Ekspedisi Energi 2021 Berikan 9 Rekomendasi Ini untuk Pemerintah

Bila berbicara ekonomi, dua hal utamanya yaitu pangan dan energi dan ekspedisi dilakukan untuk memotret peta energi di Jateng.

Kurniawan
Jumat, 22 Oktober 2021 - 20:25 WIB

SOLOPOS.COM - Tangkapan layar Talkshow Virtual Launching Buku dan Rekomendasi Energi 2021 ditayangkan akun Youtube Solopos TV, Jumat (22/10/2021) pagi.

Solopos.com, SOLO — Kegiatan Ekspedisi Energi 2021 yang dilakukan Tim Solopos pada 11-14 Agustus 2021 menghasilkan sembilan rekomendasi untuk pengembangan dan pelestarian potensi energi di Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Penjelasan itu disampaikan Presiden Direktur Solopos Media Group, Arif Budisusilo, saat menjadi salah satu pembicara Talkshow Virtual Launching Buku dan Rekomendasi Energi 2021, Jumat (22/10/2021) pagi.

Arif menjelaskan bila berbicara ekonomi, dua hal utamanya yaitu pangan dan energi. Ekspedisi dilakukan untuk memotret peta energi di Jateng. “Kita ingin memotret seperti apa, kesiapannya sejauh apa, dalam rangka memanfaatkan momentum recovery ekonomi. Terbukti ketika belakangan dunia restart ekonomi negara-negara mengalami krisis energi,” ujar dia.

Baca juga: Ekspedisi Energi 2021: Setwan Jateng Hemat 30% dari Panel Surya

Arif menjelaskan jelajah potensi energi di Jateng untuk melihat sejauh mana keberlanjutannya di masa depan. Apakah Indonesia mampu menjaga keberlanjutan semua potensi energi yang ada secara komprehensif.

“Bagaimana melihat energi baru dan terbarukan di Jateng, serta aktivitas pelestarian lingkungan di sekitarnya. Dari ekspedisi ini kami memberikan rekomendasi pengelolaan energi di Jateng secara optimal,” tutur dia.

Pemulihan Ekonomi Pascapandemi

Rekomendasi pertama terkait pengembangan industri. Mau tidak mau energi dibutuhkan dalam pemulihan ekonomi pascapandemi. Pengembangan industri energi harus dilakukan supaya pasokan lebih baik di Jateng.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Geo Dipa Energi, BUMN Pengelola Energi Panas Bumi di Dieng

Rekomendasi kedua terkait potensi energi gas rawa seperti di Grobogan, yang perlu dimanfaatkan untuk pengelolaan di lingkungan sekitar. Tentunya dengan bantuan teknologi dan fasilitasi dari jajaran pemerintah.

“Bila memungkinkan, menurut Arif, Pemprov Jateng bisa menggandeng investor dalam pemanfaatan potensi energi gas rawa. Namun dalam prosesnya tentu harus melalui kajian mendalam. Harus ada kajian,” kata dia.

Dalam pengembangan potensi gas rawa tersebut menurut Arif bisa dilakukan dengan bersinergi bersama berbagai pihak. Seperti dalam pengembangan desa wisata maupun desa mandiri energi di kawasan tersebut. Dan yang tidak kalah penting pengembangan potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat.

Baca juga: Ini Deretan Pengembangan Sumber Energi Baru Terbarukan di Jawa Tengah

Sedangkan Kepala Dinas ESDM Jateng, Sujarwanto, mengapresiasi Ekspedisi Energi 2021 oleh Tim Solopos yang telah melahirkan sembilan rekomendasi bagi pemanfaatan dan pengembangan potensi energi di Jateng.

Sebab, menurut dia, dari ekspedisi yang singkat mampu menghasilkan rekomendasi yang tepat sasaran di tengah kebutuhan optimalisasi potensi energi nasional, apalagi di tengah perkembangan kondisi global.

“Dalam konteks kecukupan hari ini juga harus sustain ke depan. Kondisi global membuat kita berpikir mereduksi emisi karbon, dan mahalnya minyak, batu bara, meningkatkan kesadaran energi milik kita,” kata dia.

Berikut 9 Rekomendasi Ekspedisi Energi 2021:

1. Pengembangan industri di Jateng membutuhkan pasokan energi dalam bentuk gas yang merata. Diharapkan distribusi gas (jaringan gas maupun CNC) bisa lebih merata sehingga mengkaver industri di wilayah selatan Jawa.

2. Jateng memiliki potensi gas rawa yang melimpah, seperti tergambar di Desa Rajek, Kecamatan Godong, Grobogan, Jateng. Jateng perlu memaksimalkan potensi gas rawa tersebut secara komprehensif.

3. Program sinergi memanfaatkan gas rawa seharusnya dikembangkan di lokasi potensial lain, tak hanya di Desa Rajek. Pengembangan bisa disinergikan dengan membangun desa wisata atau desa mandiri energi yang berpotensi menarik wisatawan.

4. Jateng perlu memaksimalkan pemanfaatan sumber energi panas bumi untuk menopang ketersediaan energi hijau di Jateng. Ada sekitar 14 sumber energi panas bumi di Jateng yang bisa dimanfaatkan.

5. Pekerjaan rumah lainnya dalam pengembangan energi panas bumi adalah memahamkan masyarakat mengenai penyediaan energi.

6. Jateng perlu memaksimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

7. Pengembangan EBT dinilai mudah dilakukan masyarakat secara bersama-sama khususnya di daerah yang belum terakses layanan listrik. Dalam kondisi ini, salah satu yang sangat dibutuhkan masyarakat adalah dukungan teknologi. Sharing teknologi tepat guna perlu dilakukan demi memastikan layanan energi tersedia untuk semua.

8. Jateng perlu memaksimalkan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan mikro masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Sedangkan untuk kebutuhan skala besar khususnya untuk industri yang mulai berkembang, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya harus mempertimbangkan kapasitas listrik milik PLN yang masih surplus hingga 29,9%.

9. Pengembangan energi di Jateng dan sekitarnya harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif