial

Kafe Jamu di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, menyediakan aneka minuman jamu dengan rasa dan nama unik serta kekinian guna menarik kaum milenial.

Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe

Industri jamu Nguter, Sukoharjo, telah melewati perjalanan panjang mulai dari produksi dengan pemasaran menggunakan jamu gendong hingga kafe.

Uniknya Kerajinan Limbah Organik, Suvenir Khas Desa Wisata Kandri

Ada berbagai kegiatan ekonomi kreatif warga di Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang seperti pembuatan kuliner hingga beragam kerajinan.

Di Kali Pusur Klaten, River Tubing Bisa Bayar Pakai Sampah

River tubing atau susur sungai di Kali Pusur, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten bisa dilakukan hanya dengan membayar menggunakan sampah.

Dari Polanharjo hingga Tulung, Ini Deretan Wisata Air Alami di Klaten

Kecamatan Polanharjo di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah bisa disebut sebagai gudangnya wisata air yang memanfaatkan sumber mata air alami.

Menjelajah Jejak Peradaban Hindu-Budha di Dataran Tinggi Boyolali

Menjelajah jejak peradaban Hindu-Budha di dataran tinggi Boyolali.

Menarik, Belanja Bisa Lanjut Wisata Tubbing dan Petik Buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Belanja bisa melanjutkan wisata tubbing dan petik buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Asa Seribuan Pembatik di Desa Wisata Batik Girilayu Karanganyar Dongkrak Perekonomian

Harapannya pemerintah memberikan perhatian dan minat khusus sehingga Desa Wisata Batik Girilayu bisa meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.

Kisah Perjalanan Batik Girilayu Hingga Jadi Produk Khas Karanganyar

Kampung Batik Girilayu berbenah perlahan setelah tumbuh pengusaha baru batik, dimulai dari pembentukan kelompok.

Belanja Makin Asyik Pakai Koin Gerabah di Pasar Pinggul Klaten

Pasar ini hanya digelar sekali dalam selapan (35 hari), yakni Minggu Legi dengan jam buka relatif singkat, mulai pukul 05.30 WIB-10.00 WIB.

Intip Keunikan Pasar Jadul Ciplukan Karanganyar, Pakai Ketip Buat Transaksi Jual Beli

Pasar Ciplukan yang berjarak 15 kilometer atau 28 menit berkendara dari pusat Kabupaten Karanganyar berada di bawah pengelolaan Desa Wisata Lembah Dungde (WLD).

Foto-Foto Pasar Wisata Unik Di Soloraya

Sejumlah pasar wisata bermunculan di wilayah Soloraya dengan menawarkan makanan tradisional, dan lain-lain dengan alat pembayaran unik.