Tutup Iklan

Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Mengulik Legenda Bandung Bondowoso di Balik Eksotisme Candi Sewu

Meski namanya Candi Sewu, sebenarnya jumlah candinya tidak benar-benar ada 1.000 buah, melainkan 249 bangunan yang terdiri dari 1 candi utama, delapan candi penjuru, dan 240 candi perwara.

 Kompleks Candi Sewu di Kecamatan Prambanan, Klaten. (Instagram)

SOLOPOS.COM - Kompleks Candi Sewu di Kecamatan Prambanan, Klaten. (Instagram)

Solopos.com, KLATEN — Legenda Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Hikayat ini sering kali dikaitkan dengan Candi Sewu yang berlokasi di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Namun ternyata tidak ada keterkaitan antara Candi Sewu dengan legenda tersebut. Tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja, Chelin Indra Sushmita dan Adhika Ali (Dhika) berkesempatan mengeksplorasi keindahan dan mengulik sejarah candi Buddha terbesar kedua di Jawa Tengah itu, Jumat (9/4/2021).

Jarak antara Candi Sewu dengan hotel tempat kami menginap di Jalan Raya Jogja-Solo Km 1, Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, cukup dekat, sekitar 1,5 km.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Serunya Mengeksplorasi Keindahan Candi Prambanan hingga Candi Sewu

Lokasi candi tersebut juga berdekatan dengan Stasiun Brambanan yang menjadi salah satu pemberhentian KRL Solo-Jogja. Candi Sewu terletak di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan.

Lokasinya berada di ujung paling utara taman wisata, sehingga cenderung sepi pengunjung karena jarak tempuh yang cukup membuat kaki terasa pegal. Meski demikian, masih ada beberapa turis lokal yang begitu antusias mengeksplorasi candi yang belum sepenuhnya selesai dipugar itu.

Bangunan Candi

Saat masuk ke area Candi Sewu, kami “disambut” dua arca Dharapala di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Candi Sewu ini merupakan candi berlatar agama Buddha terbesar kedua di Jawa Tengah yang dibangun pada abad ke-VIII Masehi.

Meski namanya Candi Sewu, sebenarnya jumlah candinya tidak benar-benar ada 1.000 buah, melainkan 249 bangunan yang terdiri dari 1 candi utama, delapan candi penjuru, dan 240 candi perwara. Rangkaian 249 candi ini membentuk denah mandala, yaitu perwujudan alam semesta dalam kosmologi Buddha Mahayana.

Sejarah Candi Sewu
Sejarah Candi Sewu (Solopos-Chelin Indra Sushmita)

Selain itu terdapat delapan Arca Dwarapala Sang Penjaga. Candi Sewu merupakan candi induk yang dikelilingi empat candi penjuru dari empat arah mata angin. Tetapi sampai saat ini baru dua candi penjuru saja yang bisa dideteksi, yakni Candi Bubrah di sebelah selatan dan Candi Ghana di sisi timur.

“Candi Sewu ini posisinya berada di tengah. Di luar kompleks ini ada empat candi penjuru yang mengelilinginya persis dari arah mata angin. Sebelah selatan ada Candi Bubrah dan Candi Ghana di sisi timur. Kalau yang di utara dan barat belum ditemukan, tetapi biasanya disebut Candi Lor dan Kulon,” terang Gatot Eko, Kepala Unit Candi Sewu, Lumbung, Bubrah, dan Ghana, kepada saya.

Baca juga: KCI Luncurkan KMT KRL Edisi Solo, Ada Gambar Mangkunegaran dan Tugu Pemandengan

Selayaknya candi pada umumnya, Candi Sewu ditemukan dalam keadaan tidak utuh. Jadi, kami pun melihat masih ada banyak reruntuhan candi di sekitar Candi Sewu. Sampai saat ini baru 22 bangunan candi di Candi Sewu yang selesai dipugar alias dikembalikan seperti bentuk aslinya.

Hikayat Bandung Bondowoso

Kompleks Candi Sewu yang terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, ini sarat akan nilai sejarah. Candi ini diperkirakan dibangun tidak dalam satu periode. Berdasarkan Prasasti Kelurak, candi ini mulai dibangun sekitar tahun 782 M.

Periode kedua pembangunan candi ini diperkirakan terjadi pada 792 M berdasarkan Prasasti Manjusringrha. Penamaan Candi Sewu kemungkinan berasal dari kebiasaan penyebutan orang zaman dulu saat melihat bangunan candi yang begitu banyak.

“Kemungkinan karena melihat banyak bangunan candi, maka disebut Candi Sewu. Walaupun sebenarnya jumlahnya tidak benar-benar 1.000, tetapi 249 candi,” sambung Gatot.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Berbagi Kasih nan Romantis di KRL Solo-Jogja

Selama ini Candi Sewu dan Prambanan sering kali dikaitkan dengan legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Konon, Candi Sewu dibangun oleh Bandung Bondowoso sebagai syarat menikahi Roro Jonggrang. Namun, sampai saat ini sejumlah hasil penelitian dan sumber ilmiah lainnya tidak membuktikan hal tersebut.

“Berdasarkan sumber ilmiah akademis, Candi Sewu ini tidak mungkin didirikan dalam waktu semalam. Periodisasi pembangunannya tercatat dalam dua prasasti. Jadi kemungkinan Candi Sewu ini tidak dibangun oleh Bandung Bondowoso. Tetapi memang cerita itu menjadi produk budaya sekaligus kearifan lokal,” tutur Gatot.

Demikian pula dengan cerita Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi batu oleh Bandung Bondowoso karena bermuslihat, sampai saat ini belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Drama Es Teh Kampul di Soto Lenthok Pasar Lempuyangan Jogja

Selama ini menurut cerita yang berkembang, Roro Jonggrang dikutuk menjadi batu untuk melengkapi 1.000 candi yang dibangun Bandung Bondowoso dan letaknya diyakini berada di Candi Prambanan.

“Kalau ada cerita Roro Jonggrang dikutuk jadi batu kemudian melengkapi candi yang diyakini berada di Candi Prambanan itu juga belum dapat dipastikan kebenarannya. Karena yang dianggap sebagai arca Roro Jonggrang di Candi Prambanan itu sebenarnya arca Dewi Durga,” kata Gatot menjelaskan sejarah Candi Sewu dan Prambanan kepada saya.

Dia menambahkan berdasarkan prasasti yang ada, Candi Sewu dibangun selama 10 tahun dan mengalami perkembangan arsitektur. Dikutip dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, candi ini termasuk dalam daftar warisan dunia UNESCO No. 246. Hal ini merupakan bukti pengukuhan dunia internasional terhadap kompleks Candi Sewu sebagai aset budaya.

Toleransi Umat Beragama

Saya melihat ada hal unik yang sarat nilai luhur dari Candi Sewu dan Prambanan yang berada dalam satu kompleks. Kedua candi besar sini merupakan bangunan suci dua agama yang berbeda. Candi Sewu bercorak Buddha, sementara Prambanan berlatar Hindu. Namun, kedua candi ini berada dalam kompleks yang sama dengan jarak sekitar 800 meter.

Hal ini merupakan salah satu contoh luhur dan bukti sejarah tentang toleransi antar-umat beragama pada masa itu. Sampai saat ini kompleks Candi Sewu masih dipakai untuk beribadah, khususnya saat mempeeringati Hari Raya Waisak.

candi sewu
Tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja, Chelin Indra Suhsmita, berpose di Candi Sewu. (Solopos-Adhika Ali)

Kompleks Candi Sewu berada di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Demikian pula tiga candi lainnya, yakni Candi Bubrah, Candi Lumbung, dan Candi Ghana. Sementara Candi Prambanan dikelola Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.

Meski demikian semua candi tersebut dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Prambanan, sehingga jalur masuknya melalui Taman Wisata Candi Prambanan.

Taman wisata ini menempati area seluas 80 hektare dengan harga tiket masuk terusan Rp50.000. Asyik bukan sekali piknik lima candi terlampaui?

Baca juga: Makin Diminati, Jumlah Pengguna KRL Jogja – Solo Melonjak

Siapkan stamina dan tenaga ekstra jika ingin berjalan-jalan ke Candi Prambanan hingga ke Candi Sewu, apalagi kalau mau ditempuh dengan jalan kaki. Dijamin pegal, tetapi pengalaman yang didapat tentu sangat berkesan, seperti yang saya rasakan hari ini.

Bagi kaum mageran jangan khawatir, kalian bisa menumpang kereta mini atau menyewa mobil golf untuk berkeliling area Taman Wisata Candi Prambanan. Menyenangkan ya… Nah kalau kalian ingin berwisata sejarah ke sini caranya cukup mudah. Cukup menumpang KRL Solo-Jogja dan turun di Stasiun Brambanan, kemudian sambung dengan ojek online ke Taman Wisata Candi Prambanan yang berada di wilayah otoritatif Badan Otorita Borobudur.

Selesai berwisata ke candi, perjalanan tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja yang digelar Solopos bersama  PT KAI CommuterBadan Otorita Borobudur (BOB), dan Perum Perumnas masih berlanjut. Kami akan mengajak kalian semua jalan-jalan ke berbagai destinasi wisata menarik lainnya. Ikuti terus perjalanan kami… See you guys..


Berita Terkait

Berita Terkini

Menikmati Keindahan Alam di Sibajag Green Canyon, Berasa di Jepang Hlo!

Tempat ini unik karena terdapat jembatan bambu super panjang yang dihiasi pohon sakura khas Jepang. jembatan ini menjadi spot utama para wisatawan untuk berswafoto.

Girpasang, Pesona Kampung Terisolir di Lereng Merapi

Kampung terisolasi di lereng Gunung Merapi, Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, menjadi magnet orang-orang karena panorama alam dipadu kearifan lokal.

Glamour Camping di Lawu Park Tawangmangu, Cara Kemah Semewah Hotel

The Lawu Park memiliki fasilitas glamour camping untuk para wisatawan yang ingin berkemah di alam namun tetap mewah dan tak perlu repot.

Mengintip Koleksi Jarik Waldjinah di Museum Batik Walang Kekek Solo

Koleksi kain jarik milik maestro keroncong Waldjinah yang indah dapat dilihat di Museum Batik Walang Kekek di Solo.

Eksotis & Elegan, Museum Tumurun di Solo Suguhkan Masterpiece Seniman Top Indonesia

Keberadaan Museum Tumurun menjadi penanda bangkitnya seni rupa di Kota Solo, Jawa Tengah,

Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama

Kota Semarang memiliki kampung batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, dengan pengrajin batik yang mulai tumbuh.

Penampakan Kafe Jamu Nguter Sukoharjo, Tempat Nongkrong Cozy Dengan Minuman Menyehatkan

Kafe Jamu Nguter di dekat Pasar Nguter Sukoharjo menawarkan minuman tradisional yang menyehatkan dengan tempat yang cozy dan modern.

Sajikan Rasa Dan Nama Kekinian, Kafe Jamu Nguter Sukoharjo Digandrungi Milenial

Kafe Jamu di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, menyediakan aneka minuman jamu dengan rasa dan nama unik serta kekinian guna menarik kaum milenial.

Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe

Industri jamu Nguter, Sukoharjo, telah melewati perjalanan panjang mulai dari produksi dengan pemasaran menggunakan jamu gendong hingga kafe.

Uniknya Kerajinan Limbah Organik, Suvenir Khas Desa Wisata Kandri

Ada berbagai kegiatan ekonomi kreatif warga di Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang seperti pembuatan kuliner hingga beragam kerajinan.

Di Kali Pusur Klaten, River Tubing Bisa Bayar Pakai Sampah

River tubing atau susur sungai di Kali Pusur, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten bisa dilakukan hanya dengan membayar menggunakan sampah.

Dari Polanharjo hingga Tulung, Ini Deretan Wisata Air Alami di Klaten

Kecamatan Polanharjo di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah bisa disebut sebagai gudangnya wisata air yang memanfaatkan sumber mata air alami.

Menjelajah Jejak Peradaban Hindu-Budha di Dataran Tinggi Boyolali

Menjelajah jejak peradaban Hindu-Budha di dataran tinggi Boyolali.

Menarik, Belanja Bisa Lanjut Wisata Tubbing dan Petik Buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Belanja bisa melanjutkan wisata tubbing dan petik buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Asa Seribuan Pembatik di Desa Wisata Batik Girilayu Karanganyar Dongkrak Perekonomian

Harapannya pemerintah memberikan perhatian dan minat khusus sehingga Desa Wisata Batik Girilayu bisa meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.

Kisah Perjalanan Batik Girilayu Hingga Jadi Produk Khas Karanganyar

Kampung Batik Girilayu berbenah perlahan setelah tumbuh pengusaha baru batik, dimulai dari pembentukan kelompok.