Mursito B.M./Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Dalam beberapa kesempatan saya mendapat pertanyaan yang sama: Kenapa saya masih membaca koran? Sesungguhnya ini mempertanyakan pada zaman seperti ini kok masih membaca koran.

”Zaman seperti ini” adalah zaman ketika banyak sumber informasi bisa diakses dengan sangat mudah: Internet. ”Pertanyaan” itu mengungkap pokok permasalahan yang dihadapi media cetak dalam mempertahankan eksistensi dan posisi.

Publik mulai meninggalkan media cetak, beralih ke media daring. Publik mulai akrab dengan jurnalisme online, mulai terbiasa dengan format pemberitaan berbeda. Tumbuh “budaya media” baru berbasis online, budaya yang didukung teknologi digital dan tumbuhnya kebiasaan mengakses informasi dari media daring.

Dulu publik secara pasif menerima informasi dari media cetak atau televisi. Kini publik aktif mencari informasi dengan mengakses media daring. Perangkat keras yang berperan besar mendukung budaya media ini datang dari benda yang selalu di tangan: telepon seluler (ponsel).

Kita bisa membaca ”koran” atau membaca ”buku” melalui layar monitor ponsel. Dengan ponsel kita memperoleh kemudahan penggunaan waktu dan tempat: kita bisa mengakses kapan saja, di mana saja, sesuai kebutuhan kita–anytime, anywhere.

Ketika media cetak terbit pada awal kemerdekaan, kita mulai ”belajar” membaca. Kita mencoba meningkatkan kemampuan membaca media cetak dengan menjadikan sebagai kebiasaan, kita sebut budaya membaca. Sebelum terbentuk budaya membaca, datang radio, disusul televisi.

Publik beralih ke sana sebelum budaya membaca terbentuk. Sekarang kita menerima media yang lebih baru lagi, media online. Budaya media baru yang merupakan sinergi teknologi digital dan ponsel semakin menjauhkan kita dari budaya membaca.

Perilaku menggunakan ponsel ini perlu mendapat catatan. Dengan aplikasi Whatsapp (WA), contohnya, orang tak terpisahkan dari ponsel. Ponsel adalah ”di mana saja, kapan saja, dan siapa saja.” Industri ponsel sukses untuk dua hal: ”menyerang” waktu produktif  dan menjadikan aktivitas komunikasi sebagai hiburan.

Diskursus Dimakamkan

Orang berkomunikasi dengan kalimat semakin berkurang. Diskursus dimakamkan. Ini diikuti berkembangnya proses figurative dari penandaan budaya, kata Robert Dunn, seorang peneliti postmodern. Orang lebih suka menggunakan meme, tagar, slogan, emoticon, ketimbang berbahasa dengan kalimat.

Fenomena-fenomena ini membuktikan medium, atau teknologi media, membingkai perilaku komunikatif kita. Format dan style kita menulis artikel di koran berbeda dengan menulis di jurnal ilmiah dan berbeda pula dengan menulis pesan di aplikasi WA. Format media cetak berbeda dengan format media daring. The media is the message, kata McLuhan, seorang pakar komunikasi.

Hampir semua perusahaan media mengembangkan konvergensi teknologi komunikasi, yakni multimedia, multiplatform, multichannel. Konvergensi ini memungkinkan sebuah presentasi, format berita contohnya, bisa disalurkan berbagai channel dalam jaringan perusahaan media itu.

Media bekerja dengan teknologi digital. Digitalisasi memungkinkan sebuah informasi tidak melekat dengan sumbernya. Jika seorang wartawan mengetik dengan mesin ketik manual, tulisan itu melekat di kertas, tidak bisa “dicopot” untuk dipindahkan ke medium lain. Jika wartawan mengetik di komputer, hasil ketikan itu bisa digunakan ke pelbagai medium lain.

Sekali sebuah berita dibuat atau disusun, berita itu bisa “diletakkan” di pelbagai medium. Sekali “ketik” di komputer, sekali “jepret” atau “shoot” kamera, informasi itu bisa “diubah” menjadi berbagai format presentasi. Publik menjumpai banyak berita di satu media sama persis dengan berita di media lain dalam jaringan sebuah perusahaan.

Teknologi digital ini memang memudahkan wartawan. Sebuah berita yang dibuat bisa disalurkan ke banyak media, tapi ini membuat wartawan menjadi “malas,” malas bekerja di lapangan, malas menulis berita karya sendiri. Mereka cukup duduk di depan komputer sambil mengakses berita dari “teman-temannya.” Wartawan menjadi produktif, bukan banyak karya berita tapi banyak kopian berita.

Jurnalisme

Sejak semula kita tahu publik media kurang kuat minat membacanya, serta tidak suka diskursus. Media cetak menjawab dengan menulis berita pendek-pendek, tapi bukan dipendek-pendekkan. Kebijakan ini tidak perlu diubah, tapi perlu diingat roh berita adalah fakta, maka model penulisan berita seperti apa pun jangan sampai mengurangi kadar fakstisitasnya.

Publik sekarang juga tidak menyukai gaya tulisan yang serius, pekat, lebih menyukai yang “menghibur.” Banyak media menjawab dengan berita yang menghibur,  seperti yang terlihat di infotainment televisi, tapi media cetak bukan media penghibur.

Media cetak tidak perlu terjebak dalam model berita infotainment. “Hiburan” media cetak terbatas pada berita yang “enak dibaca dan perlu.” Kedalaman, itulah krisis yang dialami media cetak. Cara ideal untuk menulis berita dengan kedalaman adalah investigative reporting, tapi itu terlalu mahal.

Alternatifnya, media perlu memperketat penerapan prinsip kelengkapan dan akurasi dalam penulisan berita. Jangan sampai kata ”digenangi” diganti ”dikepung” dalam kalimat “Jakarta digenangi banjir.” Ini sekadar contoh, masalah diksi.

Kebanyakan hoaks dibuat dan disiarkan oleh media yang berbasis Internet, sedang media cetak tak pernah dengan sengaja melakukan. Ini yang membuat media cetak masih memiliki kredibilitas.

Artinya media cetak masih menjaga nilai-nilai kebenaran. Media tahu betul bagaimana menjaga nilai-nilai kebenaraan ini, tahu menjaga objektivitas, independensi, netralitas, cover both side. Selamat ulang tahun Solopos...

 

 

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten