Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Drama Es Teh Kampul di Soto Lenthok Pasar Lempuyangan Jogja
Soto lenthok khas Jogja (Solopos/Chelin Indra Sushmita).

Solopos.com, JOGJA -- Deru mesin dan klakson kereta api terdengar riuh di Stasiun Lempuyangan, Jogja. Sejumlah penumpang berlalu lalang masuk maupun keluar stasiun. Stasiun ini menjadi tujuan beberapa pelaju dari Kota Solo dan sekitarnya yang bekerja atau kuliah di Jogja.

Setelah dari stasiun mereka biasanya menumpang bus Transjogja maupun ojek online untuk mengantar ke tujuan selanjutnya. Di stasiun yang menjadi salah satu stasiun pemberhentian KRL inilah, kami tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja, Chelin Indra Sushmita dan Adhika Ali (Dhika) mengawali perjalanan jelajah Jogja.

Kamis (8/4/2021) pagi ini kami mengawali perjalanan dengan berolahraga ringan, berjalan kaki ke Pasar Lempuyangan untuk berburu kuliner lezat buat sarapan. Jarak Stasiun Lempuyangan ke Pasar Lempuyangan cukup dekat, hanya lima menit dengan berjalan kaki sembari menyaksikan geliat ekonomi masyarakat di sekitar stasiun.

Baca juga: Awas! Perselingkuhan Bisa Berawal dari Sini

Di sepanjang jalan kami ditawari jasa rental sepeda motor oleh sejumlah orang. Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai Rp60.000-an untuk 24 jam. Menyenangkan rasanya jalan-jalan ke Jogja naik KRL, lalu disambung keliling kota dengan sepeda motor. Wis cah Jogja banget lah..

Berbicara tentang kuliner di Kota Jogja, tentu tidak akan ada habisnya. Maklumlah, Jogja merupakan salah satu surga kuliner lezat dan murah meriah. Nah, untuk mengawali Ekspedisi KRL Solo-Jogja ini, kami memilih mengisi perut di warung Soto Lenthok Pak Min yang lokasinya berada di depan Pasar Lempuyangan.

Dari kejauhan kami melihat warung ini begitu ramai. Tangan lincah si pedagang tak henti-hentinya menyiapkan pesanan pelanggan. Seperti sedang menari saja saking cepatnya gerakan tangan itu.

Baca juga: Ini Bocoran Ikatan Cinta 8 April 2021: Semakin Pelik, Al dan Andin Kalah dengan Tipu Daya Elsa

Lenthok khas Jogja yang bisa ditemukan saat menyantap Soto Lenthok di Pasar Lempuyangan, Jogja. Kuliner ini menjadi sarapan istimewa tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja, Kamis (8/4/2021). (Solopos/Chelin Indra Sushmita).

Kuah Soto Lenthok

Tak butuh waktu lama, seporsi soto yang kami pesan tersaji di meja. Sekilas memang soto ini tidak berbeda jauh dengan soto yang dijual di Solo. Ciri khasnya adalah berkuah bening dengan cita rasa gurih.

Bedanya, kuah soto lenthok Jogja terbuat dari campuran daging ayam kampung dan tetelan. Seporsi soto ini terdiri dari nasi, sohun, suwiran daging ayam, irisan kol, tauge, serta tidak ketinggalan lenthok khas Jogja yang kemudian disiram kuah bening.

Lenthok menjadi ciri khas soto ayam di Pasar Lempuyangan ini. Lenthok adalah perkedel yang terbuat dari ketela pohon atau singkong dengan bumbu bawang putih, garam, serta merica. Perpaduan rasa lenthok yang gurih dengan kuah soto hangat membuat cita rasa makanan ini semakin sempurna.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja Dimulai Hari Ini, Yuk Ikuti Keseruannya…

Sotonya sih lezat, hanya saja kami sempat mengalami miskomunikasi dengan si pelayan yang tampak kebingungan saat saya menyampaikan pesanan Dhika berupa es teh kampul. "Mas, minumnya es teh tawar satu, es teh kampul satu," kata saya menjawab pertanyaan si pelayan.

Tetapi, pesanan saya justru membuat dia bengong. Saya sih awalnya tidak begitu memerhatikan kalau si pelayan tidak paham maksud es teh kampul pesanan saya itu. Kalau di Solo, es teh kampul adalah sebutan untuk lemon tea alias teh jeruk. Para pedagang minuman di Solo biasa menyajikan es teh dan memasukkan irisan jeruk peras beserta kulitnya ke dalam gelas tanpa perlu diperas airnya.

Namun istilah es teh kampul ternyata asing di telinga orang Jogja. Dan benar saja, si pelayan menyajikan satu es teh tawar pesanan saya dan es teh manis untuk Dhika. Seketika itu saya pun manggut-manggut dan terkekeh. "Sepertinya memang es teh kampul cuma ada di Solo," kata saya kepada Dhika yang disambut senyuman.

Baca juga: Suku Samin, Masyarakat Pedalaman Adat Blora Pemegang Teguh Tradisi

Akhirnya drama es teh kampul pun berakhir saat Dhika memasukkan irisan jeruk nipis ke dalam gelas es teh. Ini bisa jadi catatan di perjalanan Ekspedisi KRL Solo-Jogja kami selanjutnya jika hendak memesan es teh kampul, maka lebih baik disampaikan dengan istilah es teh jeruk.

Kembali lagi pada soto lenthok, warung yang kami datangi berlokasi di area parkir utama Pasar Hayam Wuruk. Lokasinya sangat mudah diakses bahkan dengan berjalan kaki dari Stasiun Lempuyangan.

Warung Soto Lenthok Pak Min ini buka sejak 21 tahun lalu yang kini dikelola oleh Edi, generasi kedua penerus Soto Pak Min. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB hingga siang hari. Warung ini selalu ramai pembeli hingga mampu menjual hingga ratusan porsi setiap hari.

Baca juga: Jos! Generasi Milenial Klaten Kembangkan Alga Demi Dukung Ketahanan Pangan

Bagian depan Pasar Lempuyangan, Jogja, Kamis (8/4/2021). (Solopos/Chelin Indra Sushmita).

Wisata Kuliner Pasar Lempuyangan

Harga seporsi soto lenthok ini cukup terjangkau, hanya Rp10.000 saja. Ada aneka lauk tambahan berupa lenthok, sate ayam, serta kerupuk yang bisa dinikmati sebagai teman makan soto.

Selain soto, ada juga aneka pedagang kuliner lain di Pasar Lempuyangan, salah satunya cenil di bagian dalam pasar. Ada juga aneka makanan khas Jogja lainnya seperti gudeg yang dijajakan di sepanjang jalan menuju Pasar Lempuyangan. Pada malam harinya halaman parkir pasar itu berubah menjadi sentra kuliner.

Baca juga: Bolehkah Mencium Istri Saat Puasa Ramadan?

Sarapan pagi di pasar tradisional menjadi salah satu hal menyenangkan dalam perjalanan Ekspedisi KRL Solo-Jogja yang digelar Solopos bersama PT KAI Commuter, Badan Otorita Borobudur (BOB), dan Perum Perumnas ini. Bukan hanya menyantap makanan khas kota tertentu, pasar tradisional adalah salah satu pusat perekonomian masyarakat yang tak pernah mati. Para pedagang hingga pengamen bergelut mencari penghidupan di sana.

Sesekali para pedagang datang menghampiri kami yang tengah khusyuk menikmati makanan untuk menawarkan barang dagangan yang mereka bawa. Demikian pula para pengamen yang silih berganti menghibur pengunjung berbekal gitar dan suara pas-pasan asal seru dan gayeng. Mantap deh wisata kuliner murah di Jogja pagi ini.

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom